Suatu kali saya mengunjungi sebuah panti jompo di tengah kota Yogyakarta. Kami para mahasiswa memang ditugaskan untuk mengambil sebuah pelayanan sosial untuk belajar bagaimana melayani di tengah masyarakat. Di panti jompo tersebut, ada banyak sekali oma dan opa yang bercerita bagaimana sulitnya hidup sendiri, jauh dari keluarga, bahkan ada yang tidak lagi dijenguk oleh keluarganya.

Namun, di sebuah kamar, ada seorang oma yang sedang membaca koran, dan ketika melihat saya, beliau tersenyum menyambut. Singkat cerita, sang oma bercerita bahwa keberadaannya di panti tersebut adalah pilihannya sendiri.

Saya bisa turut melayani oma dan opa di sini. Mumpung saya masih kuat, pikiran masih tajam, saya bisa melayani mereka,” ujarnya lembut namun penuh keyakinan. Beliau kemudian bercerita tentang rekan-rekannya di panti tersebut yang memang memiliki keterbatasan dan masa lalu yang membuat mereka depresi.

Pada perjalanan pulang, saya merenungkan kisah sang oma. Bukankah seharusnya ia tidak perlu memikirkan masalah rekan-rekannya yang lain? Bukankah justru ia pun butuh untuk dilayani? Tetapi, saya bisa melihat justru semangatnya tersebut yang terus membuatnya kuat dan masih memiliki tujuan hidup di usia yang senja.

Seringkali, manusia hidup dengan motto “hak dan kewajiban”; hak nomor satu, kewajiban nomor dua. Benar, kita pun dalam banyak kehidupan, termasuk kehidupan bergereja atau bermasyarakat, selalu mengupayakan keadilan. Agar setiap orang jangan sampai ada yang tidak terpenuhi haknya. Dalam banyak kasus, juga amat baik kalau kita menuntut apa yang menjadi hak, terutama hak asasi kita.

Tetapi, kekristenan mengajarkan pula hal yang melampaui itu. Di dalam Allah manusia bisa mengubah motto itu dengan “Apa yang bisa saya lakukan?” Jika kita merenungkan peristiwa Efifani beberapa waktu lalu kita melihat teladan Yesus dalam peristiwa pembaptisan-Nya.

Yohanes Pembaptis sudah menyatakan bahwa seharusnya dialah yang dibaptis oleh Yesus, karena dirinyalah yang berdosa, bukan Yesus. Namun, Pernyataan Kristus tegas: “Biarlah hal itu terjadi, karena sudah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.

Hidup di dalam Allah bukan soal apa yang kita pandang pantas untuk kita terima, apa yang mesti kita lakukan untuk mendapatkannya, tetapi lebih dari itu untuk memenuhi apa yang Allah ingin kita lakukan, dari hari ke hari. Itulah hidup yang patut di hadapan Allah, bagi kita, para umat-Nya.

Penulis: Modi Pradana (GKI Cibadak)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.