Banjir Jakarta
Memasuki tahun 2020, sebagian kota Jakarta dan sekitarnya mengalami bencana banjir yang luar biasa. Dampaknya, tidak hanya kerugian harta benda, ternyata banjir itu telah menimbulkan korban jiwa 67 orang meninggal dunia. Hal yang sama sekali tidak diharapkan terjadi.

Dari sekian hal yang menjadi penyebab banjir adalah sampah yang menghambat aliran air. Ketika air mulai surut dan kerja bakti dilakukan, maka terlihatlah sampah-sampah yang menumpuk. Mungkin karena hal ini, ada netizen yang membandingkan banjir di Jakarta dan di Jepang. Banjir di Jakarta dipenuhi sampah, sedangkan banjir di Jepang tidak tampak sampah yang mengapung terbawa arus air.

Apakah Sampah itu?
Menurut Wikipedia, sampah adalah sisa material yang tidak diinginkan setelah berakhirnya proses. Apapun bisa menjadi sampah, mulai dari sampah dapur, kertas, barang yang sudah tak terpakai, dan sebagainya. Mestinya sampah dibuang pada tempatnya, tetapi sering terjadi sampah dibuang secara sembarangan.

Sampah dan Kerusakan Lingkungan
World Risk Report mencatat sepanjang tahun 2002 hingga 2011 telah terjadi 4.130 bencana di seluruh dunia, yang menyebabkan sekitar 1 juta orang meninggal dunia dan kerugian material mencapai US$ 1,195 triliun.

Pada tahun 2019, World Risk Report merilis kerusakan lingkungan karena sampah mencapai titik yang tidak bisa ditolerir. Sebuah bencana terjadi karena 2 faktor: alam dan ulah manusia. Sampah adalah produk manusia, yang semakin hari semakin bertambah, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.

Jika kesadaran kita masih rendah untuk benar-benar segera melakukan tindakan nyata, bisa jadi lingkungan hidup manusia akan dipenuhi banyak sampah, yang bisa menimbulkan resiko yang lebih besar lagi di kemudian hari.

Konon, sampah pun sudah mulai memenuhi lautan kita. Jika kita naik perahu 1 jam perjalanan dari pantai menuju tengah laut, maka kita masih menjumpai sampah-sampah yang mengapung di permukaan air laut. Banyak ikan yang mati karena telah mengkonsumsi sampah. Hal ini tentu merugikan nelayan dan juga kita semua.

Salah satu solusi yang sejak beberapa belas tahun telah diluncurkan, namun belum benar-benar dilakukan secara serius oleh beberapa negara, termasuk Indonesia. Solusi itu adalah program yang disebut 3R, yakni reuse, reduce dan recycle. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama atau lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Sebetulnya, program 3R tersebut bisa dicanangkan dan menjadi passion untuk diupayakan dengan sungguh-sungguh, baik di tempat kita bekerja, di rumah kita, di gereja atau di manapun. Namun hal ini tergantung dari mentalitas kita. Persoalan sampah tidak sekedar soal mengolahnya kembali, tetapi juga kebiasaan kita untuk membuangnya pada tempatnya.

Perilaku buang sampah secara sembarang kelihatannya sudah mengakar ke semua tingkatan usia, pendidikan, kelas masyarakat Indonesia. Dengan mudahnya kita melihat di jalan raya pengendara melempar sampah dari jendela mobil. Melenggang tanpa ada perasaan malu sedikitpun.

Ada juga yang membuang sampai di kali atau sungai tanpa merasa risih terhadap larangan yang ia sudah ketahui sebelumnya. Sebuah mentalitas buruk yang tidak lantas untuk ditiru.

Kebersihan, Sebagian Dari Iman
Beberapa tahun lalu, slogan itu pernah marak! Tulisan itu dipajang di mana-mana. Namun saat ini sudah jarang terlihat. Malah, tulisan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” pun tidak banyak kita jumpai lagi. Mengapa? Apakah orang tidak tertarik berbicara soal sampah? Atau, itu karena kita lebih suka buang sampai di mana pun kita suka!

Ya, mungkin tingkat kesadaran orang tentang kebersihan itu berbeda-beda. Ada yang merasa begitu penting soal kebersihan, namun ada juga yang tidak peduli. Untuk tahu seberapa penting tingkat kesadaran kita tentang kebersihan, caranya mudah!

Coba lihatlah di tas yang kita bawa. Berapa banyak sampah kertas, atau plastik penutup permen, dan sebagainya masih ‘tersimpan’ di tas kita dalam jangka waktu yang cukup lama? Mengapa begitu sulit untuk dibuang?

Jika kita memiliki kesadaran untuk membuang sampah di tempatnya, itu menunjukkan kepribadian diri kita! Dan tindakan sederhana itu bisa membuat perubahan yang besar bagi kelestarian dan kebersihan lingkungan hidup kita.

Revolusi Mental Pengelolaan Sampah
Sumber penghasil sampah tidak hanya berasal dari pabrik-pabrik dan pertokoan, tetapi terutama di rumah kita masing-masing. Rata-rata orang Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,7 kg/orang/hari.

Jika dihitung secara nasional menjadi 175ribu ton/hari atau setara kurang lebih 65juta ton pertahun. Sampah yang dihasilkan dengan komposisi sebagai berikut: organik 50%, plastik 15%, dan kertas 10%. Sisanya terdiri dari logam, karet, kaca dan lain-lain.

Jumlah sampah yang kita hasilkan itu tergolong cukup banyak. Karena itu, pengelolaan sampah di sumbernya (terutama rumah) menjadi sangat penting untuk mengurangi beban pengelolaan di hilir! Untuk itu, perlu ada eforia revolusi mental pengelolaan sampah dengan merubah pola pikir, gaya hidup dan budaya kita demi menjaga keberlanjutan kehidupan.

Kita tidak boleh bergantung hanya pada petugas kebersihan dan para pemulung. Tetapi dari rumah sendiri, kita sudah memilah sampah yang kita hasilkan, dan ada kemauan untuk melakukan program 3R.

Buanglah sampah pada tempatnya! Dan, lakukan program 3R di tempat kita. Maka itu bisa mengurangi bencana yang mungkin muncul di kemudian hari.

Penulis: Pdt. Wee Willyanto (GKI Maulana Yusuf)
Foto: pixabay

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.