Banjir tahun ini di Jakarta terbilang parah. Dalam dua bulan Jakarta sudah terendam banjir lebih dari tiga kali. Selain curah hujan yang terbilang deras, banjir juga disebabkan kegagalan kita dalam memelihara lingkungan serta manajemen penanggulangan bencana yang kurang bijak dari pihak berwenang. Akibatnya bencana tidak bisa dihindari. Orang pun berkali-kali harus mengurusi rumah yang kebanjiran, terhambat melakukan aktivitas keseharian.

Di minggu ini pula kita memasuki masa pra-Paska. Minggu-minggu pra-Paska selalu menjadi momen kita untuk mengingat penderitaan Kristus yang telah menebus dosa kita. Dalam tradisi pra-Paska kita diajak untuk menyesali kesalahan dan memperbaiki diri. Momen itu terlihat misalnya dalam kebaktian Rabu Abu yang baru saja kita jalani beberapa hari lalu.

Dalam budaya Yahudi, abu menjadi simbol dari kerendahan diri di hadapan Tuhan. Pernyataan bahwa kita fana dan penuh dosa. Ini digambarkan dalah satu formula klasik saat abu ditorehkan di kepala bertema memento mori (ingatan akan kematian): “Ingatlah engkau berasal dari debu dan kembali menjadi debu.

Ingatan akan kefanaan mengajak kita untuk menyesal dan bertobat. Tanda salib yang disematkan di dahi pun menjadi ingatan bahwa Kristus telah menggantikan kita yang berdosa dengan pengorbanannya.

Seruan untuk menyesal sebagai tanda pertobatan adalah tema yang dapat kita lihat dalam kitab suci. Salah satunya seperti yang diserukan Nabi Yoel kepada umat Israel. Akibat dosa terjadilah kekacauan dan kehancuran. Yoel menyampaikan ajakan Tuhan untuk bertobat. Pertobatan itu diawali dengan penyesalan atas semua kesalahan yang pernah umat perbuat.

Tak sekedar mengoyak pakaian (tindakan simbolis), tapi Tuhan juga menghendaki ‘pengoyakan hati’. Tuhan menghendaki penyesalan yang sungguh-sungguh dan hati menjadi sumber dari pengakuan yang jujur dan keinginan yang kuat untuk merubah hidup.

Nah, kembali ke persoalan banjir. Ajakan pra-Paska untuk menyesal ini juga mencakup penyesalan atas dosa kita dalam merusak bumi, kita sengaja maupun tidak sengaja. Mari turut pula menyesal atas sampah plastik yang begitu banyak kita buang secara sembarangan. Menyesallah karena kita sedemikian tidak pedulinya akan kesejahteraan mahluk lain di bumi ini.

Penyesalan selalu harus disertai tindakan perubahan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Berdamailah dengan alam dan bersuaralah melawan ketidakbenaran.

Selamat memasuki minggu pra-Paska. Mari menyesal dan bertobat.

Penulis: Pdt. Linna Gunawan

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.