Subscribe Now

Minggu Transfigurasi dan Mendidik Generasi
Opini

Minggu Transfigurasi dan Mendidik Generasi 

Istilah transfigurasi memang tidak setenar perayaan Pentakosta, Paskah, Jumat Agung atau bahkan Rabu Abu. Namun dalam runutan menjelang masa raya Paskah, Minggu Transfigurasi mempunyai peran sentral tersendiri. Sebab dalam perayaan ini ditampilkan bahwa kemuliaan Allah yang Maha Tinggi itu dibawa turun oleh Yesus dan disaksikan oleh ketiga murid-Nya.

Di satu sisi ini dapat dimaknai sebagai awal dari ‘menurunnya’ perjalanan Yesus dari sosok yang dimuliakan kemudian menjalani kehinaan, untuk dapat mempersekutukan kembali Allah dengan segenap ciptaan-Nya. Namun, di sisi lain, Minggu Transfigurasi dapat dimaknai juga sebagai turunnya kemuliaan Allah ke dunia. Bahwa Allah mau menyapa dan menyelamatkan ciptaan-Nya.

Peristiwa transfigurasi juga mengingatkan kita bahwa kasih Allah itu tidak bersifat statis, diam dan tidak mengalir. Justru kasih-Nya itu dinamis senantiasa mengalir dan mengairi setiap umat-Nya, bahkan memenuhi mereka.

Transfigurasi pula yang menjadi pengingat bagaimana Allah rela mengutus Putra-Nya yang kudus, menyapa, menjadi serupa dengan kita sekaligus mendidik kita akan jalan-Nya. Ini ditunjukkan dengan turun-Nya Yesus beserta tiga murid-Nya, setelah persitiwa selesai. Yesus mengajarkan untuk tidak berdiam dalam momen khusus seperti itu, namun berkarya dan hidup dalam keseharian meski itu juga berarti akan mengalami derita.

Pesan inilah yang menunjukkan teladan bagaimana Allah mendidik umat-Nya. Pendidikan itu tidak sekedar dilakukan dari tahta kemuliaan-Nya. Namun hadir dalam tiap keseharian kita. Allah yang adalah Bapa kita, tidak hanya menyelamatkan kita dari cengkeraman dosa kekal, tapi juga mendidik kita dalam jalan-Nya.

Maka dari itu orang tua, termasuk para pendidik Kristiani, perlu belajar dari teladan transfigurasi. Bahwa mendidik generasi yang baru itu adalah tindakan yang begitu mulia sekaligus begitu bersahaja. Ekspresi kasih dalam mendidik itu pun bukanlah hal yang statis namun sangat dinamis. Itu pula menuntut kita untuk hadir bersama generasi yang kita didik, merasakan pergumulan mereka, tidak sekedar menatap dari posisi kita.

Menjadi orang tua bukanlah sekedar memiliki keturunan. Demikian pula para pendidik Kristiani bukanlah sekedar mengerjakan pekerjaan mengajar. Tetapi ini adalah pekerjaan merawat dan memelihara generasi yang baru dalam kasih dan persekutuan. Sebagaimana Allah telah menunjukkan teladan-Nya dalam mendidik kita.

Penulis: Samuel H (GKI Cicurug)

Ilustrasi: The Transfiguration of Christ karya Peter Paul Rubens

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

Related posts