Seorang narasumber sedang berbicara dalam sebuah seminar. Tiba-tiba saja seorang lelaki peserta seminar berdiri sambil mengangkat tangannya dan berkata dengan suara agak keras, “Interupsi, pak. Kalau bisa penyampaian materi ini disertai contoh-contoh konkrit. Supaya materi ini tidak terkesan teori saja. Terimakasih.” Kemudian peserta itu duduk kembali. Si pembicara agak sedikit terkejut. Beberapa peserta merasa kesal bahkan terkesan menghakimi. Beberapa peserta lainnya ada yang senang dan menaruh perhatian kepadanya, tetapi juga ada yang tidak acuh.

 

-o0o-

 

Pada 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan CoViD-19 sebagai pandemik (pandemus – Latin, pandemos -Yunani) atau yang berkaitan dengan banyak orang. Reaksi manusia dan dunia terhadapnya pun cukup bervariasi dengan pemahaman yang bisa saja didasarkan bukan hanya segi medis, tetapi politik, ekonomi bahkan budaya. Bagaimana dengan spiritual(nya) manusia? Apakah pandemik CoViD-19 ini hanya soal medis saja atau juga soal spiritual ?

 

Tidak ada salahnya jika kita melihat krisis pandemik CoVid-19 ini dengan kacamata iman, yaitu sebagai interupsi Tuhan yang menyapa untuk melakukan pembaharuan relasi dan interaksi kita dengan diri sendiri, sesama dan Dia, yang mengajak kita berbagi kecemasan atau kekhawatiran supaya tetap menghidupi hidup sambil terus memohon, “Tuhan, kasihanilah kami.” Dan saya berharap bahwa saya tidak hanya bisa lagi rutin donor darah, tetapi juga dimungkinkan dan mendapatkan kesempatan untuk donor plasma darah -yang katanya- akan sangat berguna untuk membangun antibodi dan menjadi vaksin bagi seseorang yang terinfeksi CoViD-19.

 

—o0o—

 

Pada tanggal 19 -23 Maret 2020 saya mengalami demam cukup tinggi, rata-rata 37,7°C – 38,8°C dan sakit kepala. Biasanya hanya dengan 1 tablet Panadol saja sudah bisa mengatasinya, tetapi kali ini tidak. Sehingga pada tanggal 23 Maret 2020 sore terpaksa saya memutuskan pergi ke rumah sakit. Setelah diperiksa, suhu badan saya mencapai 39,1. Memang, hasil pemeriksaan darah normal, tetapi dari hasil pemeriksaan rontgen paru-paru ditemukan adanya flek yang disebabkan oleh virus Pneumonia dengan diagnosa Thypoid dan Bronco Pneumonia. Sejak malam itu saya dirawat di rumah sakit (tanggal 23-25 Maret 2020) dengan status PDP (Pasien Dengan Pengawasan). Tanggal 25 Maret 2020 saya diizinkan pulang ke rumah, tetapi sebelumnya dilakukan pemeriksaan swab (tenggorokan) ke 1. Pada tanggal 02 April 2020 hasil pemeriksaan swab keluar. Hasilnya positif. Saya terinfeksi CoViD-19.

 

Syukur kepada Allah, karena setelah dilakukan pemeriksaan swab (tenggorokan) ke 2 dan 3 pada tanggal 17 April 2020 dan 04 Mei 2020, saya mendapatkan hasil pemeriksaannya tanggal 21 April dan 18 Mei 2020 adalah negatif. Dan, pada kesempatan ini, dengan segala hormat dan kerendah-hatian, kami mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah berdoa dan mendukung supaya kami tetap bersemangat dan berpengharapan kepada pertolongan Allah.

 

-o0o-

 

Dalam masa isolasi dan karantina mandiri, sejak tanggal 26 Maret – 01 April 2020, saya mendengar seorang rekan saya sakit dan mengalami kematian karena CoViD-19. Saya sempat mengalami kebingungan bahkan khawatir. Khawatir bukan karena kematian itu sendiri, melainkan karena sampai hari itu saya belum mengetahui hasil pemeriksaan swab ke 1, apakah positif atau negatif. Kalau hasilnya negatif, pastinya tidak akan ada masalah. Tetapi kalau hasilnya positif, bagaimana dengan isteri dan keponakan yang tinggal di satu rumah dengan saya ? Bukankah kehadiran saya di rumah cukup membahayakan kesehatan bahkan keselamatan mereka ? Bagaimana dengan anggota jemaat dan orang lain yang dalam waktu 2 minggu terakhir sudah berelasi dengan saya ?

 

Dalam kekhawatiran itu saya seperti diingatkan untuk datang lagi kepada Allah. Saya berdoa lagi supaya mempunyai ketenangan. Bersyukur, karena dalam prosesnya saya berangsur-angsur mengalami ketenangan. Sehingga ketika hasil pemeriksaan swab ke 1 diberitahukan posisitf, saya tidak terkejut. Saya bisa menerima dengan tenang bahkan tetap berfikir positif sekalipun saya positif CoViD-19 supaya memberi efek positif bagi diri sendiri, dan khususnya isteri saya. Sebab, dialah yang akan membantu dan juga merawat saya.

 

Di situ sepertinya, saya sedang diinterupsi oleh Allah. Berhentilah sejenak. Mengapa ? Mazmur 139:8 mengatakan, “Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.” Ayat ini mengingatkan saya. Kalau Allah ada di dalam dunia orang mati, maka Allah pun ada di dalam kekhawatiran saya. Pemahaman ini mengajak saya bukan untuk menghindar atau melarikan diri saya dari kekhawatiran, melainkan mengajak saya untuk menghampiri kekhawatiran bahkan masuk ke dalam kekhawatiran saya sendiri. Di dalam kekhawatiran itulah saya menemukan dan mengalami Allah yang mengulurkan tangan dan menuntun saya dari kegelapan kekhawatiran ke dalam terang-Nya yang memberi kelegaan. Saya tidak lagi khawatir. Dan dengan pengalaman itu saya merasa bahwa kasih karunia Tuhan itu cukup bagi saya.

 

-o0o-

 

Pada satu sisi, secara umum, pandemik CoViD-19 ini adalah musibah karena kurangnya persiapan untuk menghadapi dan menanganinya. Sebab, sesungguhnya, pandemik CoViD-19 ini bukan kejadian tak terduga. Secara khusus, tidak disangka, ternyata saya terinfeksi CoViD-19. Padahal, secara fisik, saya tidak memperlihatkan gejala batuk kering, sesak nafas, kecuali tanggal 19-23 Maret 2020 saya mengalami demam cukup tinggi dan sakit kepala. Selain itu, sepertinya, pengetahuan dan penyuluhan masyarakat mengenai pandemik CoViD-19 pun masih -bisa dikatakan- kurang. Sehingga memunculkan ironi. Ada stigmatisasi terhadap penderita CoViD-19, tetapi masyarakat tidak memahami penting dan perlunya mencuci tangan, menggunakan masker, melakukan social and physical distancing. Dan ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di beberapa wilayah pun tidak sedikit masyarakat yang mengabaikannya. Sehingga usaha pemerintah menangani penyebaran dan penularan CoViD-19 menjadi kurang bahkan tidak efektif.

 

Pada sisi lain, pandemik CoViD-19 ini menjadi sebuah interupsi kemanusiaan yang mungkin sudah mulai mengalami penurunan kualitas karena egoisme dan individualisme. Seperti seseorang yang kepadanya kami berharap bantuan, tetapi justru menghindar bahkan berusaha menghindarkan orang lainnya dari kami. Atau ketika ada seorang rekan yang ingin ke rumah kami untuk mengantar makanan, ada orang yang mengatakan: “Jangan ke rumah bapak itu. Bapak itu sudah terkena CoViD-19. Kalau ke sana, nanti bapak ketularan.” Tidak menyenangkan, memang. Tetapi di tengah stigmatisasi seperti itu, justru kami merasakan dan mengalami kemanusiaan dan kemurah-hatian dari rekan-rekan, baik dari dalam maupun luar kota. Ada yang mengirimi kami makanan, buah-buahan, obat-obatan, dsb. Sehingga selama isolasi dan karantina di rumah pun kami (saya, isteri dan keponakan yang sudah melakukan rapid test dan swab hidung, hasilnya negatif) tidak mengalami kesusahan. Sementara ada cukup banyak orang yang mengalami panic buying. Pandemik CoViD-19 ini seharusnya mengajak kita untuk menjadi manusia yang mempunyai kemanusiaan dan kemurah-hatian yang memotivasi kita untuk membantu mereka yang mengalami kesusahan karena CoViD-19, bukan melakukan stigmatisasi terhadapnya.

 

-o0o-

 

Ketika CoViD-19 mewabah hampir ke banyak negara, rumah ibadah, termasuk gereja, menjadi salah satu komunitas yang melibatkan banyak orang yang memungkinkan percepatan proses penularan dan penyebaran CoViD-19, sehingga ada himbauan pemerintah supaya beribadah di rumah. Himbauan ini menimbulkan pro dan kontra. Kebaktian di gedung gereja atau kebaktian virtual, yang memungkinkan menjadi gaya baru bersekutu, beribadah dan berkebaktian. Bergereja gaya baru. Hal ini tidak perlu dipertentangkan dengan tajam, anti gedung gereja atau anti virtual. Supaya keberadaan gereja tidak menjadi hal yang menyusahkan dan menyengsarakan umat Allah atau orang percaya. Gereja ada dalam perjalanan pengembaraannya bukan untuk membawa kematian, melainkan kehidupan. Bukan untuk menerima, melainkan memberi. Dan sesungguhnya, akan selalu ada banyak hal yang bisa membuat gereja berkarya dan memberi kehidupan dalam perjalanan pengembaraannya.

 

Gereja bukanlah satu-satunya penentu identitas umat Allah atau orang percaya. Dan gereja bukan Kerajaan Allah, tetapi gereja sedang berada dalam perjalanannya ke sana. Perjalanan pengembaraan panjangnya belum selesai. Ia seperti seorang pengembara yang tidak akan berhenti di satu tempat dan masa tertentu. Gereja tidak boleh berhenti. Sebab, bumi dan seluruh alam semesta ini tempat Allah berpijak dan berkarya. Dan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus di atas kayu salib harus terus diberitakan olehnya. Gereja bukan Kerajaan Allah dan Allah tidak selalu berada di dalamnya. Ia adalah Allah yang dinamis, penuh dinamika dan mahahadir yang setia. Gereja yang berhenti dari perjalanan pengembaraannya hanya akan menjadikan Allah seperti binatang liar yang dijinakkan dan dipelihara di rumah tanpa otoritas.

 

Di situlah, gereja bukan hanya sebagai penonton yang melihat perubahan yang sedang terjadi, melainkan masuk ke dalam perubahan itu. Menjadi pelaku perubahan. Jika gereja hanya melihat dan mengikuti perubahan, gereja akan selalu ketinggalan. Pesan rasul Paulus di Roma 12:1, gereja tidak boleh mengikuti bentuk (conform) dunia, melainkan harus ikut mengubah (transform) dunia. Gereja hadir dan berkarya mewarnai perubahan atau berkontribusi dalam perubahan itu. Bagaimana gereja menghadirkan realitas Allah dalam dunia virtual tanpa terjebak menciptakan Allah baru, Allah Virtual, sebagaimana dalam dunia nyata yang memungkinkan mengarahkan manusia untuk menjadikan dirinya sebagai manusia tanpa Allah sesungguhnya.

 

Hadirkanlah Allah dalam pengembaraan gereja di mana kaki berpijak dan berselancar dalam dunia virtual. Karena Gereja sesungguhnya tidak pernah berhenti sampai suatu masa di mana “... aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.” (Wahyu 21:22). Ada suatu masa, nanti, tidak ada gereja. Ketika gereja sudah berhenti di tujuannya, di dalam Allah dan Anak Domba, Yesus Kristus yang berkata “Sudah selesai … dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yoh. 19:30).

 

-o0o-

 

Ada meme stay @home dengan gambar seseorang yang sedang menggali kubur dengan kata-kata, “KALIAN DI RUMAH AJA, ATAU SAYA TUNGGU DI SINI.” Meme ini mau (1) memberitahukan kepada kita bahwa tinggal di rumah itu adalah hak istimewa. Karena tidak setiap orang di negeri ini mampu tinggal di rumah mengisolasi dan mengarantina diri. Isolasi dan karatina di rumah bukanlah sesuatu yang sulit, hanya saja membutuhkan penyesuaian dan komitmen yang kuat. Bukan saja dari pasien atau seseorang yang terinfeksi, tetapi juga dari anggota keluarga lainnya. (2) Mau mengajak kita menyadari bahwa hidup itu anugerah dan berharga, tetapi juga mau hidup menghargai kehidupan yang mengasihi sesama, bukan hanya diri sendiri. Hidup yang membawa dan memberi kehidupan, bukan kematian bagi sesama. (3) Mengajak kita bukan untuk berani mati, melainkan berani hidup. Karena tidak semua orang hidup berani menjalani dan memaknai hidupnya. Pesan rasul Paulus “ … jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Fil. 1:22).

 

-o0o-

 

Percayalah kepada imbauan pemerintah dan bekerjasamalah dengan para dokter dan tenaga medis lainnya. Sehingga ketika perjalanan hidup kita diinterupsi, kita tidak terkejut, emosi dan marah, melainkan menaruh perhatian, peduli dan bersyukur.

 

Interupsi tidak boleh diabaikan. Jika interupsi terjadi dan dilakukan pada saat yang tepat dan cara yang benar, ia akan sangat bermanfaat dan berdaya guna. Kita bisa berhenti sejenak untuk introspeksi dan koreksi supaya mengalami transformasi hidup yang berkarya dalam sejarah perubahan. Sehingga dengan kacamata iman, spiritualitas (gereja) berkontribusi terhadap dan dalam perubahan yang sedang terjadi pada saat ini dengan new normal dan adanya the issue of herd immunity (kekebalan kelompok) dan paska pandemik CoViD-19.

 

-o0o-

 

Dari pengalaman, beberapa hal yang dapat membantu menjaga kondisi kesehatan selama menjalani isolasi dan karantina mandiri di rumah, sbb:

  1. Cukup istirahat tidur (± 8 jam sehari).
  2. Olah raga ringan (pagi: ±08.00 – 10.00 WIB; ± 15-30 menit).
  3. Minum minuman sehat (pagi: juice buah-buah dan sayuran ± 400-500 ml. Minum air hangat dicampur potongan perasan jeruk lemon + kulitnya. Siang: Minum air putih + madu 2 sdm. Minum 1 kaleng susu (bear brand). Sore: Minum jamu (campuran: jahe, sereh, kunyit,temulawak, kayu manis, dll)).
  4. Berdasarkan konsultasi dengan dokter, karena tidak ada rekomendasi obat-obatan dari pihak rumah sakit / puskesmas, maka minum vitamin (Vit. C 1000 mg, Vit. E 300 iu, Imboost 1000 mg, Centrum Silver (Men 50+) 1 tablet).
  5. Makan makanan sehat dan bergizi (pagi + 1 telur rebus).
  6. Mengukur suhu tubuh sewaktu-waktu.
  7. Selama isolasi dan karatina mandiri di rumah tetap menerapkan social distancing, physical distancing, mencuci tangan dengan bersih, menggunakan masker. Jika ingin membicarakan hal penting dan panjang, bisa menggunakan chat atau video call.
  8. Jika di sekitar kita ada yang memperlihatkan gejala terinfeksi CoViD-19, kita yang sehat jangan memberikan asumsi apapun terhadapnya, lebih baik menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter / rumah sakit / puskesmas, supaya tidak memunculkan kekhawatiran dan aspek psikologis lainnya.
  9. Dengan tetap memperhatikan protokol CoViD-19, bantulah mempermudah keluarga yang sedang menjalani isolasi dan karatina mandiri, jangan mengisolasi dan menstigmatisasinya.
  10. Kita yang terinfeksi CoViD-19, tetaplah tenang dan berpikiran positif sambil bekerjasama dengan pihak rumah sakit / puskesmas, tetap menjalin dan memelihara relasi baik dengan Allah.
  11. Membuat kronologi kegiatan 2 minggu terakhir sebelum terinfeksi CoViD-19 dan menginformasikan kondisi anda kepada mereka yang pernah bertemu dengan anda agar menjaga kesehatan. Jika ada gejala, sebaiknya segera memeriksakan diri ke rumah sakit / puskesmas.

 

-o0o-

Author