Sebagian besar dari kita tentu pernah menghadapi ujian akhir nasional di akhir masa studi Sekolah Menengah Atas. Tentunya ada persiapan khusus yang dilakukan dalam menghadapinya. Beberapa persiapan bahkan menjadi agak ekstrim atau berlebihan.

Pernah dalam sebuah tayangan berita dilaporkan tentang sebuah sekolah yang mengadakan persiapan dengan cara karantina. Siswa-siswi selama sekitar tiga hari bersama-sama belajar dan menginap di gedung sekolah. Di akhir persiapan tersebut diadakanlah ibadah sesuai kepercayaan masing-masing siswa, dengan menghadirkan para rohaniwan (ustad atau pendeta).

Dalam tayangan tersebut ditampilkan para siswa yang terisak-isak meneteskan airmata ketika sang rohaniwan mengajak mereka untuk mengingat-ingat kalau mereka punya dosa atau kesalahan kepada orangtua, agar segera bertobat dan minta maaf agar sukses dalam ujian akhir nasional yang akan mereka hadapi. Dalam perspektif ini pertobatan itu akan memberi dampak yang baik bagi kesuksesan.

Pertobatan, memang merupakan tema yang sering dibicarakan dan diajarkan dalam agama-agama. Demikian juga dalam kehidupan umat Israel. Banyak kali kita membaca dalam Perjanjian Lama bagaimana mereka setelah menghadapi bencana yang dipahami sebagai bentuk penghukuman Allah (bencana alam, kekalahan dalam peperangan, dll) – datang kepada Allah dan menyatakan pertobatan memohon pengampunan. Ritual untuk menyatakan pertobatan pun diselenggarakan, umumnya lewat ritus korban.

Namun, agaknya seringkali pertobatan tersebut hanya bersifat sementara. Setelah diampuni dan diselamatkan, tak lama kemudian mereka kembali menyimpang dari kehendak Allah. Atau yang kemudian berkembang, pertobatan menjadi sebuah ritual yang diselenggarakan secara ketat dan baik, namun tidak menyentuh diri mereka yang terdalam. Pertobatan semu, yang tidak mengubah hidup dan diri mereka.

Karenanya Nabi Yoel dalam Yoel 2:12-13 menegaskan bahwa pertobatan yang utama adalah “mengoyakkan hati dan jangan pakaian…” Mengoyakkan pakaian dalam tradisi masa itu adalah tanda dukacita, kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Tapi menurut Nabi Yoel, bukan itu yang utama, melainkan mengoyakkan “hati”.

Hati (Ibrani: lev) dalam tradisi orang Yahudi adalah pusat diri seseorang, sumber seluruh nilai-nilai, pemikiran, spiritualitas dan yang utama, pilihan dan tindakannya. Agaknya Nabi Yoel mau menga-takan bahwa daripada menunjukkan kesedihan dan penyesalan (dengan mengoyakkan pakaian), jauh lebih penting memiliki hati yang terkoyak, hati yang sungguh menyesal, merendah dan karenanya melahirkan pertobatan yang nyata.

Teguran Nabi Yoel kiranya tetap relevan dalam hal terkait pertobatan. Minggu ini kita akan mulai memasuki masa-masa Pra-Paskah, ditandai dengan ibadah Rabu Abu. Pertobatan selalu menjadi pesan utama masa Pra-Paskah, biasanya secara ritual dinyatakan lewat tindak puasa. Biarlah kita semua senantiasa mengingat dan memohon agar Tuhan memampukan kita memiliki “hati yang terkoyak”, sehingga pertobatan kita sungguh nyata.

Sumber: GKI Gading Indah

Ilustrasi: Moody and Associate

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.