Beberapa hari belakangan, kita melihat ada sedikit kepanikan terkait wabah virus Covid-19. Persediaan masker dan bahan makanan mulai langka. Ada yang menyimpan sejumlah barang, jauh lebih banyak dari apa yang mereka butuhkan.

Sesungguhnya, kecenderungan seperti itu tidak hanya terjadi saat bencana. Dunia kita acapkali menjadi dunia yang menggoda kita untuk menjadi pribadi yang konsumtif. Memakai lebih dari yang kita butuhkan. Hidup kita dikelilingi oleh iklan dan promosi. Berbagai produk diiklankan sedemikian rupa sehingga tampak memberikan jaminan bagi siapapun yang memilikinya menjadi lebih baik.

Hal itulah yang menggoda kita untuk dapat memiliki lebih banyak dan lebih banyak lagi dari yang kita inginkan. Kondisi demikian semakin didukung dengan kecenderungan banyak orang yang selalu memberikan penghargaan kepada sesamanya berdasarkan penilaian-penilaian kuantitatif lebih daripada penilaian kualitatif. Kehidupan kita selalu di ukur dari apa yang kelihatan, dari semua yang nampak: kepemilikan, rumah tinggal atau aksesoris yang kita pakai.

Karena hal itulah banyak orang berlomba dan terus mengupayakan semua yang bersifat materi dan kepemilikan. Karena hanya dengan memiliki semua itulah maka kita merasa mendapatkan bagian lainnya: kehormatan, penghargaan dan bahkan kedudukan sekalipun kita tidak memiliki posisi dan jabatan yang seharusnya.

Tapi itu bukan sepenuhnya warna umat manusia. Dalam situasi-situasi bencana misalnya, ada saja orang yang justru tidak mau menari di atas penderitaan, tetap menyediakan dan menjual barang kebutuhan dengan harga normal. Bukan hal yang aneh, jika kita menilik mereka umumnya bukanlah orang dan masyarakat yang bersikap konsumtif dalam keseharian.

Hidup mencukupkan diri menjadi sesuatu yang penting untuk kita upayakan. Ia akan membuat kehidupan yang kita jalani menjadi lebih indah dan menyenangkan. Saat itulah diri kita tenang dan jiwa kita damai, kita tidak terganggu dengan beragam perasaan yang menekan dan mengganggu kita untuk dapat memiliki dan menikmati secara berlebih.

Hidup mencukupkan diri bukanlah hidup yang kekurangan tetapi juga tidak hidup dalam sikap berlebih. Hidup mencukupkan diri adalah kemampuan untuk menikmati seberapapun yang Tuhan percayakan bagi kita dengan rasa sukacita.

Ketika Tuhan memberi banyak maka kita mensyukurinya tetapi tetap sadar sehingga tidak lupa diri karena kelebihan yang Tuhan anugerahkan serta terdorong untuk berbagi. Sementara itu ketika Tuhan memberi lebih sedikit maka kita tetap dapat menyatakan terimakasih kita serta jauh dari keluh kesah.

Kita dibebaskan dari sikap serakah serta tamak tetapi sekaligus juga terhindar dari perasaan minder hanya karena tidak memiliki apa yang kita harapkan untuk kita raih. Hanya dengan cara itulah maka setiap kita dapat menghayati kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa kehidupan yang kita alami.

Hidup mencukupkan diri juga akan memampukan setiap kita untuk dapat menghargai sesama kita: bagaimanapun tampak luarnya, dan seberapapun kepemilikannya. Hidup mencukupkan diri membuat diri kita mampu melihat sesama sebagai sesama dengan mata yang tulus. Bahwa setiap orang adalah sama dan setiap orang adalah berharga, karena memang begitulah hakikat setiap orang. Yang membedakan setiap orang bukanlah kepemilikan dan hartanya tetapi perannya di hadapan sesamanya.

Dengan relasi yang demikian maka kita hadir dalam kehidupannya dan dia hadir dalam kehidupan kita secara pribadi. Saat itulah kita benar-benar menikmati perjumpaan antar pribadi dengan indah.

Hidup mencukupkan diri adalah keutamaan yang membuat diri kita menikmati perjumpaan dengan Tuhan tetapi sekaligus juga perjumpaan dengan sesama. Bersyukur kepada Tuhan untuk semua yang dianugerahkan tetapi juga bersahabat dengan sesama yang Tuhan hadirkan. Oleh karena itu, hidup mencukupkan diri adalah pilihan yang mengantar setiap pelakunya menikmati kebahagiaan.

Disarikan dari artikel Pdt Immanuel Kristo dalam Hidup Kristen (Kumpulan Renungan GKI Gunung Sahari)

Ilustrasi: Eatingwell

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.