Selama masa virus COVID 19 ini, tangan merupakan organ tubuh yang paling aktif dan ikut andil besar untuk menyebarkan virus COVID 19 ini. Sebab banyak yang kita sentuh dengan tangan kita, bisa jadi merupakan benda-benda yang sudah mengandung virus yang mematikan ini. Maka kita dianjurkan untuk tidak bersalaman,  sering-sering mencuci tangan, dan tidak banyak menyentuh benda-benda, termasuk wajah kita sendiri. Apalagi dalam sebuah penelitian berskala kecil yang pernah dilakukan, setidaknya orang akan menyentuh wajahnya secara otomatis sebanyak 23x dalam waktu 1 jam saja. Padahal bagian wajah yang kita sentuh itu malah merupakan area pintu masuk virus COVID 19 itu ke tubuh kita, sehingga makin besar saja andil tangan kita untuk menyebarluaskan virus COVID 19 ini ke banyak orang, termasuk diri kita sendiri.

Di sisi lain, di masa virus COVID 19 ini. banyak orang justru jadi tidak lagi bisa hidup normal.  Tukang cukur rambut tidak lagi bisa mencukur kepala para pelanggannya, tukang ojek online tidak lagi bisa mengangkut para penumpang, tukang pijat juga kehilangan semua pelanggannya. Hal serupa dengan para supir angkot, para penjaga toko di mall-mall, para asisten rumah tangga, para nelayan, dan para petani. Hampir semua orang tidak lagi bisa bekerja dengan tangannya di masa pandemi ini, termasuk para pendeta tidak lagi dapat beraktivitas seperti biasa dilakukannya. Tidak heran kenapa semakin banyak orang yang lapar, sampai pemerintah kita juga harus mengucurkan dana begitu besar untuk membuat bangsa kita tetap bisa makan selagi aktivitas mencari makan terpaksa berhenti di masa virus COVID 19 ini.

Kita  bersyukur, di tengah banyak orang yang tidak lagi bisa mempekerjakan tangannya, banyak orang  mengulurkan tangannya untuk sesamanya. Kita bahkan sering terharu mendengar kisah banyak saudara sebangsa yang berbuat sangat banyak untuk sesamanya itu dengan tangan-tangan mereka,  entah untuk menyembuhkan, untuk merawat, untuk menyalurkan, untuk mendoakan, untuk memanen, untuk menanam, untuk membersihkan, maupun untuk menguburkan para korban COVID 19 ini. Ini yang membuat saya jadi terpanggil untuk berbuat sesuatu dengan tangan saya ini. Salah satu yang terpikir adalah memakai kedua tangan saya untuk memasak, lalu membagikannya  kepada mereka yang membutuhkan. Walaupun saya bukan pakar masak, tetapi ada cukup banyak makanan yang bisa saya masak dengan kedua tangan saya ini. Apalagi banyak menu dapat dipelajari di google dengan begitu mudahnya. Saya sendiri termasuk orang yang meyakini, bahwa makanan yang sehat merupakan titik berangkat untuk memiliki tubuh yang sehat juga. Maka dapur dan meja makan, menurut saya adalah bagian penting untuk membuat tubuh kita tetap sehat dan stamina kita  tetap baik. Makanan yang sehat, buat saya seperti “senjata” untuk kita menangkal dan melawan serangan virus COVID 19 yang sudah memakan banyak korban ini. 

Kalau buat sebagian orang akan lebih simple membantu mereka yang lapar dengan memesan makanan di warung-warung makan dan lalu membagikannya kepada yang memerlukan, saya justru memilih untuk memasak sendiri  makanan yang mau saya bagi-bagikan itu. Kalau buat sebagian orang memesan makanan via aplikasi dan lalu memberikannya kepada para Ojol jauh lebih tepat, saya justru memilih untuk membeli, mengolah dan meracik sendiri bahan-bahan makanan yang akan saya bagi-bagikan itu. Kenapa saya memilih untuk memasak sendiri dan lalu membagi-bagikan sendiri juga makanan yang saya berikan itu?.. Jawabnya bukan karena saya kebanyakan waktu, bukan juga karena saya terlalu lebay; tetapi karena saya menginginkan:

  1. Orang yang menerima makanan dari saya merasakan juga kasih yang saya berikan. Ini sama seperti menyantap sayur asem masakan almarhumah mama saya dulu. Walau ada banyak sayur asem yang pernah saya makan, tetapi menyantap sayur asem yang khusus dimasak mama buat saya, sangat berbeda rasanya. Di situ saya juga mengecap seluruh kasih yang mama saya salurkan melalui masakannya itu. Maka kalau buat sebagian orang mengolah bumbu serta memotong dan mencuci sayuran merupakan pekerjaan yang mengesalkan; saya justru menikmati sekali proses mengolah seluruh bahan masakan saya ini. Bahkan saya suka sambil bernyanyi saat menyiapkannya. Dan kadang terpana, bahan-bahan yang tadinya terpisah-pisah itu kok bisa begitu menyatu padu menjadi sebuah masakan yang enak untuk disantap.
  2. Membeli dan mengolah sendiri bahan-bahan masakan saya, membuat saya jadi makin menyadari anugrah dan berkat Tuhan pada saya. Saat ini harga barang-barang memang lebih mahal. Kadang uang yang saya keluarkan untuk memasak jadi melebihi anggaran yang saya tetapkan. Tetapi hal ini justru menyadarkan saya, betapa banyak berkat yang sudah Tuhan berikan pada saya. Semakin banyak uang yang saya keluarkan, mengingatkan saya betapa banyak berkat yang Tuhan limpahkan pada saya. Juga dengan semakin banyak makanan yang saya bagikan, menyadarkan saya betapa banyak karunia Tuhan pada saya, yang seringkali kurang saya sadari dan syukuri. Bahkan ungkapan “Alhamdulilah” ataupun kata-kata: “Terima kasih bu Haji” yang keluar dari mulut orang-orang yang menerima pemberian dari saya itu menampar saya betulkah saya juga merasa bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan selama menerima pemberian-pemberianNya itu? …
  3. Memasak sendiri, membuat saya juga leluasa untuk memilih menu yang mau saya masak dan berikan. Kadang kalau bahannya tersedia, saya juga sengaja memasak yang “tidak biasa” sehingga si penerima juga ikut mencicipi menu yang berbeda. Bahkan dengan memakai bahan makanan sederhana, saya juga ingin mengajarkan dari bahan sederhana pun, bisa jadi masakan yang enak untuk disantap.   
  4. Memasak sendiri pasti akan jauh lebih murah daripada membeli. Saya tidak punya banyak uang. Itu sebab saya ingin dana “terbatas” yang sudah saya anggarkan ini, jadi bisa dipakai untuk memberi makan sebanyak mungkin orang. Dan ini betul sekali. Ibaratnya, kalau membeli hanya bisa mendapat 10 bungkus, saya bisa mendapat 17 pax makanan dengan memasak sendiri. Itu pun dengan jumlah yang jauh lebih banyak.
  5. Memasak sendiri, pastinya juga jauh lebih menyehatkan. Ini alasan ortu kita dulu selalu minta kita untuk makan di rumah saja daripada membeli di luar, bukan? Sebab bahan sudah tentu baik, proses pembuatannya juga lebih jelas dan bumbu-bumbu yang dipakai tentu lebih bertanggungjawab dan juga sehat. Walaupun tampilan makanan rumah mungkin kalah dibandingkan rumah makan, tetapi penyajiannya sudah pasti lebih sehat.    
  6. Saya ingin menghargai dan menghormati orang yang menerima makanan dari saya. Makanya saat memasak untuk orang, saya seperti memasak untuk diri saya sendiri. Semua bahan saya pilih dengan seksama. Semua proses saya lakukan dengan hati-hati. Dan rasa pun saya perhatikan. Bahkan saya harus beberapa kali mencicipi untuk meyakinkan saya bahwa semua rasa sudah pas. Saya tidak ingin gara-gara “makanan gratis”, lalu pengerjaan jadi asal-asalan. Maka saya sering berdoa saat sedang mengolahnya, supaya masakan yang saya buat itu enak rasanya dan menghadirkan “rasa senang” bagi yang menerima dan memakannya. Tidak sekedar enak dan sehat, saya juga sengaja meletakkannya di wadah yang baik. Buat saya, masakan seenak apapun; kalau dibungkus jadi satu akan kurang enak. Akan berbeda  kalau masakan itu diletakkan di wadah yang baik. Membuat si penerima juga merasa dihormati, dan membuat yang memakannya jadi merasa senang. Bukankah hal-hal ini membuat makanan yang disantap itu jadi bisa diserap tubuh dengan lebih baik dan berdampak positif untuk stamina dan kesehatan kita?…
  7. Saya ingin melihat dan bertemu secara langsung dengan orang-orang yang menerima masakan saya itu. Walau masa pandemi ini membuat interaksi saya jadi terhambat, hanya menyalurkan dari atas mobil; namun pertemuan singkat saya dengan orang yang menerima masakan saya membuat saya tahu kondisi yang sedang terjadi. Biasanya saya harus awas melihat orang-orang yang kira-kira butuh. Seringkali saya merasa terharu melihat respons mereka, cuma mendapat sekotak nasi saja kok responsnya begitu penuh syukur dan berterima kasih. Dan seringkali saya justru merasa sedih, harus melewati orang-orang yang saya anggap butuh itu karena jumlah nasi yang ada sudah tidak cukup untuk semua orang yang saya jumpai itu. Dan ini yang membuat saya jadi terpanggil untuk memasak lagi dan lagi. Sebab banyak orang yang lapar. Banyak dari mereka seringkali bekerja dengan perut masih kosong. Banyak orang butuh makan, sedangkan uang yang mereka miliki begitu terbatas. Saya berharap sedikit makanan yang saya masak dan berikan itu, bisa membuat beberapa orang jadi lebih kenyang dan juga lebih sehat.

Saya jadi teringat tulisan guru saya, Pdt.Em.Andar Ismail dalam buku: Selamat Berpulih di halaman 21:

Kristus,

tangan-Mu membagi roti dan ikan,

tangan-Mu memeluk anak yang disingkirkan,

tangan-Mu merangkul orang buangan,

tangan-Mu meredakan badai topan,

tangan-Mu menyalami bangsa Samaria,

tangan-Mu menjamah penderita kusta,

tangan-Mu mendoakan murid segala zaman,

bahkan

tangan-Mu dipaku dan disalib.

Tangan-Mu itu, ya, Tuhan

tangan yang memulihkan.

Maka kulipat tangan seraya bersembah:                                             

Kristus berkatilah tangan yang memasak dan menyaji, .

….        

tangan yang membersihkan dan membereskan

sebab tangan itu memulihkan.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan tangan kita. Apa yang mau kita lakukan dengan kedua tangan kita ini? …Apa yang sudah kita kerjakan dengan tangan pemberian Tuhan ini?… 

Selama ini : 

  • Tangan kita lebih digunakan untuk bekerja, atau terlipat?
  • Tangan kita lebih banyak menjadi saluran berkat, atau malah saluran virus?
  • Tangan ini lebih sering kita pakai untuk memulihkan, atau menghancurkan?
  • Tangan ini lebih kita fungsikan untuk berbagi pada sesama, atau meminta pada Tuhan?
  • Tangan ini untuk menghadirkan kasih Tuhan, atau sekedar untuk mengurus diri kita sendiri?

 

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.