Dari jalur Gaza – saat berlangsungnya konflik Israel dan Palestina, tersaji suatu  berita persaudaraan yang menginspirasi semangat kerukunan beragama. Kendati merasa janggal, sekelompok kaum Muslim Gaza (Palestina) melaksanakan shalat Idul Fitri 1435 Hijriah di dalam Gereja Saint Porphyrius di kota Gaza pada tanggal 28 Juli 2014. Gereja tersebut juga menjadi tempat pengungsian bagi Mahmoud Khalaf dan kelompoknya setelah bom Israel meledakkan wilayah tempat tinggal mereka di Shaaf, Gaza.  “Orang-orang Kristen membawa kami. Mereka berdiri di samping kami dan memberikan tempat”. Mereka mengundang kami untuk beribadah di dalam gereja. Saya sebelumnya tidak mengenal satu orang pun umat Kristen di sini, tapi kini kami telah menjadi saudara,” begitu kata Mahmoud Khalaf, seperti dilansir ibtimes.com (29/7/2014).

Tanggal 1 Syawal dalam kalender Hijriyah adalah hari yang dinanti umat Muslim setelah sebulan penuh menjalankan kewajiban berpuasa. 1 Syawal merupakan hari Idul Fitri yang dimaknai sebagai hari kemenangan atau “kembali fitrah.” Kata “fitrah” berasal dari kata “fathara” yang artinya kembali kepada keadaan normal, baik kehidupan jasmani maupun rohani.  Atau kembali pada keadaan mula-mula, yang semula atau asal atau yang asli.

Kisah penciptaan menurut kitab Kejadian menuliskan bahwa    pada mulanya Allah menciptakan manusia “sungguh amat baik”. Fitrah manusia adalah ‘gambar dan rupa” Allah. Sesuai fitrahnya manusia diciptakan dengan kemampuan untuk membangun dan mengembangkan relasi dengan Allah, dengan sesama manusia dan ciptaan lain. Fitrah itu menadi rusak, jika tidak dapat dikatakan hilang sepenuhnya, karena manusia melanggar perintah Allah. Dengan berbagai cara manusia berupaya agar dapat kembali kepada fitrahnya. Misalnya lewat berpuasa, beramal, serta berusaha melakukan semua ritual agama dengan benar.

Dapatkah kesalehan ritual menyelamatkan? Salah satu hadits menuliskan,“kecuali karena rahmat dari Allah, tidak seorangpun dapat menyelamatkan dirinya” (Shahih Muslim, nomor 5042). Berita yang sama juga dinyatakan pada surat Efesus 2:8, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian (rahmat) Allah”.

Merayakan Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah,  menjadi seorang yang memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Menghidupi semangat etika sosial yang berlandaskan persaudaraan, kedamaian, kerukunan, dan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk. Merawat pentingnya persaudaraan yang membela nilai-nilai kemanusiaan. Tugas panggilan yang juga diwartakan Yesus dalam Hukum Kasih “Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia”

Salah satu hidangan yang biasanya wajib ada pada Idul Fitri adalah ketupat Lebaran. Ketupat bukan sekedar menu atau hiasan. Ketupat memiliki makna yang menyiratkan kembali kepada fitrah semula. Konon, Sunan Kalijaga adalah orang yang memperkenalkan ketupat sebagai hidangan Lebaran ke masyarakat Jawa. Ketupat memiliki filosofi dengan 3 makna di hari Lebaran.        Pertama, anyaman yang rumit mencerminkan banyaknya kesalahan manusia di berbagai aspek kehidupan. Kedua, kesempurnaan. Anyaman kulit ketupat yang rumit akhirnya menjadi satu kesatuan, keutuhan atau kesempurnaan. Ketiga, adalah kesucian hati yang terlihat dari ketupat yang dibelah dua dan terlihat warna putih di dalamnya. Filosofi ketupat Lebaran dengan maknanya diwujudnyatakan melalui  tradisi silahturahmi Idul Fitri untuk saling meminta maaf dan memaafkan lahir batin.

Apapun tradisi yang mewarnai Idul Fitri, semua diwarnai semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, saling menghargai dan menghormati sesama.

Momen hari raya Idul Fitri di masa pandemi Covid 19 memang berbeda. Kebijakan pemerintah melalui PSBB membatasi gerakan arus mudik. Tidak mudik adalah sebuah dukungan bagi upaya pemulihan kehidupan di masa pandemi, juga menjadi salah satu bentuk  kepedulian, dan penghargaan terhadap hak hidup (kesehatan) orang lain. Idul Fitri tetap dapat dirayakan dan tradisi silahturahmi dapat diwujudkan dengan cara Lebaran digital.     Semangat kembali fitrah dan semangat cinta kasih tidak terbatasi oleh apapun.

Idul Fitri yang dimaknai sebagai hari kemenangan adalah  perayaan bagi semua umat. Kiranya spiritualitas Idul Fitri dan momentum pandemi Covid-19 semakin merekatkan kebersamaan dan persatuan bangsa Indonesia.

Author

  • Pdt. Omo Hasim adalah Ketua Umum BPMK GKI Klasis Jakarta Timur.