Sekarang ini, Gereja Kristen Indonesia (GKI) sebagai salah satu lembaga keagamaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia merupakan gereja yang heterogen dan multikultur; dengan berbagai suku bangsa, adat-istiadat, status sosial, bahasa dan sebagainya. Sebagai gereja, GKI ternyata tidak hanya berada dalam masyarakat (Indonesia) yang berkarakter multikultur, tetapi dalam dirinya sendiri GKI juga merupakan persekutuan yang multikultural.

Dalam sejarahnya, GKI disebut sebagai Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) atau gereja Kristen untuk orang-orang Tionghoa. Gereja ini didirikan oleh Zending dari Belanda yang disebut sebagai Nederlansche Zendings Verenidging (NZV). Pada awalnya gereja ini adalah kumpulan orang-orang Tionghoa yang membaca Alkitab di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada 22 Februari 1934 THKTKH Jawa Tengah terbentuk, kemudian pada 24 Maret 1940 THKTKH Jawa Barat terbentuk dan pada 08 Agustus 1945 THKTKH Jawa Timur terbentuk. Lalu pada tahun 1950 setelah kemerdekaan Indonesia THKTKH memiliki semangat nasionalisme, walaupun mereka adalah warga beretnis Tionghoa, mereka juga adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Gereja yang semula diberi nama THKTKH menjadi GKI karena warga gereja menjadikan ke-tionghoa-an mereka sekunder dalam rangka loyalitas nasional mereka pada Republik Indonesia, yang baru saja menerima kedaulatan (Setiabudi, 2002) .

Pertemuan antara Injil dan Kebudayaan di dalam GKI dapat digambarkan sebagai pertemuan antara empat kebudayaan dengan Injil yang dibawa oleh satu dari kebudayaan tersebut. Kebudayaan tersebut adalah Tionghoa, Indonesia, Barat-Modern dan Urban. Berikut ini tabel berisi nilai-nilai yang hadir dalam GKI dengan empat budaya (Lewis, 2006).

 

Tionghoa Indonesia Barat-Modern
(Zending Belanda)
Urban
Kekeluargaan, hormat orang tua, tepat waktu, perencanaan jangka panjang, kesopanan, penghematan, kesabaran, bekerja keras, kesetiaan. kolektivitas, toleransi, menghindari konfrontasi, harmoni, persahabatan, hierarki, kesopanan, kelemah-lembutan, keramahan. egaliter, kerapihan organisasi, inovatif, jujur, rasional, dogmatis, kompetitif, waspada. modernitas, terbuka, kesetaraan, individualis, mengikuti trend, mobilitas tinggi, mandiri, kreatif, konsumtif, peka teknologi.

 

Keberadaan GKI saat ini cukup majemuk. Secara keseluruhan maupun di tiap wilayah Jabar, Jateng dan Jatim dari seluruh tiap warga GKI (Pendeta, Penatua maupun Anggota Jemaat) kurang lebih 20%-nya berasal dari suku-suku Indonesia Asli dan 80%-nya dari WNI keturunan Tionghoa. Di beberapa jemaat perbandingan itu terbalik bahkan ada yang hampir 100% warganya Indonesia Asli. Anggota GKI yang keturunan Tionghoa pun tidak homogen (Setiabudi, 2002).

Sebagai bukti adalah jumlah jemaat GKI yang variatif dalam hal etnisitas. Ada jemaat GKI yang paling besar jumlah jemaatnya adalah dari etnis Tionghoa seperti gereja-gereja Kristen Indonesia di Klasis Priangan, Bandung. Ada jemaat GKI yang jumlah jemaat paling besar adalah suku Jawa seperti gereja-gereja Kristen Indonesia di Jakarta. Ada juga gereja GKI yang jumlah jemaat paling besar adalah suku Batak seperti di GKI Cikarang, GKI Kuningan, GKI Banjar.

Selain itu pendeta-pendeta di Gereja Kristen Indonesia tidak semuanya beretnis Tionghoa seperti yang disaksikan dalam awal sejarahnya. Ada pendeta GKI yang berasal dari Jawa, Batak, Manado, Ambon, bahkan Papua. Kondisi ini benar-benar menggambarkan kondisi multikultur di antara pendeta-pendeta GKI. Pendeta GKI sendiri juga belum tentu memiliki orang tua yang berasal dari GKI dan kemungkinan pendeta juga memiliki budaya yang dibawa dari lingkungan keluarga yang bukan berasal dari GKI.

Pendeta merupakan pemimpin umat. Secara khusus di Gereja Kristen Indonesia (GKI), pendeta dipanggil untuk melaksanakan pelayanan kepemimpinan dalam kerangka pembangunan gereja secara penuh waktu untuk mewujudkan visi dan melaksanakan misi dalam konteks masyarakat, bangsa dan negara.

Syarat yang diperlukan untuk menjadi seorang pendeta di GKI berdasarkan Tata Gereja GKI tahun 2009 pasal 102 adalah komitmen, karakter dan kemampuan atau kompetensi. Masing-masing variabel ini memiliki butir-butir khusus yang perlu dihayati. Salah satu butir dalam variabel kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang pendeta GKI adalah mampu hidup dalam konteks yang penuh kepelbagaian (pasal 102 butir 3g).  Kepelbagaian yang dimaksud salah satunya adalah kepelbagaian budaya.

Oleh karena itu penting bagi gereja secara khusus bagi para pendeta GKI untuk memiliki kompetensi antar budaya karena:

  1. Gereja Kristen Indonesia bertempat di Indonesia yang multikultur dengan konteks masyarakat sekitar gereja sesuai wilayah yang terbentang dari Batam-Denpasar.
  2. Jemaat yang menjadi anggota GKI adalah jemaat multikultur (tidak semua jemaat dari kelahirannya adalah anggota GKI).
  3. Simpatisan GKI (bukan anggota) pun multikultur, yang berminat dalam beribadah dan melayani di GKI sesuai dengan konteks di mana gereja berada.
  4. Pendeta GKI juga dari berbagai suku bangsa yang menjadikan identitas budaya GKI sebagai identitas pendeta.

Kompetensi antar budaya penting untuk dimiliki sebagai kompetensi pendeta GKI dalam pembangunan gereja secara khusus di GKI yang terbentang dari Batam sampai Denpasar dengan tujuan pendeta dan jemaat GKI memiliki kemampuan adaptasi budaya yang baik dalam pekabaran injil di Indonesia sesuai dengan konteks di mana gereja hadir dan berada.

 

Identitas Budaya

Untuk mengerti tentang kompetensi antar budaya, ada baiknya kita berangkat dari identitas budaya lebih dahulu. Faktor identitas penting dalam kompetensi antar budaya untuk menguatkan kembali keunggulan dimensi individu (vs. kelompok) dari identitas dalam mempengaruhi kualitas pertemuan antar budaya.

Penyelidikan sistematis tentang identitas dapat ditelusuri kembali ke kerangka teoritis psikolog Erikson (1950). Erikson menggambarkan proses pengembangan identitas sebagai proses di mana dua identitas — individu (atau pribadi) dan kelompok (atau kolektif sosial) —disatukan menjadi satu. Erikson dengan demikian menempatkan identitas budaya pada inti individu dan juga pada inti dari “budaya umum” nya. Konsep identitas Erikson menekankan pentingnya dimensi kelompok dalam identitas individu (Kim, 2009).

Menilik dari pengertian kerangka teori identitas menurut Erikson, maka kesadaran akan identitas budaya GKI (identitas kelompok) sangat penting untuk menjadi identitas pendeta GKI. Hal ini mengingat bahwa pendeta GKI sekarang berasal dari berbagai budaya. Ada pendeta yang menjadi anggota GKI sejak remaja, atau sejak pemuda. Belum lagi identitas yang dibawa dari pengaruh keluarga, sekolah dan lingkungan di mana pendeta tersebut tinggal. Sehingga memiliki identitas inklusif yaitu identitas budaya GKI merupakan sesuatu yang mutlak bagi pendeta GKI.

Identitas yang digunakan dalam tulisan ini sebagai identitas inklusif pendeta yang dibentuk oleh dimensi pribadi dan sosial dalam hal ini identitas budaya GKI. Konsepsi identitas holistik ini dipandang berfungsi sebagai orientasi diri-orang lain secara umum dalam hal ini seorang pendeta. Identitas ini dapat dipakai sebagai skema pribadi yang digunakan individu untuk merespons situasi eksternal. Dengan demikian, identitas dianggap sebagai konstitusi inti kepribadian yang kurang lebih mendukung dan mempengaruhi perilaku antar budaya individu-individu secara khusus di Gereja Kristen Indonesia. Jadi dalam hal ini istilah identitas budaya GKI digunakan pada identitas inklusif pendeta.

 

Kompetensi Antar Budaya

Setelah mengerti tentang identitas budaya dalam hubungan antar budaya maka kita siap untuk memiliki kompetensi antar budaya (intercultural competence). Kompetensi antar budaya adalah kemampuan untuk bekerja dan membangun hubungan utama dengan individu yang berbeda budaya. Kompetensi ini bisa juga disebut sebagai kemampuan komunikasi dan perilaku yang tepat dan efektif dalam situasi antar budaya. Dalam kompetensi antar budaya juga dibutuhkan kesadaran antar budaya dan sensitivitas antar budaya.

Kesadaran antar budaya merupakan fondasi komunikasi yang melibatkan dua kualitas yaitu kesadaran akan identitas budayanya sendiri dan kesadaran budaya yang lain. Hal ini menyiratkan kemampuan untuk menyadari tidak hanya nilai-nilai budaya, kepercayaan dan persepsi kita, tetapi juga nilai-nilai budaya lain. Kesadaran budaya menjadi penting ketika orang dari budaya yang berbeda berkomunikasi. Seperti orang melihat, menginterpretasi, dan mengevaluasi sesuatu dengan cara yang berbeda. Mungkin hal tersebut dianggap tepat dalam satu budaya namun tidak tepat dalam budaya yang lain sehingga timbul kesalahpahaman. Komunikasi dengan orang lain menuntut kepekaan dan kreativitas. Terlepas dari banyak kesamaan, orang memiliki perbedaan dalam cara mereka melakukan sesuatu. Hal ini diperlukan untuk memahami dan mendamaikan perbedaan tersebut agar berfungsi secara efektif dalam satu kelompok.

Bennet (2003) mengungkapkan mengenai sensitivitas antar budaya sebagai reaksi yang dimiliki oleh manusia terhadap perbedaan budaya. Reaksi ini termasuk dalam enam tahap dan berkisar dari etnosentrisme hingga etnorelativisme.

  • Penolakan: pada tahap ini ada keyakinan bahwa budaya seseorang adalah satu-satunya budaya yang nyata. Individu sering melihat perbedaan budaya dan cenderung mengisolasi diri dari kelompok lain.
  • Pertahanan: pada tahap ini, individu sering merasa seolah-olah budaya mereka sendiri adalah satu-satunya budaya yang baik, seringkali terdiri dari stereotip negatif, dan “kami” vs “mereka”.
  • Minimalisasi: pada tahap ini orang mulai menemukan kesamaan antar budaya sendiri dan orang dari budaya lain. Orang pada tahap ini mulai mengenali bahwa semua orang adalah manusia, baik mereka yang memiliki tradisi budaya yang berbeda ataupun tidak.
  • Penerimaan: dalam tahap ini individu mampu mengenali dan menghargai perbedaan budaya baik perilaku maupun nilai. Penerimaan tidak berarti kesepakatan budaya. Perbedaan dalam tahap ini masih bisa dinilai negatif.
  • Adaptasi: individu mulai menjadi lebih kompeten dalam cara berkomunikasi dengan orang dari budaya lain. Orang dapat melihat dunia melalui “mata” orang lain sehingga komunikasi bisa menjadi lebih efektif.
  • Integrasi: dalam tahap ini, individu dapat memiliki pengalaman budaya lain masuk dan keluar dari pandangan dunia mereka sendiri. Orang yang mencapai integrasi seringkali disebut sebagai mediator budaya. Mereka dapat membantu orang lain memahami budaya yang berbeda dan mempromosikan persatuan antar budaya ini.

 

Komunikasi antar budaya yang bersifat etnosentrisme dimulai dari tahap penolakan sampai tahap minimalisasi. Sedangkan komunikasi etnorelatif mulai dari tahap penerimaan sampai integrasi. Memang tahapan yang dijalani seseorang untuk melaksanakan kompetensi antar budaya berbeda-beda dan dapat berkembang. Ada seorang yang mungkin masih berada dalam tahap pertahanan dan mungkin ada juga orang lain yang sudah berada pada tahap penerimaan. Semua itu melibatkan tiga komponen yang harus dimiliki seseorang apabila ia hendak melibatkan kompetensi antar budaya.

Dalam kompetensi antar budaya, menurut Deardoff (2009) ada tiga komponen yang diperlukan yaitu attitude (sikap), knowledge (pengetahuan) dan skill (keterampilan). Bila dibentuk piramida maka sikap adalah bagian yang terletak pada bagian dasar piramida, kemudian pengetahuan pada bagian tengah dan keterampilan pada bagian puncak.

Komponen attitude dimaksudkan agar seseorang diharapkan bisa bertingkah laku dan merespons suatu hal yang asing bagi mereka, baik itu suatu objek, kejadian atau orang, dan lain sebagainya. Komponen knowledge mencerminkan pentingnya memahami apa yang boleh dan tidak dalam budaya lain, mengenali kebiasaan dan tradisi budaya lain, mengetahui nilai dan karakteristik budaya lain. Sedangkan komponen skill terkait dengan interaksi antar budaya yang kompeten termasuk mendengarkan, observasi, membangun kepercayaan, kolaborasi dialogis, dan membangun relasi. Harapannya kompetensi antar budaya dapat tercapai sampai pada skill.

 

Harapan

Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang sudah menyatu dalam sinode Am GKI dan berdiri di Indonesia kurang lebih 33 tahun ini sudah biasa hidup dalam kepelbagaian. Indonesia dengan konteks multikultural ini dapat mempengaruhi kehidupan gereja-gereja di Indonesia termasuk GKI dalam relasinya dengan jemaat dan masyarakat. Oleh karena itu penting bagi warga jemaat gereja dimulai dari pendeta untuk memahami kondisi multikultur ini dengan menyadari identitas budaya gereja dan siap untuk mewujudkan kompetensi antar budaya baik dalam kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat.

Kompetensi antar budaya adalah proses seumur hidup. Tidak ada puncak di mana seseorang menjadi “kompeten secara interkultural”. Mengingat pembelajaran seumur hidup yang melekat dalam pengembangan kompetensi antar budaya; oleh karena itu sangat penting bahwa pendeta secara teratur terlibat dalam praktik reflektif, sehubungan dengan perkembangan mereka dalam kompetensi ini.

Dengan menyadari akan pentingnya Kompetensi Antar Budaya maka diharapkan dapat membantu pendeta berefleksi tentang identitasnya yang inklusif dengan identitas budaya GKI dan tentang pembangunan gereja yang melibatkan budaya di sekitarnya sehingga gereja di mana ia melayani memiliki kompetensi antar budaya yang terus berkembang karena terus-menerus memperhatikan identitas budaya yang kuat dalam menghayati iman kristianinya serta pengabaran Injil dapat dilakukan secara kontekstual, Semoga!

 

Daftar Pustaka:

Bennet, Milton. J.2003.Towards Ethnorelativism: A Develomental Model of Intercultural

Sensitivity. Education for the Intercultural Experience. Ed. RM Paige. 2nd Edision. Darla K, Dearrdoff (Ed.). 2009. Teori Reflection: The Sage Handbook, Intercultural Competence. Washington DC: SAGE Publications, Inc.

Lewis, Richard D.2006.When Cultures Collide: LEADING ACROSS CULTURES. Boston:           Nicholas Brealey International.

Nuban Timo, EbenHaizer. 2013. “Gereja dan Budaya-Budaya”, dalam Jurnal Penuntun GKI       Vol.14 No. 25. Jakarta:Komisi Pengkaji Teologi (GKI Jawa Barat).

Setiabudi, Natan, 2002, Bunga Rampai Pemikiran Tentang Gereja Kristen Indonesia (GKI),

Suara GKYE Peduli Bangsa.

Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia. 2009. Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI.

Author