“Pa, sampai kapan kita harus terus tinggal di rumah?” tanya seorang anak kepada ayahnya.

“Papa tidak tahu, Nak… kita berdoa ya, supaya keadaan ini dapat kembali pulih,” kata sang ayah.

“Lalu, kapan Mama pulang ke rumah?” tanya anak itu kembali.

Ayahnya menjawab sambil berlutut dan memegang pundak sang anak, “Mamamu adalah seorang perempuan yang luar biasa. Sebagai dokter, ia tengah merawat pasien yang membutuhkan pertolongannya. Dan… supaya kita tetap sehat, Mama untuk sementara tidak pulang ke rumah dulu. Toh, kita tetap dapat ngobrol dengan Mama lewat video call.”

“Apakah Mama akan baik-baik saja?” tanya sang anak.

Sambil memeluk anaknya, sang ayah berkata, “Mama dan kita akan baik-baik saja, Nak… asalkan kita memohon pertolongan dari Tuhan. Bukankah Ia telah bangkit dari maut?”

***

Percakapan imajiner di atas menunjukkan bahwa situasi kehidupan kita oleh karena pandemi Covid-19, sungguh sangatlah tidak mudah. Apalagi, di DKI Jakarta telah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tidak lama lagi, Bodebek (Bogor, Depok dan Bekasi) akan menyusul, seiring permohonan pemerintah Jawa Barat kepada Menteri Kesehatan RI.

Ada banyak perusahaan yang harus memperpanjang pemberlakuan Work from Home (WfH). Pusat-pusat perbelanjaan diminta untuk tutup, kecuali pasar swalayan yang menyediakan kebutuhan pokok. Sekolah-sekolah tutup, sebab para guru menyiapkan aneka materi pengajaran agar para siswa dapat belajar dari rumah. Para pekerja informal kesulitan mendapat kepastian penghasilan. Para pengemudi ojek online (ojol) mengalami penurunan penghasilan yang cukup drastis, apalagi supir angkot dan taksi. Rumah-rumah ibadah, termasuk gereja, nyaris tutup, karena mengalihkan ibadah ritual-komunalnya di rumah-rumah jemaat.

Sampai kapan ini terjadi? Kita belum bisa memastikannya. Puncak kurva penyebaran penyakit belum juga tampak – apalagi kita lalui. Pemerintah sendiri mengantisipasi situasi ini akan terjadi sampai bulan Juni. Hal itu tampak dari disiapkannya paket bantuan sosial kepada masyarakat terdampak selama 3 bulan.

Lalu, bagaimana hingga bulan Juni nanti, gereja-gereja belum dapat menyelenggarakan ibadah ritual-formalnya di tempat kebaktian jemaat? Tentu saja hal ini menjadi sebuah kemungkinan yang bisa terjadi sebagai wujud dukungan gereja bagi upaya pemerintah menanggulangi wabah penyakit. Lalu, bagaimana jika penerimaan gereja berupa persembahan tidak seperti biasanya? Beberapa gereja – termasuk gereja yang jemaatnya banyak – mengalami penurunan persembahan yang sangat signifikan, hingga 65 – 70%.

Apakah ini menjadi suatu persoalan? Bisa “ya”, bisa juga “tidak”. Tergantung dari mana kita melihatnya. Penurunan persembahan menjadi persoalan untuk mendukung biaya operasional gereja, seperti: membayar iuran listrik, air, telepon, dan juga gaji karyawan/ti. Namun penurunan persembahan tidak menjadi persoalan untuk membiayai aneka kegiatan gereja, sebab bukankah gereja menghentikan sebagian besar kegiatannya?

Di sisi lain, jemaat sebenarnya tetap antusias memberikan persembahannya. Ada yang mempersembahkan masker kain ke gereja; ada yang mempersembahkan hand sanitizer dan sabun cair cuci tangan; ada yang mempersembahkan tenaganya untuk menuangkan hand sanitizer ke dalam botol-botol kecil untuk dibagi-bagikan; ada yang mempersembahkan uang untuk mendukung karya sosial gereja terkait pandemi Covid-19; ada yang memasak sehingga ada makanan gratis untuk didistribusikan; ada yang membuat washtafel umum; ada yang mengirimkan makanan untuk disantap karyawan/ti gereja – di saat banyak tempat makan tutup; dan ada juga yang menjadi relawan untuk membagi-bagikan bantuan gereja kepada mereka yang membutuhkan. Semua hal yang disebutkan tadi adalah juga wujud persembahan – yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Memang tidak langsung menunjang biaya operasional gereja. Namun hal-hal itu juga adalah wujud persembahan – yang tidak boleh diabaikan.

Lantas, apa yang perlu gereja perhatikan terkait dengan gejala adanya “penurunan persembahan”.

***

Rata-rata gereja mempekerjakan sejumlah orang – entah sebagai penata usaha, staf rumah tangga, petugas keamanan, dan juga mungkin supir gereja. Beberapa gereja bahkan didukung oleh sejumlah pekerja dari perusahaan alih daya (outsourcing). Di saat seperti sekarang ini, tidak banyak yang dikerjakan oleh mereka di gereja. Toh, gereja tengah semi-aktif.

Merumahkan karyawan dalam kegiatan WfH tentu adalah pilihan yang baik, karena itu mendukung upaya pemerintah untuk memutus rantai penularan SARS-Cov-2, penyebab Covid-19. Namun merumahkan mereka dengan disertai pengurangan aneka hak, atau bahkan memutus hubungan kerja dengan pekerja alih daya, dengan alasan tidak ada yang dikerjakan oleh mereka di gereja, dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, bukanlah hal yang etis. Di saat seperti ini, justru gereja dipanggil untuk melakukan apa yang kerap dikhotbahkan di mimbar-mimbar: “kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri”.

Yesus yang bangkit, taat dan setia pada misi penyelamatan Allah agar manusia yang lemah dan tidak berdaya, memiliki pengharapan baru. Karena itu, tidak patut bagi gereja untuk menghapus pengharapan yang ada dalam diri para karyawan gereja hanya dikarenakan gereja sedang mengalami krisis penerimaan persembahan.

Justru pada saat inilah warga gereja perlu diajak untuk terlibat dalam upaya untuk “berbagi roti” dengan mereka. Pada momen Jumat Agung dan Paskah tahun ini, jemaat-jemaat GKI menunda pelaksanaan Perjamuan Kudus. Biasanya, dalam Perjamuan Kudus, pendeta – selaku pelayan sakramen, memecah roti dan menuang anggur, untuk dibagi-bagikan kepada umat melalui penatua. Namun kali ini, tidak ada roti dan anggur yang dibagikan. Perjamuan Kudus itu ditunda.

Akan tetapi, apa yang sakramental itu sesungguhnya tidak boleh berhenti hanya pada sekadar ritual. Apa yang sakramental seharusnya mewujud dalam gaya hidup “berbagi roti” – sesuatu yang saya yakin sudah dilakukan oleh umat Tuhan. Kini, panggilan “berbagi roti” itu ditujukan untuk menopang para karyawan gereja.

Jika suatu gereja mempekerjakan 5 orang karyawan, maka yang dihidupi oleh gereja bisa jadi berjumlah 20 orang; dengan asumsi setiap karyawan telah menikah dan rata-rata memiliki 2 orang anak. Gereja yang melayani banyak anggota, bukan tidak mungkin memiliki 25 orang karyawan, dan itu berarti gereja dapat menghidupi sekitar 100 orang.

Dan… gereja hanya mampu menghidupi mereka, jika gereja tetap mendapat topangan persembahan dari umatnya. Itu berarti, warga gereja tidak boleh menunda “berbagi roti”.

***

Bagaimana caranya untuk tidak menunda “berbagi roti”?

  • Tetaplah lakukan kebaikan untuk menolong sesama yang membutuhkan. Solidaritas adalah sewujud tindakan kasih.
  • Sebagai umat, Saudara dapat tetap menyalurkan persembahan syukurnya kepada gereja. Memberikan donasi kepada lembaga atau badan sosial khusus tentu bukan hal yang buruk, namun membiarkan orang yang dekat dengan Saudara menderita berkekurangan, tentu bukan hal yang baik.
  • Sebagai pimpinan Jemaat, Saudara perlu membicarakan realokasi anggaran dengan para kolega, agar gereja dapat tetap menghidupi karyawati & karyawannya. Persoalan memang menjadi pelik jika Jemaat Saudara tidak memiliki anggaran yang memadai. Namun Saudara diberikan hikmat oleh Allah untuk mengupayakan cara-cara yang kreatif namun tetap dalam koridor iman, untuk mengatasi situasi tersebut.
  • Jika Saudara adalah pimpinan di lingkungan tempat tinggal (RT/RW), pastikanlah warga Saudara yang benar-benar tidak mampu untuk terdata dengan tepat oleh kelurahan atau dinas sosial atau badan lainnya, sehingga mereka mendapatkan bantuan pemerintah secara adil dan tepat sasaran.
  • Jika Saudara adalah pemilik perusahaan, upayakanlah tetap “berbagi roti” kepada karyawan/ti yang ada. Perusahaan atau dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan company, sesungguhnya akrab dengan tindakan “berbagi roti”. Kata company berasal dari dua kata Latin, yaitu: cum (= dengan atau bersama) dan panis (= roti). Jadi, company didefinisikan secara harfiah sebagai one who breaks bread with another. Perusahaan, ternyata punya panggilan iman untuk terus “berbagi roti” dengan sesama, terutama para pegawainya. Tetap berbagi roti di tengah penurunan pendapatan, tentu bukan hal yang mudah. Namun kita diberikan hikmat untuk dapat mencari jalan keluar yang mendatangkan damai sejahtera.
  • Contoh lainnya dapat Saudara tambahkan sesuai dengan konteks yang tepat.

Saudari dan Saudaraku, Yesus yang bangkit, terus memecahkan dan membagi roti kepada dua orang murid-Nya sewaktu mereka telah tiba di Emaus (Luk. 24:30). Yesus yang bangkit, memberi makan para murid-Nya ketika mereka tidak mendapatkan ikan tangkapan (Yoh. 21:12). Itu berarti, berita di seputar Paskah, bukan semata-mata bicara tentang kehidupan setelah kematian atau kebangkitan orang mati. Namun berita Paskah juga mengajarkan kita tentang tindakan konkret Allah dalam memenuhi kebutuhan fisik / material manusia, dalam hal ini makanan (dan minuman). Perjamuan Kudus kita memang ditunda, namun kita rindu memilih untuk tidak menunda praktik “berbagi roti”. Selamat Paskah 2020. Selamat meneruskan tindakan kasih Allah yang menopang dan memelihara kehidupan.

Author