Seorang rekan berkata kepada saya bahwa natal tahun ini sangat memprihatinkan. Kita merayakan natal dengan menghayati Kristus menjadi manusia untuk menjadi sama dengan kita. Kristus hadir untuk membebaskan dan menyelamatkan kita dari beban persoalan hidup dan cengkeraman dosa. Namun apakah kita siap menyambut Kristus dengan menyingkirkan semua hambatan yang ada?

Tentu perenungan rekan saya di atas adalah hal yang menjadi ungkapan hati dalam pergumulan kekinian. Kita dapat merenungkannya juga dalam beberapa hal berikut: Pada masa Kristus lahir tidak ada tempat penginapan bagi Maria dan Yusuf. Apakah pada saat ini, bila Maria dan Yusuf datang pada kita, akan kita sambut atau tolak karena persoalan covid-19? Jika pada saat Yesus lahir para gembala menjumpai Maria dan Yusuf juga Sang Bayi, apakah Maria dan Yusuf akan mengijinkan hal itu bila terjadi saat ini dengan kemungkinan Sang Bayi tertular covid-19?

Untuk itu, Majelis Jemaat GKI Bundasudi, memilih tema natal tahun ini adalah “Natal Dalam Dunia Rawa Paya”. Melalui tema ini umat diajak untuk tidak sekadar merayakan natal dengan aman dan nyaman. Namun penting bagi kita untuk merayakan natal dengan sadar bahwa banyak orang bergumul dalam rasa takut, cemas dan bahkan mulai kehilangan gairah persekutuan. Sebagian orang mengalami kehampaan dan kejenuhan bila hanya beribadah secara online. Apakah ada natal bagi mereka?

Ada beberapa orang berbagi suka duka saat ibadah online. Ada saatnya ketika mulai ibadah ada telepon masuk, ada tetangga ketuk pintu, ada anak ribut, semua itu membuat ada ibadah tetapi sekan tidak beribadah. Apakah saat natal kita masih juga ibadah online? Pertanyaan ini menggambarkan sebuah perenungan mendalam tentang makna natal secara pribadi dan dalam kehidupan persekutuan. Sementara itu, kita perlu juga bergumul untuk memaklumi situasi saat ini antara yang tidak ideal dengan yang dapat kita lakukan seraya meyakini bahwa semua keputusan itu berkenan kepada Tuhan atau ‘Tuhan dapat memakluminya.’

Dengan memperhatikan berbagai pergumulan tentang ibadah itu, Majelis Jemaat GKI Bundasudi telah memutuskan untuk mengadakan ibadah onsite secara terbatas sejak bulan November 2020. Untuk malam natal hanya disiapkan online sementara hari natal online dan onsite terbatas. Namun kepada seluruh umat tetap dihimbau untuk bijak memilih ibadah onsite maupun online secara bertanggungjawab sesuai panduan kesehatan yang ada. Meskipun demikian, kita semua masih harus terus menggumuli natal dalam dunia rawa paya. Mungkinkah melalui semua yang kita lakukan menyatakan kemuliaan Tuhan dan menghadirkan damai sejahtera di bumi?

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Luk. 2:14). Kiranya ayat ini dapat juga terus mengingatkan kita untuk terus menggumuli makna natal dalam dunia rawa paya. Jika Allah berkenan kepada kita, apakah kita berkenan kepada Allah? Marilah terus merenungkan sikap dan keberadaan kita di hadapan Tuhan. Selamat Natal 2020 dan Selamat menyambut Tahun Baru 2021, Tuhan memberkati!

Author