Menjalani hidup di tengah kesukaran memang bukanlah perkara mudah. Terkadang, berbagai pemikiran negatif bisa muncul dan memberikan tekanan berat. Apa yang kita rasakan belakangan dalam menghadapi jangkitan virus corona (covid-19) misalnya. Tak jarang kita menjadi kalut. Apapun dilakukan demi merdeka dari jeratan virus dan berharap semua bisa pulih dengan cepat.

Bacaan Injil Minggu ini (Yohanes 11: 1-45) juga mengisahkan pergumulan, yaitu pergumulan Maria dan Marta. Saudara mereka, Lazarus, sedang sakit keras. Tidak disebut sakit apa, tetapi keadaannya sangat buruk.

Maria dan Marta tentu berupaya mengobati Lazarus. Lebih dari itu, mereka juga menunjukkan tindakan iman yang baik. Mereka berusaha mencari Tuhan Yesus. Mereka lalu berkabar kepada-Nya: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.

Dalam menghadapi kesukaran yang saat ini melanda kita dan negeri kita, teladan Maria dan Marta menjadi sangat penting. Mata kita jangan hanya melihat hal-hal lahiriah. Kita akan kelelahan dan putus asa.

Jika kita hanya melihat kota yang sepi, usaha yang lesu, aktivitas yang membosankan, gereja-gereja tutup, korban positif corona makin banyak, korban meninggal terus bertambah dan berita buruk merebak, kita pasti stres dan tertekan.

Ketika mendengar kabar dari Maria dan Marta perihal Lazarus, Tuhan Yesus sengaja menunda untuk mengunjungi mereka. Para murid merasa heran. Tuhan Yesus seolah cuek dan tidak sigap. Tetapi Ia tahu dasarnya: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.

Dalam hal inilah kita kerap terjebak. Ketika kesukaran terjadi, kita berharap Tuhan bertindak cepat. Kita berdoa memaksa. Ketika Tuhan terasa lambat, kita bingung dan panik. Ketika Tuhan terkesan terlambat, kita kecewa dan marah.

Padahal, Tuhan tahu saatnya bertindak. Ia bukannya tidak peduli. Hanya saja cara-Nya sering di luar dugaan kita. Dalam hal ini, dibutuhkan kesabaran, ketabahan dan kejernihan batin untuk tetap percaya bahwa lawatan Allah pasti tepat pada waktu-Nya.

Perhatikan perasaan Tuhan Yesus berjumpa Maria dan Marta. Dikatakan maka “masygullah hati-Nya.” Kata “masygul” ini menggambarkan keadaan hati yang sangat terharu. Tuhan Yesus sangat terharu melihat Maria dan Marta yang begitu pilu atas kematian Lazarus.

Kepada mereka, Kristus lalu menegaskan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Ungkapan ini kemudian dibuktikan dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Perbuatan Tuhan Yesus itu pun benar-benar memuliakan Allah, tepat seperti dikatakan-Nya sejak semula.

Inilah yang menguatkan kita untuk tidak menyerah dengan kesukaran hidup. Berjuang dalam pergumulan iman bersama Tuhan. Meluaskan pemaknaan kita tentang pengharapan.

Sumber: Pdt. Marto Marbun (GKI Perniagaan)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.