Benarlah perkataan ini: “Orang yang menghendaki (ingin menjadi, versi BIMK) jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (1Tim. 3:1)? Ya atau tidak?

Jika perkataan Paulus ini memang benar, mengapa banyak anggota jemaat GKI tidak ingin menjadi penatua? Di manakah letak persoalannya? Mengapa dari tahun ke tahun, pencarian penatua bak mencari jarum di tumpukan jerami? Mengapa terucap candaan “Siapa aja asal bukan saya” dan “Ini aku, utuslah dia”?

Tentu bukan karena ungkapan ini: “Di GKI, orang tidak mencari jabatan; jabatanlah yang mencari orang,” sebab yang diberi kesempatan jabatan pun sibuk mencari alasan untuk menolaknya. Sesekali, malahan, yang sudah berjabatan gerejawi pun punya niat mengundurkan diri sebelum masa jabatan selesai.

Sampai hari ini, kita belum pernah mengadakan penelitian yang serius mencari penyebab-penyebab utama mengapa jabatan ini, walaupun-katanya-indah, tetapi tidak diingini. Sangat boleh jadi, penyebabnya jamak. Barangkali kalau mau diadakan penelitian, hal ini bisa dijadikan acuan agar isu ini tidak menjadi sesuatu yang berulang tanpa ada solusi yang konkret.

Namun, saya akan memberikan satu perspektif kualitatif berikut ini. Semoga bisa sedikit menggugah. Berbicara tentang kepenatuaan sebagai sebuah jabatan gerejawi, selalu mengacu pada kepemimpinan. Jika kita berbicara tentang kepemimpinan, di sana pasti ada tantangan. Tantangan adalah sebuah panggilan – sekaligus kesempatan – bagi seorang manusia untuk merangsek melewati batas kenyamanannya.

Orang yang tertantang adalah orang yang ingin mengetahui dimana batas kemampuannya – dan menggesernya! Tentu “tawaran” yang menggiurkan ini tidak gratis. Ada harganya. Banyak orang ingin menjadi versi yang lebih baik dari dirinya, namun tidak bersedia bayar harga. Segudang wacana pertumbuhan diri bagaikan selusin teori cara berenang; menerima tantangan kepemimpinan adalah tindakan menceburkan diri untuk belajar berenang.

Apakah kita yang sudah berjabatan gerejawi adalah orang-orang yang menerima tantangan ini? Belum tentu juga! Kadang-kadang kita yang sedang menjabat sedang terjebak dalam siklus-siklus yang menjemukan, menjalankan tugas kepenatuaan bermentalkan “just doing my job!” Celakanya, para pejabat yang baru naik pun “dimuridkan” untuk turut terjerumus dalam kemonotonan ini.

Generasi muda yang masuk ke dalam kepenatuaan pun larut dalam gaya kepemimpinan dan begereja yang makin out-dated. Tujuan gereja sebagai komunitas yang mengemban misi Allah pun hanya karangan indah belaka. Dengan kata lain, masa jabatan tidak identik dengan masa pertumbuhan. Bisa jadi yang terjadi hanyalah beberapa kali pengulangan yang sama untuk mengaminkan pepatah “menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.

Keengganan manusia untuk merangsek melewati ambang batas (treshold) kapasitas diri ini bukan barang baru. Biasanya hal ini disebabkan karena fokus pada diri sendiri, bukan misi atau pun pemberi misi. Seperti ungkapan Nabi Musa: “Ya, Tuhan, saya bukan orang yang pandai bicara, baik dahulu maupun sekarang, sesudah TUHAN bicara kepada saya. Saya berat lidah, bicara lambat dan tidak lancar.” (Kel. 4:10, BIMK).

Tantangan gereja ke depan sangat besar. Jika GKI ingin menjadi entitas yang berdampak, maka kuncinya ada di tangan para penatua – dan pendeta, tentu saja. Kitalah empunya para penentu kebijakan yang berdampak luas melalui rapat-rapat yang kita hayati sebagai sarana pencarian kehendak Allah agar gereja menjadi relevan. Kapasitas kepemimpinan kita dibatasi oleh kapasitas pertumbuhan diri.

Apakah karena beratnya tantangan pertumbuhan diri membuat sebagian orang enggan menjabat sebagai penatua gereja? Entahlah. Namun bukankah dari sudut pandang ini kesempatan menjadi pejabat gerejawi menjadi sarana yang disediakan Allah bagi kita bertumbuh? Apalagi pekerjaan ini disebut-sebut sebagai pekerjaan yang indah karena Sang Pemberi Kerja adalah Allah sendiri!

Bagaikan pelari yang belajar untuk rutin bangun pagi, melakukan workout walau kadang harus sendirian, hujan diterjang, tidak menjadi budak dari mood-nya serta membiasakan diri merasa tidak nyaman agar berhasil, maka demikian pula jalan yang harus kita tempuh.

Kita perlu menempa diri untuk menjadi pribadi yang memiilki horison pikiran yang luas, konsisten belajar Alkitab secara mandiri, berani berpendapat, handal menguasai diri, relaks saat menerima masukan, bermental pembelajar sekeras baja, serta rendah hati saat berefleksi.

Jika kelak anggota jemaat melihat para penatua yang menjabat ini menggunakan peluangnya untuk bertransformasi, bukankah itu secara tidak langsung merangsang keinginan mereka untuk menjadi penatua? “Saya melihat kamu ini berbeda antara sebelum dan sesudah menjabat. Selamat, ya!” Demikian mungkin komentar kepada seorang penatua muda yang turun dari jabatan.

Sebaliknya, penatua yang hanya mengesankan keletihan, kerepotan dan output-nya hanya pribadi berbelepotan akan menggelitik untuk rasan-rasan manis-sedap dengan temannya saat penatua tersebut turun dari jabatannya. Begini mungkin bunyi rasan-rasan-nya: “Dia sudah menjabat hampir lima kali. Tetapi kok ya masih gitu-gitu aja, ya?

Wahai para penatua, selamat menerima tantangan menjadi pemimpin-pemimpin gereja. Pertumbuhan Saudara adalah kunci pertumbuhan gereja. Pertumbuhan gereja dibatasi oleh tingkat pertumbuhan Saudara.

Selamat menerima tantangan untuk menjadi murid Kristus yang lebih matang. Selamat memimpin gereja mendekati misi Allah. Jika saatnya kelak kita meletakkan jabatan karena masa pelayanan kita usai, jawablah dua pertanyaan ini: (1) Sudahkah kita ter-update? (2) Sudahkah gereja kita ter-update?

Penulis: Pdt. Andy Gunawan (Sekum BPMK GKI Klasis Priangan).

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.