Sebagai gereja yang tumbuh dari sejumlah denominasi kekristenan, wajar saja jika sejumlah warna teologi hadir dalam pemahaman GKI. Termasuk warna yang khas Pietis atau semangat Injili. Karenanya, konsep dan penekanan soal lahir baru (born-again), seperti yang dimaknai kalangan evangelikal, Pentakosta dan kharismatik bukan mustahil beririsan dalam pemahaman keseharian warga jemaat GKI.

Bahan bacaan hari Minggu ini (8/3) tentang percakapan Yesus dan Nikodemus (Yohanes 3:1-17) sering menjadi titik tolak pemahaman tentang perlunya seseorang itu mengalami kelahiran kembali. Dalam tafsiran gerakan evangelikal, itu diartikan sebagai momen dimana seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat-nya secara personal.

Tapi sejatinya ungkapan “dilahirkan kembali”, bukan baru pertama kali muncul dalam percakapan ini. Istilah ini sudah dikenal di kalangan orang Yahudi untuk menyebut bangsa luar yang diterima menjadi umat. Orang dewasa yang konversi tersebut dikatakan seperti anak yang baru lahir.

Orang Yunani-Romawi pun sedikit banyak mengenal konsep ini. Salah satu upacara agama rahasia yang sangat terkenal ialah yang disebut taurobolium. Dimana saat orang keluar dari lubang sempit, ia disebut menjalani renatus in aeternum, dilahirkan kembali di dalam kekekalan. Penafsir Alkitab William Barclay, berpendapat istilah lahir kembali ini mungkin pada saat itu terbilang ngetrend dan dicari oleh banyak orang terkait kebenaran agama.

Bahkan jika kita menyimak lebih jauh dalam perikop ini, frase Yunani gennethe anothen sejatinya memiliki makna dilahirkan dari atas. Ini lebih jelas saat Yesus merujuk bahwa itu juga senafas dengan dilahirkan dari air dan Roh, yang dalam tradisi Kristen dimaknai sebagai konversi dalam sakramen baptisan, sebagai wujud karya Allah.

Pemaknaannya sebagai ‘dilahirkan kembali’ atau ‘lahir baru’ nampaknya adalah tangkapan Nikodemus atas ucapan Yesus. Bisa jadi itu dipengaruhi oleh sejumlah pandangan keagaman yang sedang trend saat itu. Dari sini terlihat pemikiran kelompok evangelikal mengenai “dilahirkan kembali” atau “lahir baru” (born-again) justru lebih dekat dengan pemaknaan Nikodemus ini.

Meski memiliki sisi baik dalam hal penekanan pada kesalehan pribadi, disiplin rohani serta sikap hormat akan anugerah Allah, penekanan berlebihan pada istilah lahir baru ini terkadang memiliki sejumlah bias.

Misalnya saja, proses pengenalan dan kesadaran akan anugerah Allah terkadang direduksi hanya menjadi satu momen tertentu. Juga hanya dikaitkan dengan aspek emosional (mengaku dan menyesali dosa), yang tentu saja belum mencakup semua dimensi kemanusiaan kita atau seluruh perjalanan iman kita.

Demikian pula, terkadang penekanan akan lahir baru tersebut justru bukan diarahkan sebagai bentuk perenungan diri, melainkan diterakan pada orang lain. Sematan aneh semisal “orang Kristen yang belum lahir baru,” seringkali keluar dari pihak-pihak yang menekankan istilah ini. Hal yang tentunya kurang bijak dan menyimpan kesombongan rohani.

Hal yang lebih fatal adalah reduksi karya Kristus seolah hanya untuk pribadi kita. Padahal jelas ditegaskan bahwa momen kita percaya dan tidak binasa itu adalah bagian dari karya dan kasih Allah bagi keseluruhan dunia ini. Keselamatan bukanlah sekedar untuk pribadi. Ia harus pula berdampak sosial, berupa karya bagi dunia. Keselamatan seharusnya berdampak pada persoalan kemanusiaan, keadilan, lingkungan hidup, dan lain sebagainya.

Di GKI kita memaknai khotbah dan penekanan pada istilah kelahiran kembali atau lahir baru dalam konteks di atas. Ini mengingatkan kita, orang yang telah mengaku percaya dan dibaptiskan dalam nama Tuhan Yesus, agar tidak hanya berhenti pada pengakuan saja, melainkan selalu berharap mendapat pimpinan dari Roh Allah (dari atas). Pimpinan-Nya itu mewujud dalam karya kita secara pribadi dan sosial.

Disarikan dari Kelahiran Kembali (Lahir Baru) bahan Forum Dialog Teologi Jemaat GKI Pondok Indah oleh Pdt. Tumpal Tobing.

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.