Tak terasa perayaan Paskah semakin dekat. Mengikuti penanggalan Gereja Barat, hari Minggu depan (5/4), sudah memasuki Minggu Palma. Artinya pekan suci atau Masa Raya Paskah pun dimulai. Dimana rangkaian Kamis Putih, Jumat Agung hingga Minggu Paskah akan dijalankan.

Paskah tentu punya tempat tersendiri dalam tradisi gereja. Ada beragam momen yang mengisinya. Bahkan di beberapa tempat yang kental warna kekristenannya, Paskah bisa menjadi festival milik masyarakat. Di Indonesia, misalnya ada sejumlah ziarah yang dilangsungkan oleh jemaat Kristen atau festival besar seperti Semanta Sana di Flores.

Gereja-gereja Protestan, meski tidak semeriah Gereja Katolik, juga punya momen yang spesial saat Paskah. Beberapa gereja terbiasa melangsungkan perjamuan Kudus saat Jumat Agung atau Minggu Paskah. Demikian pula ada yang menjalankan ritual pembasuhan kaki di Kamis Putih atau momen doa refleksi di Sabtu Sunyi. Tak ketinggalan anak-anak sekolah minggu biasanya mencari atau menghias telur paskah di pagi hari Minggu Paskah.

Namun, tampaknya tahun ini semua itu harus berubah. Pembatasan interaksi fisik yang diterapkan di banyak tempat demi mencegah penularan Covid-19, tentu membuat perkumpulan jemaat merayakan Paskah tidak dimungkinkan.

Gereja Katolik sejak dua minggu lalu (16/3) telah memutuskan agar missa dan semua perayaan Pekan Suci diselenggarakan tanpa kehadiran publik. Demikian pula gereja-gereja Protestan Indonesia telah dihimbau untuk menaati aturan pemerintah yang membatasi pertemuan publik dalam skala besar.

Lantas apakah Paskah jadi kehilangan makna? Inilah yang menjadi pergumulan tersendiri di tahun ini. Bertahun-tahun kita merayakan Paskah dengan banyak bertumpu pada momen-momen ibadah dan perayaan yang mempertemukan kita secara fisik. Bisakah kini kita merayakan dan memaknai kematian dan kebangkitan Kristus melampaui hal itu semua?

Bisa jadi inilah momen paling tepat dan sangat dekat untuk memaknai Paskah. Kita sadar kepanikan, keputusasaan bahkan kematian ternyata begitu dekat dengan kita. Hal-hal itu pun telah merenggut kehidupan dan harapan orang-orang yang kita kasihi. Dalam kesedihan yang mudah membuat kita berputus asa ini, kini kita disapa oleh berita Paskah yang menjadi pusat iman kita: Kristus telah bangkit mengalahkan kematian!

Sebagaimana disampaikan dalam surat penggembalan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia tahun ini, inilah waktu yang sangat tepat untuk merefleksikan dan mempersaksikan identitas iman kita sebagai umat kebangkitan. Umat kebangkitan adalah juga umat yang berpengharapan, ini yang memberi kontribusi yang mendorong kehidupan.

Semoga dalam sunyinya Paskah tahun ini, kita bisa menggali lebih jauh dan kemudian menampilkan identitas tersebut. **arms

Ilustrasi: Klikbaca

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.