Gereja sudah memasuki bulan ketiga physical distancing. Dalam menjalankan peran gereja melayani umat-Nya, para pelayan gereja merancang berbagai bentuk pelayanan online. Harus diakui bahwa para pelayan belum sepenuhnya siap dalam merancang pelayanan online yang efektif dan efisien. Efektif dalam arti tepat sasaran serta tepat guna dalam menggunakan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan layanan (service). Efisien dalam arti tata kelola yang dapat memaksimalkan waktu dan sumber daya yang ada. Para pelayan juga terkadang kebingungan harus memulai dari mana dalam menggarap pelayanan online ini. Oleh karena itu, pada artikel singkat ini, saya hendak berbagi tentang berbagai bentuk pelayanan online yang telah dilakukan, dicoba dan dievaluasi selama masa physical distancing.

 

Empat model pelayanan online

Saya mengkategorikan model pelayanan online ini ke dalam 4 (empat) model sebagai berikut:

  1. Pre-recording model. Konten pelayanan yang direkam kemudian ditayangkan pada kanal YouTube. Pelayanan yang menggunakan model ini biasanya adalah Ibadah Minggu. Model ini adalah model yang paling aman dari resiko kesalahan. Namun, proses pembuatan model ini sangat memakan waktu pada saat pengambilan video dan audio serta saat proses editing. Selain itu, model ini tidak memungkinkan untuk kita berinteraksi dengan jemaat yang menonton.
  2. Close Community Model. Model ini memindahkan pertemuan fisik dari komunitas yang sudah ada (existing) ke pertemuan online. Model ini diberi nama “close” karena memang sifatnya lebih personal dan “tertutup”, oleh karena itu sangat jarang jemaat yang ada di luar kelompok atau komunitas ini akan mengikuti kegiatan online Ciri khas model ini adalah adanya komunikasi dua arah, antara pemimpin (host) dan peserta. Pelayanan yang menggunakan model ini biasanya adalah pertemuan kelompok kecil/kelompok tumbuh bersama atau persekutuan yang memang anggota yang hadir itu-itu saja. Layanan yang digunakan biasanya adalah Zoom, Google Meet, Skype dsb.
  3. Open community model. Model ini mirip dengan close community model, namun lebih mengundang kepada jemaat secara umum. Pelayanan yang menggunakan model ini biasanya adalah Pemahaman Alkitab dan webinar. Jemaat yang biasanya tidak ikut di pertemuan fisik akan cenderung mengikuti kegiatan ini, karena memang mereka memiliki waktu dan teknologinya serta tema yang dibahas biasanya lebih umum dan menjawab kebutuhan. Berbeda dengan close community model yang biasanya memaksa jemaat untuk berbagi (sharing), open community model seperti webinar tentu tidak memaksa pesertanya untuk berbagi, karena memang sifat kegiatannya satu arah (pemaparan materi kemudian dilanjutnya dengan sesi tanya jawab). Layanan yang digunakan sama seperti open community model yaitu Zoom, Google Meet, Skype dsb.
  4. Live show model. Konten pelayanan yang disajikan secara langsung (live) melalui kanal YouTube atau Instagram Live. Jemaat yang dapat mengikuti sangat luas bahkan orang yang ada di luar kalangan gereja pun bisa melihat konten ini. Tidak adanya kewajiban untuk mencantumkan nama dan proses pendaftaran menyebabkan model ini memiliki cakupan yang sangat luas. Live show merupakan model yang paling beresiko, karena ketika kita melakukan kesalahan maka kesalahan tersebut langsung terekspose ke dunia maya. Oleh karena itu, persiapan yang matang perlu dilakukan misalnya merancang script/naskah sederhana sebagai panduan live show. Layanan/software yang digunakan diantaranya OBS (Open Broadcaster Software), Streamyard, Zoom yang terhubung dengan YouTube Streaming dsb.

 

Mana model yang tepat?

Setiap model memiliki keunikan masing-masing, sehingga tidak ada model yang terbaik. Oleh karena itu, yang ada adalah model mana yang sesuai dengan kebutuhan serta menjawab tujuan dan cakupan pelayanan.

Terdapat dua pertanyaan yang dapat membantu kita untuk menentukan model mana yang kita gunakan, yaitu:

  1. Apa tujuan yang hendak dicapai dari konten/acara online tersebut?
  2. Siapa target jemaat yang dituju serta perangkat apa yang mereka gunakan untuk mengikuti acara pelayanan online tersebut?

 

Ketika kita dapat menjawab dengan jelas dua pertanyaan di atas, kita memperoleh gambaran yang utuh tentang pelayanan online yang akan kita lakukan. Jika kita tidak jelas mendefinisikan tujuan dan siapa target pelayanan online, kita akan terlanjur terjebak pada pemilihan perangkat lunak/layanan yang kita gunakan. Kekeliruan ini akan menyebabkan pelayanan yang tidak efektif dan efisien.

Saya coba berikan gambaran yang lebih jelas melalui contoh berikut:

  1. Kita sudah terlanjur memilih Zoom sebagai layanan pertemuan pelayanan online. Padahal ada jemaat yang belum terbiasa menggunakan Zoom, lebih parah lagi ada jemaat yang smartphone-nya ternyata tidak bisa di-install
  2. Kita hendak melakukan live show model, namun pada pelaksanaannya tidak ada interaksi dengan jemaat yang menonton. Penyampaian tetap satu arah tanpa adanya sapaan kepada jemaat yang “hadir” secara online. Jika ini yang dilakukan, maka tidak akan ada engagement. Jika tidak ada interaksi dengan yang menonton, lebih baik gunakan pre-recording model. Acara dapat tersaji dengan lebih baik dengan model ini dan bebas kendala (salah bicara atau masalah teknis seperti koneksi internet). Saya ambil contoh Ibadah Minggu, jika Ibadah Minggu dilakukan secara live tanpa ada interaksi dengan jemaat yang menonton, maka tidak akan efektif dan efisien. Ibadah Minggu seharusnya tetap dilakukan dengan pre-recording.
  3. Kita hendak melakukan live show model, namun kita belum memiliki audience terlebih jika topik yang dibawakan tidak menarik. Maka jangan berharap ada yang engage dengan live show yang kita buat. Singkatnya, sebelum melakukan live show pastikan kita sudah memiliki audience. Jika audience kita banyak yang menggunakan Instagram, maka gunakanlah Instagram Live, demikian halnya dengan YouTube dan Facebook Live.
  4. Kita merancang persekutuan online berformat sharing dengan menggunakan layanan Zoom atau Google Meet namun diumumkan secara umum kepada Jemaat. Ketika hal ini dilakukan, maka jangan berharap ada jemaat baru yang mengikuti kegiatan ini. Mengapa hal ini terjadi? Karena memang ketika persekutuan ini secara fisik diadakan dulu, jemaat yang hadir “itu-itu saja”. Kita berharap model yang kita gunakan adalah open community model namun akhirnya tetap close community model.

 

Untuk menghindari kekeliruan di atas, rancang dengan hati-hati tujuan dan target jemaat yang ingin kita jangkau. Khusus untuk target jemaat, kita harus mempelajari mereka dengan teliti, misalnya kebutuhan mereka, perangkat dan layanan apa yang biasa mereka gunakan di smartphone mereka serta kapan waktu luang yang mereka miliki.

Sebagai penutup, kita sebagai pelayan masih tertatih-tatih dalam melayani melalui pelayanan online. Kita belum terbiasa, jemaat juga belum terbiasa serta belum banyak pelatihan yang dapat melengkapi para pelayan untuk melayani secara online. Oleh karena itu, kita harus mau belajar, mencoba serta mengevaluasi pelayanan online yang kita lakukan sehingga pelayanan kita dapat berdampak.

Author