Pdt. Em. Stephen Suleeman, Pdt. Ester Pudjo, Pdt. Juswantori Ichwan dan Pdt. Paulus Lie memaparkan pemikiran-pemikiran yang cukup tajam terkait apa yang disebut revitalisasi ibadah. Yang mereka sajikan, beranjak dari penelitian dalam jemaat-jemaat GKI di lingkup Sinode Wilayah Jawa Barat.

Dalam penelitian tersebut terlihat bahwa jemaat memang cukup kerap membicarakan pentingnya GKI untuk melakukan revitalisasi terhadap ibadahnya. Terutama dalam kebaktian minggu dan kebaktian untuk kaum muda.

Paparan itu tersaji dalam diskusi teologi yang digelar Komisi Pengkajian Teologi (KPT) GKI Sinode Wilayah Jawa Barat pada Selasa (18/2) yang berlangsung di kantor GKI Sinode Wilayaha Barat, Tanjung Duren, Jakarta. Acara tersebut dihadiri sekitar 60 orang peserta, yang umumnya merupakan pendeta jemaat.

Paparan dalam diskusi menekankan bahwa adalah kewajaran jika jemaat membicarakan soal revitalisasi ibadah. Semangat ini bukanlah sekedar untuk ikut-ikutan membuat ibadah yang semarak, namun adalah semangat dari reformasi gereja. Membicarakan revitalisasi ibadah merupakan bagian dari percakapan tentang perlunya gereja terus membarui diri.

Namun yang perlu ditekankan, revitalisasi ibadah bukanlah sekedar mengubah format ibadah, musik atau gaya membawakan pujian. Revitalisasi ibadah tidak boleh dilepaskan dari pentingnya revitalisasi kehidupan bergereja secara lebih luas.

Ibadah yang direvitalisasi adalah ibadah yang menggairahkan, yaitu ibadah yang bersumber dari Kitab Suci dan mengarahkan umat semakin mendalami perjumpaan dengan Sang Sabda dan InjilNya, mengajak umat terlibat, berpartisipasi dengan sadar dan aktif.

Terkait penyelenggaraan ibadah secara teknis, hal ini juga tidak melulu bicara soal nyanyian dan musik, perlu juga diperhatikan liturgos yang dapat menyapa umat dengan hangat dan akrab. Dalam ibadah, faktor non-liturgi juga perlu diperhatikan, agar tempat ibadah menjadi persekutuan yang akrab, menjadi rumah aman di mana semua merasa diterima (safe space). Hal-hal ini akan lebih dihayati jika tiap gerak gereja pun memang mengarah pada hal-hal tersebut.

Kontributor: Pdt. Rumenta Santyani Manurung

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.