Bisa jadi, inilah pertanyaan yang belakangan ini kerap kita lontarkan: Sekarang hari apa? – Sebab, sejak diberlakukannya stay at home dan work/school from home, kebanyakan kita jadi seperti kehilangan panduan waktu. Biasanya jadwal kita terkait erat dengan sebuah hari. Misalnya saja, hari Minggu adalah jadwal ke gereja, lalu mengajak anak-anak mengunjungi mertua. Hari Senin sudah dijadwalkan untuk rapat dengan seorang klien di Surabaya. Kembali lagi ke Jakarta pada hari Selasa. Hari Rabu, seperti selalu kita lakukan, adalah saat untuk latihan paduan suara. Selanjutnya hari Kamis menjadi hari untuk melakukan rapat dengan tim internal di kantor. Hari Jumat sudah dikhususkan untuk persiapan Kebaktian Minggu di gereja. Sedangkan hari Sabtu, giliran berenang bersama keluarga. Lalu, tahu-tahu kita sudah kembali bertemu hari Minggu lagi. Tidak ada kegiatan yang tidak melekat pada suatu hari tertentu.

Tapi, sekarang, bagi sebagian besar kita, hari Senin tidak jauh berbeda dari hari Rabu. Dan, kita mengalami kesulitan membedakan hari Kamis dengan hari Jumat. Karena semua hari nyaris tidak ada bedanya. Baik kemarin, atau hari ini, atau besok, atau pula, lusa, rasanya sama saja. Itu sebabnya kita kerap menjadi bingung dan bertanya, “Sekarang hari apa, ya?”

Menyimak Kisah Penciptaan dalam Kitab Kejadian, kita diingatkan bahwa setiap hari sesungguhnya teramat-sangat penting. Sebab, pada setiap hari, Tuhan mengerjakan sesuatu yang khusus dan spesial, yang kemudian dinilai-Nya sebagai “baik” dan “sungguh amat baik” (bdk. Kejadian 1:25, 31) Belajar dari Tuhan, ternyata mengerjakan sesuatu yang baik akan membuat suatu hari terasa sebagai hari yang istimewa. Selanjutnya, bertolak dari hari ini yang terasa istimewa tersebut, kita jadi bersemangat menantikan hari besok. Apa ya hal baik yang akan kita kerjakan sehingga besok terasa istimewa?

Nah, semoga daftar berikut ini bisa menginspirasi kita: Hari Minggu, kita mendoakan semua yang berkebaktian online di rumah masing-masing. Hari Senin, kita menghitung sebanyak-banyaknya kebaikan pasangan dan anak-anak. Hari Selasa, giliran para tenaga medis di berbagai rumah sakit yang kita doakan. Hari Rabu, kita mendaftarkan sebanyak-banyaknya kebaikan mertua. Hari Kamis, kita mendoakan saudara-teman-tetangga yang harus bekerja di luar rumah. Hari Jumat, kita membuat daftar hal-hal menyenangkan yang bisa kita lakukan di rumah. Hari Sabtu, kita berdoa untuk Pemerintah Pusat dan Daerah di seluruh Indonesia. Saat kembali pada hari Minggu, kita bisa menyusun daftar yang baru. Tentu saja, setiap kita bisa berkreasi dengan daftar ini, karena memang masih banyak yang bisa kita lakukan, bukan? Dengan melakukan hal ini kita mendapatkan penegasan sebagaimana disampaikan dalam Kitab Amsal 23:18, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Soli Deo Gloria! (TCS)

Author