Pada masa Tuhan Yesus berkarya secara fisik di bumi, bait Yerusalem masih ada dan praktik persembahan persepuluhan juga masih dijalankan. Namun, di Perjanjian Baru ternyata hanya sedikit bagian yang berbicara langsung tentang persepuluhan. Yaitu dalam Matius 23:23 (paralel Lukas 11:42), Lukas 18:12 dan Ibrani 7:1-10.

Di dalam Injil, persepuluhan disebutkan dalam suasana yang sangat kritis dan profetis. Rupanya, mirip dengan keadaan pada masa-masa keculasan umat Allah sebelumnya, Tuhan Yesus mencermati bahwa pemberian persembahan persepuluhan itu tidak diikuti dengan keadilan, belas kasih dan kesetiaan.

Yesus mengecam orang-orang Farisi yang terlalu mematuhi aturan persepuluhan namun kehilangan roh di baliknya, yaitu keadilan sosial dan belas kasihan. Dengan kata lain, Yesus justru ingin menunjukkan betapa tak berartinya persepuluhan dibandingkan solidaritas sosialnya. Yesus memang tidak menolak persepuluhan, namun Ia juga tidak menganjurkannya. Yang dilakukan Yesus adalah mengajarkan bahwa penatalayanan kristiani bukan didasarkan pada praktik persepuluhan, namun pada “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.

Sikap Yesus yang tidak menyarankan persepuluhan secara tersurat konsisten dengan surat-surat Paulus yang sama-sekali tidak berbicara mengenai persepuluhan. Ia berkali-kali berbicara mengenai uang dan tak satu kali pun berbicara mengenai persepuluhan.

Bahkan di dalam perjalanan penginjilannya yang ketiga, Rasul Paulus mengumpulkan uang bagi jemaat Yerusalem namun persembahan persepuluhan tak sekali pun disinggung, apalagi dipakai sebagai metode pengumpulan uang. Metode yang dipakainya adalah meminta setiap anggota jemaat untuk mengumpulkan uang seperti menabung setiap hari Minggu, sebagaimana tercatat di dalam 1 Korintus 16:1-2.

Prinsip yang diusung oleh Paulus sesungguhnya sama dengan semangat dari peraturan persepuluhan di dalam Perjanjian Lama, yaitu kepedulian pada mereka yang membutuhkan. Namun, keduanya berujung pada pengaturan teknis yang sama sekali berbeda. Yang satu mengajukan persepuluhan, yang lain penyisihan mingguan secara sukarela.

Sementara itu, Surat Ibrani pasal 7, merupakan bagian Perjanjian Baru yang paling banyak membahas persepuluhan (sebanyak enam ayat). Bagian ini membicarakan kembali kisah pemberian persepuluhan oleh Abraham kepada Melkisedek (sebelum pengaturan perpuluhan pada Musa dan Harun). Meski demikian, persepuluhan muncul bukan sebagai tema utama, karena yang dibicarakan sebenarnya adalah persiapan untuk membandingkan Imam Besar Melkisedek dengan Yesus sebagai Imam Besar Perjanjian Baru. Jadi, teks Ibrani 7 sangat-sangat berpusat pada Kristus (Kristosentris).

Konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru sangat Kristosentris, sebab Kristus diyakini sebagai pembaru seluruh hukum Taurat. Surat Ibrani dengan amat tegas dan jelas menunjukkan pembaruan sistem persembahan yang selama ini dilakukan umat Israel. Pembaruan tersebut terjadi justru karena fokus iman yang bergeser pada Kristus sendiri.

Ide dasar dari Kitab Ibrani ini adalah bahwa Kristus adalah Imam Besar sekaligus domba persembahan, yang dipersembahkan satu kali untuk selama-lamanya. Dengan jalan itu model persembahan Israel yang lama telah dibarui dengan persembahan tubuh Kristus sendiri. Persepuluhan sebagai bagian dari persembahan Israel dengan demikian dan dengan sendirinya turut dihapuskan. Semua tuntutan persembahan–termasuk persembahan persepuluhan–telah dilunaskan “sekali untuk selamanya” di dalam korban Kristus!

Bersamaan dengan penggantian konsep Imam dan korban, konsep bait Allah sebagai rumah Tuhan diganti pula menjadi hidup tiap-tiap orang percaya sebagai bait Allah, konsep imam yang dipegang segelintir orang juga diganti menjadi setiap orang percaya yang menjadi imamat am.

Di sisi lain, Paulus secara khusus menegaskan sebuah prinsip persembahan yang lebih radikal daripada persembahan persepuluhan. Yang harus kita persembahkan adalah seluruh “tubuh” (soma: hidup dalam keutuhannya), “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Dan itu berarti seluruh milik kita juga, termasuk uang kita. Jadi, 100% uang kita, bukan 10%, adalah milik Allah yang dipercayakan kepada kita dan harus kita persembahkan kepada-Nya.

Dalam perspektif itulah, maka persembahan diserahkan kepada kita untuk kita kelola atau tatalayani seluruhnya untuk kemuliaan Allah. Amat menarik bahwa Paulus kemudian memberi petunjuk jelas mengenai makna persembahan seluruh hidup itu. Dalam 2 Korintus 8:1-15 ia menganjurkan jemaat Korintus untuk memberikan persembahan khusus kepada jemaat di Yerusalem. Ia menyebutnya sebagai “pelayanan kasih,” karena memang landasan utamanya adalah kasih.

Maka dalam perspektif Perjanjian Baru itulah GKI memaknai bahwa bila persembahan persepuluhan disikapi secara legalistis, maka itu tidak sejalan dengan prinsip penatalayanan Kristen. Hidup ini harus ditata sebagai sebentuk pelayanan kepada Allah yang diwujudkan menjadi karya bagi sesama.

Disarikan dari: Persepuluhan: Kewajiban atau Disiplin Rohani? oleh Pdt. Joas Adiprasetya (GKI Pondok Indah) dan Persembahan Sebagai Ekspresi Cinta Kasih (Pdt. Essy Eisen)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.