Tanggal 8 Maret merupakan peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Momen ini sudah dirayakan lebih dari seratus tahun sebagai bentuk perjuangan kaum perempuan dalam kesetaraan hak-hak sosial politik. Tapi melihat masyarakat yang sepertinya sudah setara dalam banyak hak antar laki-laki dan perempuan, tak sedikit orang bertanya seberapa penting momen seperti ini dirayakan?

Kita tentu kerap menjumpai istilah “patriarki” dan “feminisme” yang berseliweran di ranah media sosial atau berbagai situs berita online. Hal ini tentu tidak lepas dari pola pikir masyarakat modern yang semakin terbuka sebagai salah satu dampak globalisasi.

Pada dasarnya, patriarki dan feminisme adalah dua istilah yang memiliki makna yang bertolak belakang. Patriarki merujuk pada struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal dan sentral dari segala-galanya. Budaya patriarki sendiri dibangun atas dasar hierarki dominasi dan subordinasi yang mengharuskan laki-laki dan pandangannya sebagai norma, atau secara sederhananya kaum laki-laki dianggap lebih dibandingkan perempuan

Sebaliknya, feminisme secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai sebuah gerakan perlawanan dan perubahan yang berasal dari kesadaran perempuan bahwa mereka selalu berada di posisi yang tereksploitasi, direndahkan, dan menjadi lain atau liyan, sebagai jenis kelamin kelas dua atau yang disebut dengan deuxime sexe.

Dalam perspektif ini, kita tentu perlahan dapat melihat bahwa masyarakat Indonesia, termasuk Anda dan saya, masih hidup dalam budaya patriaki yang sangat kuat. Mari mengambil contoh dalam ujaran keseharaian.

Kita tentu tidak asing dengan kalimat-kalimat seperti: “Anak perempuan kok tertawa keras-keras? Anak perawan kok bangunnya siang sih? Kalau jadi perempuan harus bisa masak, kalau enggak nanti suaminya selingkuh. Pantesan dia bisa diperkosa, lha bajunya terbuka gitu je! Cewek itu nggak baik kalau pulang malam-malam!

Menurut standar moralitas di percakapan sehari-hari, kalimat-kalimat tersebut mengandung beberapa teguran yang maksud dan tujuannya baik. Akan tetapi, sayangnya, setiap kalimat tersebut selalu diembel-embeli dengan sematan gender yang sebenarnya tidak terlalu relevan.

Misalnya kalimat terkait kejahatan pemerkosaan. Kalimat tersebut seakan-akan menyalahi perempuan karena pakaiannya yang terbuka, sehingga ia seolah pantas dihakimi atas kejadian yang menimpanya. Padahal, perempuan ini sudah menjadi korban pemerkosaan, namun masih tetap disalahkan lantaran pakaian yang ia kenakan.

Lantas yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah, mengapa kita cenderung lebih mudah mempersalahkan atau memperbincangkan pihak perempuan, yang sejatinya adalah korban, dibanding pihak laki-laki yang jelas-jelas secara hukum telah melakukan tindakan kriminal?

Kenyataan tersebut adalah contoh kecil dari bagaimana sistem budaya patriarki sudah sangat mengakar kuat di kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan yang mengancam kehormatan perempuan sebagai manusia. Tidak heran apabila sejak zaman R.A. Kartini dulu, cita-cita dan perjuangan kesetaraan gender adalah hal yang terus disuarakan. Hingga kini semakin marak diperjuangkan oleh aktivis perempuan yang melabeli diri atau sering dilabeli sebagai aktivis feminis.

Sayang sekali apabila feminisme hanya ditangkap dari sudut pandang pemberontakan. Dianggap sebagai sebuah gerakan atau pemikiran penuh “rebellion” terhadap budaya yang sudah lama mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia. Pada hakikatnya feminisme adalah upaya perubahan menuju kesetaraan. Feminisme tanpa dibatasi kaum perempuan adalah milik semua gender, termasuk laki-laki.

Feminisme bertujuan untuk mencapai gender equality. Dimana perempuan tidak memandang lebih rendah pilihan perempuan lain yang berbeda dengannya dan laki-laki tidak kehilangan hak biologisnya untuk memiliki sejumlah ekspresi. Misal tidak menangis karena ungkapan “anak laki-laki harus kuat dan tidak boleh nangis.”

Dalam keyakinan Kristiani kita menyadari bahwa ‘sepadan’ adalah kata yang Allah gunakan untuk menggambarkan ciptaan-Nya manusia, perempuan dan laki-laki. Perempuan hadir tidak untuk mengungguli laki-laki, laki-laki pun ada bukan untuk merendahkan perempuan, karena keduanya adalah sepadan.

Maka dalam momen seperti Hari Perempuan Internasional seperti ini, yang perlu dijadikan tokoh bukanlah sekedar tokoh-tokoh penting dalam perjuangan hak perempuan. Tapi mengajak tiap kita untuk menjadi tokoh kesetaraan gender di sekitar kita. Tak soal anda perempuan atau tidak, sebab Allah menyebutkan kita semua ada sepadan.

Disarikan dari artikel Kesetaraan Gender oleh Tara Hapsari Diso dalam Buletin Mercusuar GKI Kemang Pratama Edisi 49.

Foto: IWD 2020 Jakarta (Voi)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.