Akhir Maret ini segenap jemaat GKI di lingkup SW Jabar serentak akan melaksanakan Peneguhan Penatua. 24 Maret adalah tanggal didirikannya Sinode GKI Jabar sebelum penyatuan GKI. Maka hari Minggu terdekat dengan tanggal itu, dipilih sebagai waktu pelaksanaan peneguhan. Adapun masa pelayanan penatua di GKI ialah 3 tahun, sehingga peneguhan tahun ini diperuntukkan bagi para penatua yang akan melayani dalam periode 2021-2024.

Dalam setiap Peneguhan Penatua, sebagian calon penatua yang diteguhkan adalah pribadi yang baru terpilih dan bersedia melayani sebagai   penatua. Mereka mulai memasuki tahun pelayanan pertama sekaligus memasuki periode 3 tahun pertama. Sedangkan sebagian lainnya adalah pribadi yang kembali diminta untuk melayani di periode kedua, memasuki masa pelayanan tahun ke empat. Juga kelipatan selanjutnya bagi mereka yang sudah “naik-turun” dan sudah banyak makan asam-garamnya dinamika pelayanan.

Sebagian calon penatua yang akan diteguhkan merasa gamang, lantaran belum tahu hal-hal yang akan dihadapi. Sebagian lagi merasa baru mengetahui cakupan tugas pelayanan kepenatuaan. Dan mungkin, sebagian lagi merasa sudah sangat mengetahuinya. Maka bagi mereka yang sudah merasa paham, tulisan ini dapat dianggap sebagai catatan kecil untuk mengingat kembali sekaligus memaknai kembali hakikat melayani.

MAKNA SPIRITUAL

Sejatinya, Peneguhan Penatua memiliki beberapa dimensi yang saling terkait. Artinya, satu dan yang lain memang bisa dibedakan, tetapi   tidak dapat dipisahkan. Dalam tulisan ini, kita akan melihat satu demi satu dimensi itu. Pertama, kita melihat dimensi spiritual dari pelayanan penatua sebagai anggota Majelis Jemaat.

Secara umum, Tuhan melibatkan dan memanggil manusia untuk menyatakan syalom damai sejahtera kepada dunia. Merespons   panggilan Tuhan itu, manusia yang punya kehendak bebas, bisa menerima atau menampik. Tetapi secara khusus, Tuhan juga memilih orang tertentu menjadi kawan sekerja-Nya. Ketika Tuhan memilih, tidak ada yang bisa mengelak atau menghalangi. Dalam pemilihan itu, Tuhan melayakkan orang yang tak layak. Ia membuka jalan dan memampukan, bahkan melengkapinya.

Tuhan bisa memakai cara apapun sebagai alat-Nya; keluarga, rekan sepelayanan, atau siapapun dapat dipakai Tuhan untuk memperlengkapi orang pilihan-Nya. Jadi, dalam keterpilihan seseorang, masalahnya bukan ia mampu atau tidak, melainkan soal ia mau menjadi kawan sekerja-Nya atau tidak. Dengan begitu, pelayanan adalah anugerah  Allah. Atas dasar itu pula, pelayanan adalah wujud syukur manusia kepada Sang Pemberi anugerah.

Rasul Paulus menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Kepala Gereja dan anggota jemaat adalah tubuh-Nya. Dalam gereja, Tuhan berkarya dengan melibatkan anggota jemaat. Tuhan memilih anggota jemaat untuk menjadi penatua. Puji syukur untuk Anda yang sudah merespons panggilan Tuhan dengan kesediaan melayani secara bertanggung jawab. Sejatinya, anda adalah the chosen people di antara begitu banyak orang yang dipanggil.

Tiap orang yang bekerja bersama dalam pelayanan mewujudkan misi Tuhan, memahami dunia yang maha luas ini sebagai ladang Tuhan.  Sebagai para pekerja-Nya, tentu harus memakai aturan Tuhan, dan  tidak boleh seenaknya sendiri. Jadi dalam melayani, firman Tuhan adalah pemandu bagi setiap pelayan saat melakukan tugas dan karya-Nya.

MAKNA ORGANISASIONAL

Dalam ilmu sosial, ada istilah “Suara rakyat adalah suara Tuhan.” Artinya, Tuhan memberi kuasa kepada pemerintah, melalui rakyat. Di sini, rakyat menyerahkan kehidupan sosialnya diatur oleh pemerintah yang mereka pilih. Gereja juga yakin bahwa Tuhan melibatkan anggota jemaat saat memilih para calon pejabat gerejawi.

Kebaktian Peneguhan dimaknai sebagai akta pemberian mandat Illahi oleh anggota jemaat. Dengan begitu, para calon penatua yang diteguhkan mendapat legitimasi sebagai pemimpin jemaat, sekaligus memiliki wibawa Illahi demi menyatakan syalom damai sejahtera Allah bagi umat dan masyarakat.

Pada Tata Gereja dan Tata Laksana GKI, Persidangan Majelis Jemaat (PMJ) merupakan sarana pengambilan keputusan tertinggi di jemaat. Begitu pula dalam lingkup lebih luas, seperti Klasis, Sinode Wilayah, dan Sinode. Mandat berpotensi disalahgunakan, misalnya: menjalankan pelayanan dengan tangan besi, memakai pasal-pasal Tata Gereja dan Tata Laksana secara legalistik, atau memilih orang-orang yang sepaham agar bisa berkomplot demi menguasai semua lini pelayanan.

Mencermati hal itu, pengertian memimpin dan mengatur di sini bukan untuk berkuasa melakukan semau sendiri, melainkan patut dipahami sebagai kepercayaan menata kelola sebagai mandat pemberian Tuhan. Dengan kata lain, tiap penatua sebagai anggota Majelis Jemaat memiliki akses untuk memimpin dan mengatur roda pelayanan gereja secara bertanggung jawab.

MAKNA KOMUNAL

Segenap anggota jemaat  adalah bagian tak terpisahkan dari Gereja selaku Tubuh Kristus. Dalam proses pemilihan penatua di GKI, selain mempunyai hak memilih dan dipilih, setiap anggota jemaat  juga terlibat dari awal sampai selesai. Mulai dari mengusulkan nama-nama calon penatua, sampai mengajukan keberatan. Dalam terang Firman Tuhan dan kehendak-Nya, mereka turut menggumuli dan mendoakan sampai para calon penatua diteguhkan.

Calon penatua terpilih dan diteguhkan sebagai penatua tidak berada dalam ruang hampa. Sesungguhnya, ia berada dalam konteks hidup berjemaat, utamanya mereka yang memilih sekaligus berharap agar pelayanan gereja makin baik. Terhadap penatua, jemaat pun memiliki ekspektasi yang hampir sama dengan pendeta. Seorang penatua diharapkan menjadi role model dalam berbagai hal, seperti:

Pertama, keteladanan iman percaya yang dinyatakan lewat sikap dan tindakan sehari-hari atau saat menangani masalah tertentu.

Kedua, keteladanan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan jemaat. Kerendahan hati merupakan kata kunci bagi siapapun yang menerima jabatan sebagai penatua. Hal ini makin diperkuat oleh konsep pelayanan gereja yang meneladan pada Kristus, yakni selaku Allah yang mengosongkan diri (berkenosis). Sehingga para pejabat gerejawi menyatakan diri sebagai pemimpin yang melayani.

Ketiga, keteladanan dalam fungsi kepemimpinan. Dalam rapat misalnya, apakah kehadiran seorang penatua membuat kegaduhan atau menjadi juru damai. Siapapun tentu berharap agar pemimpin mereka, terlebih pemimpin gereja, bukanlah seorang pembawa masalah, melainkan sebagai pribadi yang memberikan kontribusi solusi bagi pemecahan masalah.

Keempat, penatua yang menikah diharap memberi keteladanan hidup bersama pasangan dan putra-putri. Kehidupan pribadi penatua yang belum menikah atau tidak berkeluarga pun tak luput dari sorotan. Walaupun secara profesional orang bisa dengan tegas memisahkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi, namun dalam konteks hidup berjemaat hal ini tak bisa dipisahkan begitu saja. Intinya, jemaat berharap kehidupan penatua adalah panutan bagi umat.

Memang tiada manusia sempurna, maka dibutuhkan upaya sengaja untuk memperbaiki. Berbeda dengan mereka yang bersikap masa bodoh, orang yang berjuang mengatasi kekurangannya akan mengalami perbaikan diri. Perlahan tapi pasti, upaya mengakomodasi  ekspektasi jemaat akan membuat penatua akan menjadi pribadi yang dipercaya oleh jemaat dan semakin dipercaya oleh Dia yang mempercayakan pelayanan melalui gereja-Nya.

MAKNA PERSONAL

Pelayanan sebagai ungkapan syukur perlu diwujudkan dengan tekad memberi yang terbaik. Artinya, pelayan pantang mengambil keuntungan berupa pujian, hormat, atau sesuatu yang memuaskan hasrat pribadi. Kita bisa belajar dari kehidupan Hofni dan Pinehas dalam 1 Samuel 2:11 dst…..; tetapi bukan untuk mencontoh perbuatan mereka. Kedua anak Imam Eli itu tamak. Dengan status yang dimilikinya, mereka justru mengambil milik Tuhan yang dipersembahkan umat melalui ritus kurban.

Bukan hanya memberi, kita patut memberi yang terbaik, dalam arti mencurahkan segala daya dan upaya yang ada. Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4:10 mengatakan, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” Alih-alih mengambil untung bagi diri sendiri, seorang pelayan sepatutnya memberi dari miliknya, yaitu berkontribusi dalam pemikiran, tenaga, waktu, dan mendedikasikan harta miliknya. Pelayan diekspresikan dengan sikap peduli pada keadaan sekitar.

Tradisi di GKI ialah siapa yang mengusulkan sesuatu, biasanya sekaligus ditunjuk sebagai pelaksananya. Tradisi lain ialah Penatua yang pelayanannya baik di lingkup jemaat, biasanya diminta melayani di lingkup Klasis, Sinode Wilayah, dan Sinode, bahkan di lingkup lainnya. Tak heran bila seseorang yang masuk ke dunia pelayanan, kaget karena beban pelayanan sekonyong-konyong meningkat drastis. Oleh karena itu, semua penatua, tanpa kecuali perlu berlatih. Tetapi bukan seperti atlet angkat besi yang berlatih agar bisa terus menambah berat pada barbel untuk diangkatnya. Dengan demikian, berlatih berarti mengatur waktu dan berbagi tugas demi terjadinya efisiensi sehingga pelayanan dapat ditanggung bersama. Di GKI yang menjalankan kepemimpinan kolektif kolegial, tidak mengharapkan seseorang mampu menanggung semua beban pelayanan, melainkan semua orang secara bersama-sama ikut ambil bagian dalam menyelesaikan tugas yang berat.

Ziarah pelayanan kerap membawa para pelayan melewati jalan terjal berliku, mendaki bukit dan menuruni lembah. Tantangan yang menghadang bukan hanya beban kerja yang sarat, tapi batin yang    tersayat. Ketika kerja keras dianggap sebagai keharusan; sebaliknya, kesalahan kecil diganjar kritik pedas, di situlah perasaan seakan tercabik dan koyak. Saat itu, mampukah terus bertahan dan melawan godaan untuk menghentikan langkah. Bisakah mata ini tertuju kepada Sang Maha Tahu yang pasti melihat segalanya.

Memaknai pelayanan sebagai syukur atas anugerah Tuhan, membuat kita memiliki daya tahan untuk setia menjalankan pekerjaan-Nya sampai tuntas. Dia yang memanggil dan memilih kita, juga meminta kita memikul salib. Artinya, kita perlu melatih diri untuk tabah. Ingatlah bahwa Dia selalu siap menolong kita. Menyerahkan beban hidup kepada-Nya, niscaya memberi penghiburan sekaligus kekuatan baru untuk menapaki langkah selanjutnya.

CATATAN AKHIR

Peneguhan Penatua bukan seremoni biasa. Pelaksanaannya bukan asal ada demi formalitas administrasi belaka. Selain penting secara organisasi, Peneguhan Penatua juga adalah akta pemberian mandat dari Sang Kepala Gereja. Kebaktian Peneguhan juga menempatkan para penatua dalam relasi kasih dengan anggota jemaat. Maka, gereja dan para pelayan Tuhan, perlu selalu hidup dan menghidupi makna pelayanannya.

Situasi dan kondisi melayani di masa pandemi amat dinamis. Hal yang dulu dipandang baik, belum tentu masih relevan pada saat ini. Bentuk pelayanan bisa bertransformasi, tapi intinya tetap,  mendatangkan syalom Allah bagi dunia yang menderita ini. Semua bisa berubah cepat dan perlu segera disikapi dengan seksama, tetapi para pelayan Tuhan tak boleh berubah. Pelayanannya harus tetap tertuju pada kemuliaan nama Tuhan.

Bagi anda yang baru terjun dalam dunia pelayanan mulai tahun ini, atau yang dipercaya kembali melayani untuk kesekian kalinya, juga bagi kita sekalian sebagai anggota jemaat Tuhan, mari kita berdoa agar Tuhan memberkati dan melindungi kita selaku umat-Nya. Tuhan menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karunia. Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepada kita dan memberi damai sejahtera. Amin.

Author