Saya teringat beberapa bulan lalu menyaksikan Bill Gates berbicara di acara TED talk melalui kanal youtube. Ia mengatakan beberapa puluh tahun lalu, bencana terbesar yang ditakutkan oleh umat manusia adalah perang nuklir. Ledakan bom atom yang mengakhiri Perang Dunia kedua, yang kemudian dilanjutkan dengan Perang Dingin antara blok Timur dan blok Barat, menjadikan ketakutan akan bencana nuklir itu sesuatu yang sangat nyata bagi masyarakat dunia. Banyak orang membuat bunker perlindungan, menyimpan perbekalan tahan lama, sebagai antisipasi kalau sampai perang nuklir benar terjadi. Bahkan, kalau kita menonton tayangan televisi tentang doomsday prepper, yaitu orang-orang yang sangat serius mempersiapkan diri apabila ada bencana besar terjadi, kita dapat melihat pola-pola penyelamatan diri yang sangat dipengaruhi era perang nuklir tersebut.

Tapi menurut Gates, sekarang ini resiko bencana terbesar yang umat manusia hadapi adalah epidemi virus menular: “If anything kills over 10 million people in the next few decades, it’s most likely a highly infectious virus, rather than a war. Not missiles, but microbes.” Selama ini, kita telah menaruh sangat banyak sumber daya untuk mencegah perang nuklir, namun sangat sedikit dalam pencegahan epidemi. Kita harus melakukan sesuatu!

Ceramah Bill Gates tersebut, ia sampaikan pada bulan Maret 2015 lalu. Berarti sekitar 5 tahun sebelum masyarakat dunia akhirnya berhadapan dengan epidemi Covid-19 ini, prediksi akademis yang sangat meyakinkan telah disampaikan oleh Bill Gates kepada tokoh-tokoh dunia, pakar-pakar yang bergerak di bidang terkait, dan lembaga-lembaga yang dapat melakukan sesuatu untuk mempersiapkan diri. Dan seluruh dunia tergagap ketika akhirnya disrupsi global dalam wujud tak terduga itu menghantam, termasuk juga gereja.

Saat ini kita mengalami disrupsi hebat. Disrupsi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu gangguan atau masalah yang menginterupsi sesuatu yang sedang berjalan. Tidak semua disrupsi memiliki potensi untuk menggoncang tatanan yang ada. Terkadang disrupsi hanya menjadi selingan yang berlalu dengan sendirinya, seperti isu soal karunia bahasa Roh, baptis ulang, atau Torronto Blessings di pertengahan decade 90-an, dan banyak fenomena-fenomena serupa dalam hidup bergereja. Mereka hadir, menjadi pokok perbincangan hangat, tetapi tidak sampai mengganggu tatanan yang berjalan.

Namun disrupsi juga bisa datang dan akhirnya menciptakan “the new normal”, yaitu sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak lazim namun kemudian menjadi hal umum. Disrupsi semacam ini senantiasa terjadi sepanjang dinamika sejarah gereja, mulai dari hal sederhana seperti penggunaan instrumen musik band, teknologi multimedia, dan sampai kepada gerakan Reformasi itu sendiri. Bukankah Reformasi Protestan merupakan disrupsi terhadap tatanan gereja?

Di satu sisi, kita merasakan duka yang hebat atas tragedi kehidupan yang sedang kita jalani. Kita menangis bersama mereka yang merasakan langsung penderitaan dan kehilangan. Kita berdoa dalam pengharapan untuk pemulihan dan bangkitnya kembali kehidupan. Tetapi di sisi lain, momen ini juga menjadi kairos bagi kita untuk menelaah kembali keberadaan kita sebagai gereja. Disrupsi dapat menjadi kesempatan emas bagi kita untuk menemukan kembali (re-finding), menyuling kembali (refining), dan mendefinisikan kembali (redefining) mana yang pokok dari jatidiri kita sebagai gereja. Pola kelembagaan, mekanisme pengambilan keputusan dan persidangan, sistem penata-layanan, pemahaman kita tentang jabatan gerejawi, dan banyak lagi sendi-sendi bergereja yang seperti lumpuh di tengah disrupsi yang kita alami saat ini. Ibadah berhadap-hadapan dengan layar, rapat melalui aplikasi computer, paduan suara dengan mengkompilasi rekaman individu menjadi satu, sejauh ini model-model demikian tampaknya menjadi solusi sementara untuk mengatasi keterbatasan yang terjadi.

Banyak metode kreatif dan menarik yang kita coba lakukan saat ini. Tetapi pertanyaan utama yang perlu kita ajukan ketika menghadapi disrupsi adalah, apakah jangan-jangan kita sekedar memberi bungkus baru terhadap pola pikir dan asumsi bergereja gaya lama? Kalau boleh saya bahasakan ulang, kurang lebih seperti ini: Kalau mau jualan kamera saat ini, anda bisa membuat kamera digital dengan model/kemasan berwujud kamera klasik. Tetapi jangan membuat kamera model digital, tetapi menggunakan sistem kerja kamera usang. Dalam menghadapi perubahan konteks yang hebat sekarang ini, penting kita menyadari pendekatan mana diantara dua hal di atas yang sedang kita lakukan sebagai gereja.

Kiranya hikmat Tuhan menuntun kita mengarungi samudera perubahan ini.

Author