Pemuda itu mengaku sudah lama menaksir tetangganya. Montir di pinggir jalan mengaku bisa, tetapi mobil yang diperbaikinya malah menjadi lebih rusak. Maling itu akhirnya mengaku. Saksi di pengadilan mengaku lupa. Kita mengakui keberadaan Republik Timor Leste. Dua orang anak mengakui kelereng yang hanya satu itu sebagai miliknya.

Orang-orang itu mengaku bapak kepada pastor panti asuhan, dan pastor itu mengaku anak kepada mereka. Para donatur mengakui biaya pembagian buku. Tiap Minggu kita mengaku percaya di gereja. Pengusaha itu tidak mengakui bahwa desa ini dulu adalah kampung halamannya.

Sepuluh kalimat diatas memakai kata mengaku, namun artinya berbeda-beda. Mengaku bisa mempunyai banyak arti, misalnya menganggap diri, menerima, menyatakan, membenarkan, menyanggupi diri, melakukan sebagai, dan banyak lainnya.

Di Alkitab kata mengaku juga dipakai dengan banyak arti. Perjanjian Lama menggunakan verba dan nomina yadah dalam arti mengaku dosa. “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku…” (Mzm. 32:5). Pengakuan seperti ini berlanjut dengan rasa pujian dan syukur, sehingga dalam beberapa ayat lain, kata yadah yang sebenarnya mengaku juga diterjemahkan menjadi memuliakan atau mensyukuri.

Perjanjian Baru memakai kata exomologeo dan homologeo yang dalam tuturan sehari-hari berarti mengakui kenyataan, membenarkan, menyetujui, dan mengiyakan. Lalu Perjanjian Baru juga memakai verba mengaku dalam arti mengaku dosa.

Sebuah pemakaian arti yang khusus terdapat di surat-surat Paulus. Misalnya, “ … kai pasa glossa exomologesetai hoti kurios lesus Christos eis doxan Theou Patros.” Terjemahannya, “… dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:11).

Jika kita memerhatikan ragam kalimat “Yesus Kristus adalah Tuhan” di ayat tadi, sambil mengingat bahwa ayat/surat itu ditulis merupakan tahun 55, maka kita bisa menduga bahwa kalimat tersebut mungkin merupakan sebuah rumus pengakuan iman yang baru dikenal oleh gereja pada waktu itu. Mungkin itu adalah rumus pengakuan baptisan dan sangat mungkin itulah rumus pengakuan iman yang paling dini dalam pelajaran sejarah gereja.

Pergeseran makna terjadi lagi beberapa puluh tahun kemudian, ketika kitab-kitab Injil ditulis. Di situ untuk pertama kalinya tampak pemakaian verba mengaku sebagai verba transitif atau verba berobjek. Siapakah objeknya? Objeknya adalah Yesus.

Contohnya, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa yang menyangkal Aku…” (Mat. 10:32-33, TB2).

Arti itu menjadi lebih jelas karena dalam kedua ayat tadi ungkapan “mengakui Aku” dipertentangkan dengan verba “menyangkal Aku”.

Terdapat juga catatan bahwa beberapa orang mulai menyatakan diri mengakui Yesus. Petrus mengaku, “Engkau adalah Yang Kudus dari Allah!” (Yoh. 6:69). Tomas mengaku, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28). Beberapa rasul serempak mengaku, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah!” (Mat. 14:33).

Dari beberapa contoh itu tampak bahwa sejak abad pertama gereja mengaitkan verba mengaku dengan Yesus sebagai objek. Mereka mengaku Yesus sebagai Kristus (Yun. Khristos; lbr. Masyiakh atau Mesias), yang berarti Yang Diurapi.

Maksudnya, yang diurapi atau ditugaskan untuk mewakili Allah dalam menyelamatkan manusia. Dari situ lahir pengakuan bahwa Yesus adalah Juruselamat. Mereka juga mengaku Yesus sebagai Tuhan (Yun. Kurios, artinya yang dipertuan oleh kita, yang memiliki diri kita, atau yang memelihara kita).

Jadi, dari awal gereja sudah menyatakan pengakuan yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya yang beragam Yahudi (lih. “Apakah Pusat Iman Kristen?” dan “Yesus Kristus atau Kristus Yesus?” di Selamat Sehati).

Kembali ke verba mengaku. Apa akar kata mengaku? Akarnya adalah kata aku. Saat mengaku kita menyatakan akunya diri kita. Kita beraku. Kita mengakukan diri. Kita menjadi pengaku. Kita mengakukan dan mengakui identitas kita.

Pengakuan adalah perbuatan seorang aku atau seorang individu. Mengaku adalah perbuatan individual. Sementara itu, ada orang lain dalam komunitas kita yang isi pengakuannya sama dengan pengakuan kita. Maka, jadilah pengakuan itu perbuatan komunal. Oleh sebab itu, sejak abad pertama lahirlah pengakuan komunitas gereja.

Akan tetapi, sebagaimana tiap individu adalah aku yang berbeda, demikian juga tiap komunitas. Oleh sebab itu, tiap komunitas agama mempunyai pengakuannya masing-masing.

Pengakuan agama manakah yang paling benar? Tidak ada! Tidak ada agama yang paling benar. Tiap agama memandang kebenaran pengakuannya dari sudut pandangannya sendiri. Allah memang hanya satu, namun faset-Nya sangat beragam, sehingga Allah yang satu dan sama itu diakui secara berbeda.

Pengakuan tiap agama bersifat relatif. Artinya, kebenaran pengakuan itu tergantung dari siapa pengakuannya. Teologi dan pedagogi memakai polo pikir relativisme untuk memberi ruang bagi munculnya pengakuan pilihan atau pengakuan bandingan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Pengakuan selalu berbeda tergantung sudut pandang komunitas yang mengakunya. Pengakuan tidak bisa diseragamkan. Pengakuan selalu beragam.

Begitulah, sejak awal komunitas kita berpegang pada sebuah pengakuan tersendiri. Apa yang kita akui? Alkitab? Bukan! Kita bukan percaya pada sebuah kitab suci.

Yang kita akui adalah seorang pribadi. Ia bernama Yesus. Kita mengaku Dia adalah Juruselamat. Ia menyelamatkan kita dari hidup yang hanya demi diri sendiri untuk menjadi hidup yang mau peduli.

Penulis: Andar Ismail (Seri Selamat Mengaku)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.