Tema SBSnet kali ini mengangkat tentang pelayanan kegiatan program dalam kaitannya dengan sikap mengasihi Allah. Yang dibicarakan disini bukan mengenai teknik penyusunan laporan yang baik dan benar, melainkan melihat lebih jauh semua kegiatan pelayanan yang dilaporkan tersebut apakah tampak mencerminkan kasih kepada Allah.

Jadi, laporan yang disusun bukan semata menggambarkan kegiatan program yang telah dikerjakan tetapi juga tentang kegiatan jemaat dalam mengasihi Allah. Itulah sebabnya, pemahaman tentang kasih kepada Allah lebih dikedepankan terkait kegiatan dan laporan pelayanan.

Ketiga Injil sinopsis (Mat.22:37; Mrk.12:30; dan Luk.10:27) menyatakan bahwa kasih kepada Allah meliputi kesegenapan hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (kecuali Injil Matius tidak mencantumkan “segenap kekuatan”) yang keempat bagian itu menggambarkan keseluruhan keberadaan atau jati diri manusia.

Menarik apabila kita coba memahami tiap-tiap bagian tersebut. Pertama, dengan segenap hati. Hati dimengerti sebagai pusat pemikiran dan perasaan atau emosi, kehendak atau keinginan, impian atau harapan, yang menjadi kekuatan rohani sumber tindakan atau perilaku manusia. Mengasihi Allah dengan segenap hati berarti membiarkan Allah menguasai, mengendalikan dan mengarahkan pusat penggerak semua kekuatan rohani tersebut.

Kedua, dengan segenap jiwa. Jiwa menunjuk kepada vitalitas atau daya hidup yang secara kreatif menyadari dan mewujudkan makna panggilan hidup. Mengasihi Allah dengan segenap jiwa menempatkan Allah lebih utama daripada diri sendiri dan kepentingan pribadi.

Ketiga, dengan segenap akal budi. Akal budi menunjuk kepada kemampuan intelegensi atau intelektual, kecerdasan untuk berpikir dan merencanakan. Mengasihi Allah dengan segenap akal budi berarti mengerahkan akal untuk memikirkan dan merencanakan dengan sunguh-sungguh dan tulus.

Terakhir, dengan segenap kekuatan. Kekuatan yang berhubungan dengan kekuatan tubuh, seperti: tangan, kaki, mata, telinga dan mulut yang menunjuk kepada fungsi-fungsi tubuh. Semua kekuatan dan fungsi itu dibutuhkan dalam melayani.

Selain itu, kekuatan yang dimaksud juga terkait dengan kekuatan secara ekonomi, materi atau uang, sarana dan fasilitas, dan kekuatan sumber daya. Mengasihi Allah dengan segenap kekuatan menuntut sikap bijak dan hikmat serta penuh kasih terhadap segala kekuatan yang ada untuk mewujudkan pekerjaan Allah.

Pemaparan singkat atas keempat bagian dalam mengasihi Allah menegaskan bahwa kasih kepada Allah tidak semata-mata soal perasaan tetapi menyangkut seluruh keberadaan kita. Baik yang terkait dengan hati, vitalitas dan kreativitas, dengan akal budi yang memikirkan dan merencanakan secara serius dan tulus, serta dengan kekuatan dari semua sumber daya yang dimiliki. Dengan demikian, mengasihi Allah menjadi wujud pengungkapan seluruh keberadaan dan potensi diri yang seutuhnya bagi karya dan kemuliaan Allah.

Pelayanan rutin jemaat yang dilakukan secara terprogram melalui sejumlah kegiatan dalam pembidangan merupakan pengejawantahan dari kasih kepada Allah. Hal ini dapat dipahami secara eklesiolgi bahwa gereja adalah persekutuan yang menjadi tempat dimana umat menjawab dan memberi respons terhadap berkat keselamatan dari Alah. Pelayanan rutin jemaat yang tiap-tiap tahun disusun dan dilaporkan tidak lain sebagai jawaban dan respons jemaat terhadap Allah.

Pertanyaannya adalah apakah tiap-tiap kegiatan pelayanan yang diprogramkan oleh seluruh bidang sungguh-sungguh telah diupayakan mencerminkan kasih yang segenap (hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan) kepada Allah.

Seluruh jemaat saat ini sedang disibukkan dengan penyusunan laporan pelayanan setahun berjalan. Pelaporan ini juga terkait dengan kebutuhan persidangan-persidangan, bukan hanya di lingkup jemaat tetapi juga di lingkup klasis dan sinode. Melalui SBSnet ini, laporan pelayanan kiranya dapat dilihat lebih jauh dari sekadar laporan kegiatan rutin-organisasional semata melainkan mesti ditempatkan dalam cermin dari sikap jemaat dalam merespons kasih dan keselamatan Allah.

Apa yang hendak dikatakan disini adalah bahwa seberapa besar jemaat mengasihi Allah melalui hati, jiwa, akal budi, dan kekuatannya, akan sangat memengaruhi hasil atau pencapaian dari kegiatan pelayanan program yang dilakukannya.

Sangat dimungkinkan sebuah kegiatan yang dilakukan di jemaat memberi hasil yang memuaskan apabila digerakkan oleh daya penggerak dari hati yang dikendalikan dan diarahkan oleh Allah (segenap hati); yang dikerjakan dengan vitalitas yang kreatif dan penuh daya dengan mengutamakan panggilan Allah daripada diri dan kepentingan pribadi (segenap jiwa); yang dipikirkan dan direncanakan dengan sungguh-sungguh dan tulus bagi Allah (segenap akal budi); serta dengan bijak dan berhikmat memberdayakan seluruh kekuatan yang dimiliki (segenap kekuatan).

Keduanya, kegiatan pelayanan dan kasih kepada Allah, membentuk suatu relasi yang saling memengaruhi. Kegiatan pelayanan sebagai isi dari kasih kepada Allah, dan kasih kepada Allah sebagai pendorong dalam melaksanakan kegiatan pelayanan. Dengan kesatuan seperti itu, kegiatan pelayanan yang dilakukan akan memberikan hasil yang maksimal bagi pembangunan jemaat.

Menyusun laporan pelayanan menjadi tanggung jawab semua jemaat yang telah mengakhiri satu masa pelayanan dalam pekerjaannya di ladang milik Tuhan. Tanggung jawab ini menjadi kesadaran bahwa seluruh aktivitas pelayanan yang dipercayakan kepada jemaat-Nya bukanlah suatu kesibukan yang dilakukan semaunya dan seenaknya, tetapi yang harus dilihat efektivitasnya bagi kehidupan dan tumbuh- kembang jemaat.

Oleh karena itu, laporan pelayanan yang disusun bukan hanya terkait soal administrasi program, pembukuan keuangan, atau terkait dengan organisatoris belaka, yang berakhir pada fail pelayanan, tetapi lebih jauh dari itu untuk melihat kesungguhan jemaat dalam mengungkapkan kasihnya kepada Allah.

Tentu harapannya, hasil penyusunan laporan pelayanan tersebut menjadi titik tolak untuk menyusun kegiatan program yang baru serta menjadi pijakan untuk melihat sejauhmana kasih kepada Allah tercermin melalui setiap kegiatan pelayanan yang dilaporkan dan yang akan direncanakan kedepan.

Penulis: Pdt. Vince F. Markus (Ketua Bidang Persekutuan – BPMK GKI Klasis Banten)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.