Tahun Baru Imlek tentu bukan lagi hal yang asing bagi warga Indonesia. Demikian pula bagi warga jemaat GKI. Meski kebanyakan berasal dari kultur Tionghoa peranakan, sehingga umumnya tidak lagi mengikuti ritual persembahyangan tradisional, masih cukup warga Kristiani dengan latar Tionghoa yang menjadikan momen ini sebagai sarana berkumpul dan berdoa bersama keluarga.

Rasanya di GKI perdebatan apakah umat Kristiani boleh turut merayakan Imlek atau tidak, bukan lagi merupakan persoalan doktrinal. Lebih jauh, sejumlah warga jemaat juga dengan kreatif mengunggah pemaknaan simbol dan tradisi Tionghoa sebagai ekspresi keimanan maupun ekspresi budaya.

Salah satunya terkait kue keranjang atau yang biasa juga disebut kue bakul atau dodol-cina. Dalam perayaan tahun baru, kue keranjang adalah salah satu perangkat yang wajib ada. Kue itu disebut Nian Gao dalam Bahasa Mandarin. Nian berati tahun dan gao berarti kue, yang dalam pengucapan Mandarinnya juga terdengar seperti kata tinggi. Ini berasal dari tradisi dimana kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Pada zaman dahulu banyak atau tingginya menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.

Sementara dalam dialek Hokkian, kue itu disebut Ti Kwe, yang berarti kue manis. Dalam keyakinan tradisional Tionghoa diyakini kue ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku (Cau Kun Kong) agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga. Namun, dalam konteks kebersamaan keluarga, sifat kue yang bulat, manis dan lengket itu bisa dimaknai lebih jauh.

Seperti kue keranjang yang bulat, setiap anggota keluarga hendaknya bersatu, bersekutu bersama. Keluarga juga perlu mengusahkan agar berperilaku dan bertutur kata manis satu sama lain, sehingga bisa saling menguatkan. Selanjutnya keluarga juga perlu terus lengket, dalam arti mengupayakan sedemikian rupa agar persaudaraan yang ada terpelihara, sehingga tidak mudah dipisahkan.

Kita dapat memperluas penghayatan kekeluargaan itu dari keluarga kecil ke lingkup yang lebih besar. Sebagai jemaat bukankah kita juga dituntut untuk menghayati hal serupa? Kita perlu membuka diri menerima semua saudara dalam persekutuan kasih, apapun latar belakangnya. Kita menyambut dan berkarya bersama dalam perilaku yang manis dan saling menguatkan serta berupaya agar kita melekat terus dalam persekutuan kasih.

Demikian pula dengan persaudaraan kita sebagai satu bangsa. Hal serupa, persatuan, manisnya tutur-laku serta tekad untuk terus hidup bersama, juga adalah unsur-unsur yang makin kesini kian kita perlukan. Apalagi saat kita mengaitkannya dengan sejarah bangsa kita. Dimana momen diperbolehkannya kembali perayaan tahun baru Imlek secara publik adalah juga hal yang kita rayakan sebagai kemenangan persaudaraan dan kemanusiaan di bangsa ini.

Maka tak ada salahnya kita belajar dan menilik kembali kekayaan pemaknaan kue keranjang, sebagai hal yang bisa kita hayati semangatnya dalam hidup berkeluarga, berjemaat dan berbangsa.

Disarikan dari: Renungan khusus Imlek dan Kasih Tuhan oleh Pdt. Cipto Martalu (GKI Puri Indah)

Ilustrasi: Gudeg

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.