Saya teringat sebuah cerita yang pernah saya baca dalam buku Wajah Yesus di Asia. Byung Mu Ahn dalam tulisannya Yesus dan Rakyat Minjung, menceritakan bagian dari drama The Gold Crowned Jesus karangan Chi-Ha Kim. Adegan berlangsung di depan sebuah gereja Katolik. Ada sebuah patung Yesus terbuat dari semen, hanya mahkota dari patung itu terbuat dari emas. Di bawah patung itu berkumpul pengemis-pengemis. Suasana digambarkan sangat dingin pada saat itu. Beberapa orang lewat di depan pengemis-pengemis itu, mulai dari seorang yang bergaya bak pengusaha, seorang imam berperut buncit, sampai seorang polisi. Namun ironisnya tidak ada satu orangpun dari mereka yang memberikan sedekah. Bahkan adegan itu berakhir tragis, sang polisi mendorong-dorong, mengusir pengemis-pengemis itu dan akhirnya berakhir dengan sebuah kesepakatan rahasia, pengemis-pengemis itu membayar “denda” agar dapat tetap ada di bawah patung Yesus itu.
Adegan dilanjutkan dengan seorang pengemis yang menangis. Dengan suara keras, ia meratapi nasibnya, yang terlunta-lunta, susah payah berjuang dan tidak dapat hidup layak. Dia merasa putus asa dengan kehidupannya. Matanya penuh dengan air mata saat ia melihat patung Yesus. Ia bergumam dan mengatakan bahwa Yesus hanyalah Juruselamat orang berada dan bukan Juruselamat untuk pengemis macam dirinya. Dengan marah ia mengatakan, Yesus yang ada saat ini hanyalah Yesus yang terbuat dari semen yang hanya bisa bungkam, tidak bisa apa-apa. Pengemis itu menangis terisak-isak, dan saat ia menangis ia merasakan tetesan air menjatuhi tangannya, ia berpikir itu adalah air hujan. Ia melihat ke atas dan ia tidak melihat langit hujan. Ia melihat kepada patung Yesus itu dan ia kaget patung Yesus itu menangis. Patung Yesus itu mengeluarkan air mata. Pengemis itu tidak hanya melihat Yesus yang menangis, namun ia baru menyadari makhota yang dikenakan Yesus itu terbuat dari emas. Tiba-tiba patung itu digambarkan bicara dan mengatakan, silahkan ambil mahkota emas ini. Selama ini saya terbungkam dalam semen, tidak mampu berkata-kata padahal saya ingin diam di antara orang-orang seperti kamu. Saya ingin sekali ada bagi orang-orang yang membutuhkan persis seperti kamu.
Yaa… Yesus digambarkan terbungkam dalam semen. Yesus tidak lagi bisa hadir untuk mereka yang papa dan membutuhkan. Mahkotanya tidak berguna. Mahkota itu hanya tertempel indah menjadi dekorasi pada patung semen itu.

Di saat ini saya kembali teringat akan cerita di atas. Pandemi Covid-19 ini memang membawa perubahan yang luar biasa. Pandemi Covid-19 ini juga merengut keberadaan orang-orang yang kita kasihi. Kematian yang biasanya seolah jauh sekarang menjadi dekat dengan kehidupan kita dan menjadi begitu nyata di depan mata kita. Namun, ada yang menarik saat kita merayakan Paskah saat ini. Paskah yang biasanya hanya milik jemaat. Paskah yang anggarannya berjuta-juta rupiah dan dihabiskan dengan berbagai bentuk perayaan yang berarti menyediakan konsumsi, souvenir dan lain sebagainya. Paskah yang memang memberikan ruang untuk Aksi Paskah, namun toh tetap saja tidak sebanding dengan berjuta-juta anggaran untuk perayaan Paskah. Ya Paskah model itu tidak bisa lagi kita rayakan. Covid-19 mengubah perayaan Paskah kita. Covid-19 membebaskan Yesus dari perayaan yang hanya dinikmati oleh kita menjadi sebuah perayaan yang dinikmati oleh semua tanpa terkecuali. Uang berjuta-juta yang biasanya hanya dinikmati oleh kita dalam gedung gereja, berubah menjadi beras yang dinikmati oleh keluarga yang kelaparan. Souvenir yang biasanya, harus kita akui berakhir teronggok sia-sia memenuhi rumah kita berubah menjadi APD yang dikenakan oleh mereka yang membutuhkan. Kidung yang kita lantunkan dalam Ibadah di gereja pun kita lantunkan saat kita berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Kesibukan yang terasa begitu gegap gempita di gereja, kini dirasakan di jalanan saat kita saling berbagi kehidupan. Ya Covid-19 memang kejam, ia merengut orang yang kita kasihi, ia merengut kebebasan kita. Namun di sisi lain Covid-19 memaksa gereja untuk membebaskan Yesus yang selama ini dikurung dalam gereja, dan membiarkan Yesus menjadi milik semua orang tanpa terkecuali. Covid-19 memaksa gereja melepaskan makhota emas yang menghiasi patung semen Yesus itu menjadi patung emas milik mereka yang tersisih dari kehidupan. Selamat Paskah… Mari beritakan KebangkitanNya dengan aksi nyata sehingga kabar sukacita itu menjadi milik semua orang tanpa terkecuali.

Author