Seorang rohaniwan baru-baru ini mengatakan bahwa dalam menghadapi wabah virus Corona yang belakangan merebak, masyarakat bukan saja perlu memperhatikannya dari segi kesehatan saja, tetapi masalah wabah ini perlu kita perhatikan dari sisi spiritualitasnya juga.

Ia menegaskan pengetahuan tentang jenis virus Corona yang mudah bermutasi dan kaitannya dengan penanganannya adalah penting, tetapi penting juga bagaimana kita sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai mampu mengatasi masalah wabah ini dari segi spiritualitas kita. Bagaimana nilai-nilai kasih, solidaritas, kebaikan, pengorbanan dan sejenisnya dapat menjadi daya penggerak bagi kita untuk bekerjasama dalam menghadapi wabah ini.

Sebagai contoh di Singapura kita melihat para tentara turun tangan membungkus ribuan paket masker dan membagikan kepada masyarakat secara gratis. Pemerintah dan beberapa orang serta lembaga bergerak membeli masker dalam jumlah ribuan dan mengirimkan ke Cina.

Sayangnya, sebagian pedagang obat dan alat-alat kesehatan mengambil keuntungan dari musibah wabah ini dengan menaikkan harga masker. Bukankah kejadian seperti ini memiliki kandungan spiritualitas yang nyata dan berdampak pada perilaku?

Keutamaan nilai seperti keadilan, pembangunan persaudaraan adalah nilai-nilai yang dipuja-puji orang. Hampir semua orang tentu memuliakannya. Tetapi para pelaku dan pencari keadilan, para inisiator pembangunan persaudaraan dalam melakukan karyanya adalah bentuk pengejawantahannya dan kerap melaluinya lewat jalan derita.

Seseorang yang mau merendahkan hati dan merelakan kepentingan orang lain didahulukan daripada kepentingan diri sendiri adalah sebuah pengorbanan dan penyangkalan diri. Pengorbanan dan penyangkalan diri adalah juga konsekuensi penderitaan yang dilakoni para pencari keadilan dan pembangunan persaudaraan.

Kita melihat dalam peristiwa transfigurasi, tidak hanya soal kemuliaan, tapi juga sebuah jalan penderitaan. Pengakuan Allah Bapa sekaligus “pelantikan” Yesus di depan beberapa murid-Nya juga menyiratkan betapa jalan hidup Tuhan Yesus berada dalam perkenanan-Nya, termasuk “jalan salib” itu.

Tak ada kemuliaan tanpa salib. Karena itu jika kita mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mulia, ya pikul salib itu. Juga sebaliknya, melalui jalan salib, nampaklah kemuliaan Allah dan diri kita perlahan akan mengecil (fade away).

Selamat memasuki penghayatan Minggu Transfigurasi dan menjelang hari-hari peringatan Pra Paskah yang dimulai pada Rabu Abu pada Rabu (26/2) nanti. Kiranya kemuliaan Tuhan bersinar atas kita, memberi kekuatan dan penghiburan manakala kita memikul salib-Nya.

Penulis: Pdt. Daud Solichin (GKI Kebonjati)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.