There are two ways to be happy: change the situation, or
change your mindset towards it.

Ada dua cara untuk bahagia: ubahlah situasinya, atau
ubahlah cara pandangmu terhadap situasi tersebut.

*Unknown*

Yakinlah, cukup banyak di antara kita yang menantikan Kebaktian Paskah Subuh di halaman gereja. Ada sesuatu yang berbeda dari kebaktian yang satu itu. Mungkin karena lokasinya tidak di dalam gedung seperti kebaktian biasanya, melainkan di ruang terbuka, atau karena udaranya masih sejuk, tanpa perlu menggunakan penyejuk ruangan, atau karena kita bisa melihat perubahan warna langit dari gelap menjadi berkilau keemasan, saat matahari terbit dan seterusnya. Kita bisa mendaftarkan alasan-alasan lainnya. Dalam “sejarah” Paskah di berbagai Jemaat, Kebaktian Paskah Subuh adalah salah satu yang ditunggu-tunggu.

Sayangnya, pada Paskah tahun ini kebaktian yang di-favorit-kan banyak orang ini terkendala untuk dilakukan. Bahkan, bukan hanya Kebaktian Paskah Subuh, melainkan juga kebaktian-kebaktian serta kegiatan-kegiatan lainnya harus dialihkan dari tatap muka di gereja menjadi kebaktian dari rumah secara virtual. Sungguh, untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak!

Menurut kata-kata dari para bijak di atas, salah satu cara mendorong pergi kekecewaan dan menggantinya menjadi kegembiraan adalah dengan mengubah situasi yang dihadapi. Tapi masalahnya, kita tidak selalu bisa mengubah situasi tersebut. Dalam hal Covid-19, misalnya, betapapun inginnya dan maunya, kita tidak bisa begitu saja meniadakan Covid-19. Pula, sekalipun kita menyerukan sekuat tenaga, “Abrakadabra!”, situasi serba gamang ini tidak berubah menjadi serba aman. Kenyataan yang tidak bisa kita sangkal adalah kita memang tengah berada dalam situasi yang berisiko. Kegiatan berkumpul menjadi kegiatan yang membahayakan, baik untuk diri sendiri, juga orang lain. Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, seperti inilah situasi kita.

Jadi, tampaknya, kita harus berpaling pada alternatif kedua yang ditawarkan para bijak di atas, yaitu mengubah cara pandang kita. Maksudnya bagaimana? – Begini: Jika biasanya kita memaknai kemenangan Paskah pada fajar yang merekah di halaman gereja, misalnya, kini kita merasakan indahnya Paskah Subuh di teras rumah sendiri. Jika biasanya kita merasakan gegap-gempita Paskah pada drama yang diperankan para aktivis, kini kemeriahan Paskah kita nikmati saat bernyanyi dan membaca Alkitab bersama keluarga.

Betul, Paskah tahun ini memang tidak seperti yang kita harapkan. Namun, kita teramat-sangat bersyukur, karena kebangkitan Kristus memang sama-sekali bukan soal bagaimana peristiwa itu dirayakan. Kebangkitan Kristus adalah sebuah kenyataan yang tidak tersangkalkan, baik kita menghayatinya di gereja atau di rumah. Jadi, dimana pun berada, kita tetap bisa bernyanyi sepenuh syukur serta suara: “Kristus bangkit! Soraklah: Haleluya! Bumi, sorga bergema: Haleluya! Berbalasan bersyukur: Haleluya! Muliakan Tuhanmu! Haleluya!” SELAMAT PASKAH, SEMUANYA! Soli Deo Gloria! (TCS)

Author