Selasa lalu (10/3) GKI Kebonjati, Layar Kita dan Jakatarub, menggelar diskusi film Brexit: Uncivil War (2019). Waktu itu, narasumber Trisno Sutanto menjelaskan tentang bahaya media sosial yang digunakan sebagai alat propaganda politik. Di film itu terlihat bagaimana propaganda dipakai untuk memenangkan kontestasi pemilihan antara dua kubu yang bersaing dalam menentukan apakah Britania Raya tetap berada dalam Uni Eropa (UE) atau keluar dari UE.

Film Brexit sendiri, dinyatakan sebagai film yang menggambarkan nuansa politik terbaik dengan alur yang sangat cepat. Dalam film tersebut kita bisa melihat bagaimana data dimanipulasi dengan sangat hebat, sehingga bisa menjadi pola pikir baru masyarakat. Hasilnya masyarakat pun mulai terpecah, mereka membentuk kelompok baru dengan pola pikir baru yang dihembuskan dengan sentimen-sentimen identitas demi kepentingan politik. Narasumber juga mengingatkan akan bahaya ini di Indonesia, terutama sejak 2012.

Kita tahu, di negeri kita pengkotak-kotakan manusia berdasarkan suku, agama, ras adalah politik memecah-belah yang paling efektif sejak zaman kolonial Belanda. Tanpa sadar, stigma dan juga perbedaan-perbedaan itu kerap kali masih terjadi ketika memanasnya suhu politik di negara kita. Bahkan belakangan hal ini pun mulai dihembuskan untuk membentuk pola pikir yang memecah belah.

Memasuki Minggu Pra Paskah III ini, kita diingatkan dengan bacaan Injil dari Yohanes 4:5-42. Dalam perjalanannya dari Yudea ke Galilea, Yesus melewati Samaria. Ketika sampai di kota bernama Sikhar, Yesus sangat letih dan kehausan. Disitulah ia berjumpa dan bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria.

Apa yang menarik dari peristiwa ini? Pertama soal Samaria. Kita tahu bahwa bangsa Israel memandang sebelah mata orang-orang Samaria. Bagi mereka, orang Samaria adalah warga kelas tiga karena isu kemurnian ras dan sinkretisme keagamaan. Apalagi, ketika bagian Injil Yohanes menceritakan, perjumpaan Yesus terjadi dengan seorang perempuan Samaria. Maka, perempuan Samaria tersebut mengalami diskriminasi rangkap dua (gender dan ras) dari kaum Yahudi yang diwakili oleh para murid.

Namun, bagian Injil Yohanes ini menggambarkan bagaimana Yesus yang adalah seorang laki-laki Yahudi yang seharusnya merasa superior atas perempuan Samaria itu, justru memulai dialog dengan berperan sebagai seorang yang rentan, “Berilah Aku minum…” (ayat 7).

Adegan tersebut kental dengan gambaran paradoks. Sang Pemberi air hidup, justru mengalami kehausan. Seorang Mesias yang sedang kehausan dan seorang perempuan Samaria yang tersisih, digambarkan oleh penulis Injil Yohanes sebagai dua pribadi yang saling membutuhkan satu sama lain. Inilah metafora yang indah tentang bagaimana Tuhan dan manusia berjumpa dalam sebuah relasi yang intim.

Perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria memberikan gambaran bahwa kehadiran Allah tidak dapat dibatasi oleh klaim-klaim sebuah bangsa akan teritorialnya sebagai lambang kehadiran Allah. Tidak mengacu pada klaim gunung Sion atau bukit Gerizim. Kisah ini menjadi kisah dimana Allah, melalui Yesus Kristus, hadir untuk meruntuhkan tembok pemisah. Bagi Allah semua manusia sama dimata-Nya.

Kisah ini juga mengajar kepada para murid bahwa Allah juga berpihak pada etnis lain yang kerap kali menjadi bahan cemoohan bagi mereka. Kehadiran Allah justru membuka isolasi dan menjalin relasi yang mengubahkan. Bahkan perjumpaan dengan perempuan Samaria tersebut memulihkan kehidupan perempuan tersebut untuk menjadi murid-Nya. Injil Yohanes menggambarkan perempuan tersebut kembali ke kota dan bersaksi kepada warga Sikhar tentang Yesus.

Bukankah apa yang dilakukan perempuan Samaria itu adalah tugas kita juga sebagai murid-murid TUHAN? Kehidupan beragama kita tidak boleh membentuk kita menjadi manusia superior yang hidup dengan eksklusivitasnya sendiri. Tetapi mulailah kita meninggalkan sekat-sekat yang membuat kita terisolasi sehingga tidak mampu membangun relasi.

Penulis: Pnt. Andy Agus Gunawan (GKI Kebonjati)

Ilustrasi: Brexit The Movie – HBO

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.