Pokja Kebangsaan GKI Klasis Jakarta Selatan berkolaborasi dengan Gerakan Kebangsaan Indonesia, sebuah Badan Pelayanan BPMSW GKI Sinwil Jabar mengadakan Camp Kepemimpinan Inklusif melalui media zoom mengingat situasi pandemi covid-19 yang tidak memungkinkan para peserta camp untuk dapat berkumpul ramai-ramai secara langsung di satu tempat secara fisik agar tidak terjadi cluster baru penyebaran covid-19.

Pada camp hari kedua, Sabtu, 23 Januari 2021, seperti pada hari pertama, Sabtu, 16 Januari 2021 lalu, kegiatan dibagi menjadi sesi pagi dan sore. Khusus pada hari kedua, para peserta camp berjumpa, berinteraksi, belajar bersama, dan membangun persahabatan dengan teman-teman lintas iman.

Pada sesi pagi, para peserta camp mendengarkan sharing teman-teman dari salah satu Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama di kota Bekasi yang dipandu oleh Pak Kyai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren di sana. Sejak semula para santri dari kalangan Nahdlatul Ulama, terutama Pak Kyai dan pengurusnya berupaya keras menjaga Indonesia dengan kebhinekaannya. Di satu sisi mereka sangat memegang dan menghidupi nilai-nilai serta keyakinan ke-Islam-an mereka, tetapi di sisi lain mereka sangat menghargai perbedaan dengan umat beragama lain. Bahkan, sejak awal para santri diajar untuk toleran terhadap berbagai pandangan dari tokoh-tokoh panutan keagamaan mereka sendiri.

Setiap peserta boleh bertanya dengan bebas, bahkan menyangkut hal-hal yang dipandang sensitif tanpa ada rasa takut maupun ketersinggungan. Menarik, ada salah seorang peserta camp yang bertanya mengenai apakah boleh santri yang tinggal di Pondok Pesantren berpacaran atau tidak, boleh bertemu orang tuanya berapa kali dalam setahun, apa saja kegiatan di sana. Pak Kyai sangat terbuka dan memberikan penjelasan dengan sangat baik, dan ini membuat kami lebih memahami kehidupan teman-teman santri di pesantren serta apa saja kegiatan dan visi misinya. Para santri juga diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan dari peserta camp, sebaliknya mereka juga dapat bertanya kepada para peserta camp. Menurut Pak Kyai, kegiatan bersama ini sangat baik dan menyegarkan para santri di sana yang mungkin sehari-hari sudah memiliki rutinitasnya tersendiri.

Selanjutnya, Mas Andri dari Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan sharing mengenai semangat yang mendasari pelayanan mereka. Menarik, awalnya saya menduga bahwa relawan Tzu Chi semua beragama Buddha, tetapi ternyata tidak. Mereka membuka diri untuk bekerjasama dengan relawan dari berbagai agama dan keyakinan. Tidak ada syarat khusus untuk menjadi relawan. Setiap orang yang tergerak untuk membantu dalam kemanusiaan dapat bergabung menjadi relawan Tzu Chi. Mereka juga memiliki rumah sakit dan sekolah yang tidak berorientasi pada profit atau keuntungan. Dana yang diperoleh kembali akan digunakan untuk kegiatan kemanusiaan. Sebagaimana organisasi sosial pada umumnya, mereka juga memiliki sasaran dan survey terlebih dulu ketika akan melakukan aksi kemanusiaan. Mereka melakukannya dengan tulus tanpa embel-embel agama. Mereka juga bekerja sama dengan tokoh pimpinan masyarakat setempat dan TNI agar lebih bisa diterima dengan baik.

Pada jam istirahat siang hingga sore hari, para peserta camp diminta untuk membuat Usulan Kolaborasi Asik untuk mengembangkan relasi dan semangat kebhinekaan di komunitasnya masing-masing dalam bentuk tulisan, animasi, klip atau video.

Pada sesi sore, lima peserta camp diminta sharing tugas yang telah diberikan sebelumnya, yakni membuat Usulan Kolaborasi Asik. Setelah beberapa peserta sharing mengenai usulan kolaborasi yang dapat dilakukan, selanjutnya para peserta camp dibagi menjadi delapan kelompok, di mana masing-masing kelompok diminta untuk melihat potensi, sasaran yang dapat diajak bekerja sama, lalu jenis kegiatan yang dapat dilakukan bersama. Jullient mewakili kelompok Indramayu menyampaikan sharing mengenai potensi, target lembaga atau komunitas dan jenis kegiatan yang bisa dilakukan, misalnya kampanye 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan), berbagi masker gratis, membuat poster kampanye tentang vaksin covid-19 agar orang-orang tidak perlu takut untuk divaksin, diskusi mengenai sejarah Indramayu di Museum Bandar Tjimanoek Kabupaten Indramayu, mengadakan bimbingan belajar bekerja sama dengan mahasiswa dari beberapa kampus di Indramayu, juga dengan teman-teman dari lintas iman dan pemerintah daerah setempat. Harapannya, sesi pada hari kedua ini tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi bisa dilanjutkan di komunitas masing-masing peserta camp.

Pada akhir sesi hari kedua, Pdt. Darwin Darmawan dari BPMSW GKI Sinwil Jabar men-sharing-kan pengalamannya dalam perjumpaan dan relasi dengan berbagai komunitas keagamaan dan tokoh-tokoh masyarakat. Pengalaman gerejanya ditutup, juga berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan yang dialaminya ternyata membuat beliau belajar untuk menghidupi ketulusan dan cinta kasih sebagaimana yang Kristus ajarkan, sekalipun terkadang merasa sendirian dan dimanfaatkan. Beliau melihat pertolongan Tuhan dalam berbagai peristiwa yang dialaminya. Menurutnya, Indonesia harus dibangun bersama dengan saudara-saudara dari berbagai kalangan. Bukan pengertian, tetapi ruang-ruang perjumpaan yang konkret yang paling diperlukan untuk membangun semangat kebhinekaan.

Indonesia memang tidak bisa dibangun sendirian, tetapi bersama-sama dengan berbagai komunitas agama, suku, etnis, pemerintah, tokoh masyarakat, TNI dan Polri. Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi terutama nilai-nilai kemanusiaan, saling menghormati, bekerja sama, persahabatan yang melampaui identitas kita masing-masing.

Author