Ada orang Islam yang berpendapat bahwa mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani hukumnya haram. Tetapi sebetulnya, ada lebih banyak muslim yang membolehkan. Prof. Dr. Ahmad el-Tayeb, Imam Besar Universitas al-Azhar Mesir, misalnya, selalu hadir dalam perayaan Natal umat Kristen Koptik, bersilaturahmi dan menyampaikan selamat kepada Paus Tawadrous II.

Memang, di beberapa negara Timur-Tengah seperti Mesir, Suriah, Lebanon, Irak, Qatar, Kuwait, Turki, dan lain-lain di bulan Desember suasana Natal begitu terasa.

Ketua Asosiasi Ulama Islam se-Dunia, Syaikh Dr. Yusuf al-Qaradawi, juga membolehkan seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal, terlebih kepada orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, tetangga, teman-teman kuliah atau rekan kerja.

Menurutnya, ucapan Natal kepada mereka merupakan bentuk kebaikan. Allah SWT tidak melarang, bahkan senang, jika kita melakukan kebaikan dan bertindak adil. Said Ramadhan al-Buthi ulama kenamaan Suriah, hingga Gus Dur dan Prof. Quraish Shihab dari Indonesia, juga termasuk ke dalam golongan ulama yang membolehkan memberikan ucapan Selamat Natal.

Bagi kubu yang mengharamkan, menyampaikan Selamat Natal, katanya akan secara otomatis membuat yang mengucapkannya menjadi Kristen. Saya menanggapi hal tersebut dengan selorohan, bahwa pada setiap tanggal 10 Nopember saya selalu mengucapkan Selamat Hari Pahlawan, tapi sampai sekarang saya tidak menjadi Avengers. Saya juga mengucapkan selamat kepada teman saya yang lulus di fakultas kedokteran, dan saya tidak otomatis jadi dokter.

Padahal, untuk jadi orang kristen itu susah. Butuh waktu lama belajar, lalu dibaptis. Saya mengetahui ini, karena di beberapa gereja saya pernah mengajar katekisasi, termasuk di jemaat GKI. Waktu mengundang saya, pendeta umumnya bilang, “Agar menjadi Kristen yang baik, umat kami harus mengetahui Islam yang baik, karena sampai seterusnya kita akan hidup bertetangga.

Nah, namanya bertetangga, tatkala tetangga kita sedang bergembira, masa kita tidak boleh ikut bergembira? Saya mengucapkan Selamat Natal, itu dalam rangka saya turut bergembira terhadap tetangga atau sahabat saya yang sedang bergembira.

Sama halnya ketika ada teman kita yang berulang tahun, dia merasa bersyukur, bergembira, dan merayakannya, lalu kita mengucapkan selamat dan turut bergembira, apa tidak boleh? Apakah teman kita itu betul-betul lahir di tanggal, bulan, dan tahun sekian, kita tidak pernah sempat mengeceknya.

Lagi pula, masa saat akan mengucapkan selamat ulang tahun, kita harus terlebih dahulu memeriksa berkas-berkas akte kelahirannya. Memangnya kita petugas kecamatan?

Lebih dari itu, saya menganggap tetangga saya yang Kristen itu partner, mitra dalam melakukan dan mengembangkan kebaikan. Karena tidak ada agama manapun yang mengajarkan keburukan.

Sebagai pendakwah dalam agama Islam, saya harus mendorong saya sendiri dan umat Islam selalu saleh/baik/taat dalam keislamannya, serta sekaligus mendorong agar tetangga saya yang beragama Kristen juga harus saleh/baik/taat dalam kekristenannya.

Karena jika saya tidak saleh dalam keislaman saya dan saya jadi penjahat, mungkin tetangga saya yang Kristen itulah yang jadi korbannya. Sebaliknya, jika tetangga saya yang Kristen itu tidak saleh dalam Kekristenannya, kemudian ia jadi penjahat, tidak menutup kemungkinan, saya calon korbannya.

Jadi sebagai tetangga, agar tidak ada keburukan diantara kita, sebaiknya kita saling mendorong agar masing-masing menjadi orang baik.

Dalam konteks itulah saya selalu sedih jika mendengar kabar ada gereja yang ditutup oleh warga, orang Kristen tidak boleh merayakan Natal dan tidak diperkenankan berdoa di rumah. Bukankah gereja, natalan dan berdoa itu merupakan sarana agar orang-orang Kristen semakin saleh dalam kekristenannya? Sebagaimana orang Islam juga membutuhkan mesjid, merayakan Idul Fitri, puasa dan shalat agar hidupnya semakin saleh.

Itulah makna hakiki dari toleransi, saling menghargai satu sama lain agar menjadi saleh/baik dalam jalannya masing-masing. Sebagai orang Islam yang mendambakan kebaikan bersama, saya bersyukur atas lahirnya Yesus Kristus (atau Nabi Isa a.s dalam versi Islam), karena atas kehadirannya, kini 3 milliar penduduk bumi menjadi “followers”-nya, dan lebih memungkinkan untuk berbuat baik dalam Kekristenan.

Begitupun saudara-saudara saya yang Kristen, turut mensyukuri lahirnya Nabi Muhammad SAW, karena atas kehadirannya, kini 2,5 milliar penduduk bumi berpeluang baik dalam keislamannya.

Bagi saya haram itu mungkin bukan mulut yang mengucapkan Selamat Hari Natal, tapi mulut yang menyakiti hati orang lain.

Penulis: Wawan Gunawan (Sekretaris Lakpesdam NU Jawa Barat, Presidium Jaringan Kerja Antar Umar Beragama)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.