Kapan kita bisa membicarakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan kita yang bernama KEMATIAN? Pada waktu kita masih sehat walafiat, bahagia, sukses, dan semua urusan berjalan lancar maka membicarakan kematian hanya mengganggu kenikmatan kita saja. Pamali – kata orang Sunda – atau ‘ra ilok’ – kata orang Jawa. Tidak pantas membicarakan kematian pada waktu kita masih baik-baik as usual. Pada waktu kematian itu terjadi atas orang-orang yang dekat dan kita kasihi, maka membicarakan kematian juga akan menambah kesedihan saja. Itu sebabnya tiap malam waktu ada anggota jemaat yang meninggal diadakanlah “Kebaktian Penghiburan” bisa setiap malam sampai jenazah dimakamkan atau dikremasikan (entah ini tradisi GKI sejak kapan). Apalagi jika yang meninggal seorang tokoh terkenal bisa pagi, siang, malampun ada Kebaktian Penghiburan. Bagaimanapun juga kematian pada masa Pandemi Covid-19 ini menjadi viral, dramatis, mengharu-biru khalayak termasuk kita yang suka disebut sebagai orang beriman. Kematian karena Covid-19 membuat agama, budaya, dan ilmu bahkan kekuasaan tidak berdaya sama sekali dengan semua dampak yang menyertainya.

Kematian sendiri sebetulnya bukan sesuatu yang baru atau istimewa. Barangkali timbul pertanyaan juga kenapa koq mesti ada kematian? Para penulis Alkitab juga berupaya menemukan jawabannya. Kej 3:3. Siapa yang makan buah yang dilarang Tuhan untuk makan ia akan mati, tetapi ternyata manusia itu tidak serta-merta mati (dengan segala penjelasannya). Ada yang menjelaskannya sebagai mati rohani meskipun di akhir kisah, Kej 3:19, diindikasikan bahwa kematian jasmaniah itu terjadi. Para penulis PL percaya pada adanya ‘dunia orang mati’ (syeol) ke mana semua orang yang mengakhiri hidupnya menuju ke sana. Tidak peduli siapa yang mati, dan bagaimana cara ia mati orang akan sampai ke sana (normal, dibunuh, sakit, kecelakaan, bunuh diri) tetapi juga pernah dikesankan sebagai tempat persembunyian sementara oleh Ayub (Ayb 14:13) yang pada waktunya nanti dia akan bangkit (Ayb 19:25-26). Meski begitu dunia orang mati sering juga dianggap sebagai tempat dengan situasi tanpa hubungan lagi dengan Tuhan, tempat kebinasaan terutama bagi orang fasik (Mzm 6:5 ; 9:17 ; 18:6 ; 16:9-11; 31:17 ; 49:14 ; Ams 5:5 ; 7:27 ; Yes 38:18) dan bukan tempat bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Meskipun demikian Tuhan berada di sana dan berkuasa (Mzm 139:8 ; Am 9:2 ; Yun 2:2). Tidak ada penjelasan tentang asal-usul kematian itu sendiri tetapi jelas bahwa kematian itu menjadi salah satu kodrat manusia. Ia menjadi sebuah keniscayaan (Ibr 9:27).

Para penulis Alkitab melihat kematian itu dengan kacamata iman kepada Tuhan. Memang ada yang terkesan fatalistik seperti Mzm 90:3-11 tetapi ada juga yang melihat dari dalamnya secercah harapan seperti Ayub dalam penderitaannya (Ayb 19:25-26), kematian dan cara mati sering dipakai untuk menggambarkan  kualitas kehidupan orang yang bersangkutan dan menjadi stereotype. Orang jahat matinya susah dan sakit dan sebaliknya orang yang baik mati dengan tenang, padahal dalam kenyataannya tidak selalu demikian.

Yesus sendiri tidak mau terjebak dalam prasangka-prasangka yang demikan. Itu terekam misal, dalam Luk 13:2-5. Tuhan Yesus melawan otomatisasi bahwa orang celaka dan mati secara mengenaskan itu pasti akibat kesalahan atau dosa yang bersangkutan dan dengan begitu orang yang selamat dari celaka serta kematian yang mengenaskan pasti adalah orang yang baik dan tidak berdosa. Mirip dengan kisah Yoh 9:1-4. Para murid mewakili prasangka yang biasa di masyarakat mereka ketika mereka bertanya tentang siapa yang salah atau berdosa sehingga orang ini buta sejak lahir. Kalau yang salah orang itu sendiri, kenapa Tuhan tidak berbelaskasihan tetapi jika yang bersalah orangtuanya, alangkah malangnya orang ini. Yesus, seperti biasa tidak meladeni pertanyaan semacam ini. Sikap Yesus ini dipegang secara konsekuen dan konsisten oleh-Nya. Apa yang bisa kita pelajari dari sikap Yesus terhadap kematian?

  1. Bagi Yesus, kematian tidak hanya bermakna menjalani kodrat bahwa manusia pasti akan mati (fatalistik), tetapi juga kematian tidak hanya menjadi hukuman bagi manusia karena dosa. Prasangka bahwa kematian dengan cara yang mengerikan juga sebagai akibat dari orang yang bersangkutan berbuat dosa juga dipatahkan. Ternyata kematian di kayu salib yang biasa disebut sebagai mati tercela (Ul 21:23, Fil 2:7-8) juga tidak berlaku bagi Yesus. Bahkan cara mati yang pada zamannya dianggap masyarakat sebagai aib, nista dan tidak terhormat, bagi Yesus tidak ada artinya. Menggunakan istilah yang dipakai oleh para pengkhotbah, Yesus tidak menampik kematian tetapi merangkulnya. Kematian pada dirinya sendiri kodrati bagi manusia, siapa saja dia. Tidak masalah bagaimana cara seseorang mati. Kematian menunjukkan sisi terbatas atau sisi lemah dari manusia. Permainan kata Ibrani berbunyi  “ingat adam, ingat ædama” – ingat manusia, ingat tanah (bnd. Kej 3:19 dan Ibr 9:27). Kematian berani dijalani Yesus demi misi keselamatan yang Bapa-Nya memercayakan kepada-Nya dan dunia ini (bahkan umat Allah sendiri) tidak menghendakinya serta memilih membunuh Yesus. Kematian menjadi sesuatu yang punya makna.
  2. Kematian ‘yang bermakna’ itu kemudian diperjelas statusnya sebagai satu antara, sebagai satu episode, yang mesti dialami menuju kehidupan di masa depan yang lebih dekat dan lebih intim dengan Tuhan. Sabda Tuhan Yesus: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yoh 12:24). Untuk sampai kepada kehidupan yang lebih baik di masa depan orang mesti mengalami kematian sebagai prasyarat yang mesti dipenuhi. Kematian bukan akhir atau ultima dan sesudah itu tidak ada apa-apa lagi (melawan pandangan kelompok Saduki yang dipengaruhi oleh pandangan Epikurean). Sesudah orang mati, selesai! (bnd. 1Kor 15:32). Kebangkitan Kristus dipercaya menjadi ‘buah sulung’ dari mereka yang mati (1Kor 15:20). Kebangkitan Kristus menjadi titik awal dari sebuah perubahan cara pandang dan nilai sebuah kematian. Kehidupan baru itu dimungkinkan pada waktunya oleh iman kepada Kristus. Jadi bukan lewat inkarnasi atau bukan juga sekedar prokreasi (lewat keturunan) tetapi ‘pada waktu’-nya lewat kebangkitan orang mati yang diawali oleh kebangkitan Yesus dan akan bangkit dengan ‘memakai rupa dari yang sorgawi’ (1Kor 15:49). Jadi akan mendapat tubuh yang lebih mulia, yang tidak dapat binasa. Jadi satu perspektif baru diberikan di sini. Kematian menjadi bagian dari curriculum vitae orang-orang yang beriman kepada Yesus. Kita semua punya tujuan untuk hidup yang akan datang.
  3. Dengan memperhatikan dua hal di atas kita diajak kembali melihat kematian itu dengan kacamata Kristus, kematian-kematian yang tiba-tiba saja menjadi sangat dekat dengan kita oleh karena persebaran virus Covid-19 yang ganas. Kematian tiba-tiba dengan cepat datang kadang-kadang tanpa gejala lebih dahulu, menyerang orang-orang terdekat kita dengan ganas. Kemudian – dalam hitungan jam –  tanpa ritual yang layak sebagaimana lazimnya karena misalnya keluarga bahkan tidak boleh melihat jenazah dan tidak diperkenankan ikut melayat ke makam! (bahkan makampun ditentukan tidak bisa memilih). Semua hal acara gerejawi tidak bisa dilaksanakan karena protokol penanganan jenazah dan pemakaman oleh pemerintah yang sangat ketat. Bahkan yang meninggal bukan karena Covid-19 pun diperlakukan sama. Kita sedih dan prihatin. Tentu saja kita tidak boleh berhenti dalam kesedihan, keprihatinan yang mendalam, dan larut dalam duka. Persekutuan kita dengan keluarga-keluarga yang berduka tidak putus karena ganasnya Covid-19 karena lewat doa kita tetap dipersatukan, dan bisa membawa mereka kepada Tuhan.Meskipun demikian sudah bukan rahasia bahwa sebenarnya kematian seseorang sudah bisa diperkirakan akan segera datang misalnya karena penyakit yang sudah dalam kondisi terminal, atau kronis menahun. Tetapi, itulah kita yang sudah tidak akrab lagi dengan kematian. Kita berada di tengah masyarakat yang oleh seorang filsuf Eksistensialis Jerman, Martin Heidegger, dirumuskan sebagai ‘angst zum tode’ – galau, cemas, kuatir, tidak bisa mengerti, dan takut pada kematian. Itu sebabnya, katanya, pemakaman disulap menjadi taman supaya orang tidak usah merasa takut lagi bila berada di sana. Itu sebabnya bisnis dekorasi ruang persemayaman dan peti jenazah supaya jadi lebih indah menjadi bisnis yang menjanjikan. Itu sebabnya ada ruang persemayaman di rumah duka yang diberi label Suite Room bak satu hotel bintang lima lengkap dengan segala fasilitasnya. Tetapi tetaplah tempat persinggahan sementara orang mati yang sebentar lagi akan dikremasikan atau dikuburkan. Kalau begitu tidak bolehkah orang takut mati? Perasaan manusiawi itu selalu akan menyertai kita ketika kita masuk ke satu babak baru dari hidup kita. Waktu pertama kali masuk sekolah, kita takut; begitu juga waktu masuk perguruan tinggi apalagi di mancanegara; begitu juga waktu menikah, atau pada waktu melahirkan seorang bayi. Ada ‘angst’ itu tetapi toh harus dilewati juga. Untuk hidup kita mesti melewati kematian.

Lho, apa hubungannya dengan judul? Pada hemat saya paling tidak mesti ada jenis katekisasi yang ketiga yang diperlukan yakni KATEKISASI KEMATIAN. Untuk apa? Supaya orang juga siap menjemput, menyongsong atau merangkul kematian yang adalah sebuah keniscayaan dengan sikap yang benar. Lalu apa isinya? Selain bagimana kita memahami kematian itu sendiri dengan kacamata iman Kristen tentu saja bagaimana kita semestinya membuat hidup kita masa kini menjadi bagian awal hidup yang kekal yang dijanjikan Yesus kepada kita. Indikasi bahwa kita berada di jalur benar dari hidup kekal adalah ketika hidup ini berguna dan bermakna baik bagi diri sendiri, sesama kita dan, utamanya, Tuhan.  Sabda Tuhan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh 11:25-26)

Author