Pada akhir perang dunia II para serdadu Amerika yang ditempatkan di sebuah desa Jerman menawarkan bantuan kepada para penduduk di desa tersebut. Tetapi penduduk desa itu tidak meminta makanan, uang, alat-alat pertanian atau benih tanaman.

Mereka meminta bantuan untuk memugar sebuah patung yang hancur akibat peperangan. Selama bertahun-tahun patung yang terletak di alun-alun kota menjadi milik kebanggaan mereka. Bisakah para serdadu Amerika membantu membangunnya kembali?

Tugas itu sulit, tetapi akhirnya patung itu berhasil diperbaiki kecuali kedua bagian tubuh yang hilang, yang tidak mampu ditemukan atau digantikan. Kemudian para serdadu menutup patung itu dengan kain sehingga dapat dibuka dalam sebuah upacara di hadapan seluruh warga desa itu, meski patung itu tidak lengkap. Kepala desa menarik tali, dan kain penutup pun melorot dari patung itu: patung Tuhan Yesus tanpa tangan!

Penduduk desa memandang ke tulisan yang ditempatkan oleh para serdadu Amerika di kaki patung Tuhan Yesus itu: “Saya tidak mempunyai tangan, maukah engkau mewakili Saya?”

Cerita tersebut hendak mengatakan kepada kita bahwa Allah membutuhkan kita. Allah mau memakai kita menjadi ‘tanganNya’ untuk melanjutkan karyaNya. Bukankah ini suatu hal yang sangat membanggakan bahwa Allah mau memakai kita untuk membangun gerejaNYa.

Keikutsertaan kita dalam kehidupan dan pertumbuhan gereja di mana kita menjadi anggotanya adalah sebuah perintah Tuhan sendiri. Sebab setiap kita dipanggil Tuhan untuk menjadi “batu-batu hidup” bagi pembangunan rumah Allah, yaitu gerejaNya; seperti yang dinyatakan dalam   I Petrus 2: 5, “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani…”

Dengan kata lain, setiap kita dipanggil untuk terlibat dan melibatkan diri dalam proses pertumbuhan jemaat Tuhan, yaitu gerejaNya. Salah satu bentuk  pelayanan yang dapat dilakukan oleh seorang warga jemaat dalam perannya sebagai “batu hidup” bagi pembangunan rumah Allah adalah dengan melayaniNya sebagai seorang penatua.

Setiap orang pada prinsipnya dapat melayani. Rasa takut, tidak layak, kuatir dan perasaan tidak akan mampu melayani adalah hal yang wajar terjadi apabila seseorang diminta untuk melayani. Apalagi bagi mereka yang dicalonkan untuk pertama kalinya melayani sebagai penatua.

Yang dibutuhkan hanyalah kesediaan, kemauan dan tekad untuk memulai dan mencoba melayani Tuhan dan gerejaNya. Jangan memandang rendah diri Anda. Sebab Allah juga tidak memandang rendah diri Anda. Allah akan memberkati dan memperlengkapi.

Melayani sebagai penatua memang bukan hal yang mudah. Tetapi  apabila saudara dicalonkan oleh warga jemaat menjadi penatua itu berarti mereka melihat dan menilai saudara mampu menjadi penatua yang baik dan bertanggung jawab.

Dan, apabila saudara menjawab ‘ya’ atas panggilan pelayanan itu dan ditambah dengan komitmen melayani yang sungguh-sungguh maka Tuhan akan memperlengkapi dengan hikmatNya dan memampukan menjalankan tugas memimpin jemaat (bersama pendeta) dengan baik.

Pelayanan sebagai penatua tidak hanya merupakan pelayanan pribadi tetapi juga merupakan pelayanan sebuah keluarga. Oleh sebab itu, orangtua atau saudara (bagi mereka yang belum berkeluarga), suami atau istri dan anak-anak perlu diajak bicara dan bergumul bersama dalam merenungkan panggilan pelayanan sebagai penatua.

Sehingga apabila saudara nantinya melayani sebagai seorang penatua, mereka (orangtua atau saudara, suami atau istri dan anak-anak) dapat memberikan dukungan moral dan spiritual yang akan sangat saudara butuhkan nantinya dalam melayani.

Selamat menggumuli panggilan. Tuhan memberkati!

Penulis: Pdt. Jotje Hanri Karuh (Bagai Biji Sesawi)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.