Kisah Para Rasul Pasal 2 : 46 – 47 mempersaksikan: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Lukas, sebagai penulis Kisah Para Rasul, memaparkan cara hidup jemaat yang pertama dengan cara melaporkan kegiatan secara kuantitatif dan kualitatif. Kisah Para Rasul 2 : 41 menggambarkan data kuantitatif. Perhatikanlah klausa “pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu”. Klausa tersebut memperlihatkan ada data waktu dan data jumlah anggota. Dengan adanya data kuantitatif maka kegiatan dapat diukur atau dihitung secara langsung sebagai variabel angka. Data Kualitatif pun diperlihatkan  pada 2 : 46 dengan klausa “makan bersama dengan gembira dan dengan tulus hati”. Dengan adanya data kualitatif maka kegiatan dapat dijelaskan sebagai suatu fenomena yang di dalamnya ada kesan, rasa, dan segala sesuatu yang lebih detail dengan uraian yang tidak dapat dijelaskan secara numerik.

Dengan keseluruhan data-data itulah, Lukas melakukan analisis data dan menghasilkan informasi baru: “Dan mereka disukai semua orang”. Proses pelaporan data yang kuantitatif dan kualitatif amatlah diperlukan. Tujuannya adalah agar dalam kegiatan berikutnya terjadi peningkatan kualitas. Dalam konteks bergereja maka berarti Gereja semakin membawa solusi bagi suatu permasalahan di tengah dunia di mana Gereja diutus. Itulah sebabnya dalam penyusunan Rencana Pelayanan Gereja mesti ada sesuatu yang baru. Tidaklah dibenarkan jika hanya menyalin, atau dalam bahasa lain “copy-paste”, dengan program tahun pelayanan yang lalu. Sekalipun tidak dalam situasi pandemi Covid-19, yang terjadi dalam kurun waktu hampir setahun, pada prinsipnya Gereja dalam lingkup Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah dan Sinode mesti selalu memikirkan ulang bagaimana konsep bergereja yang mesti dibaharui. Maksudnya adalah memikirkan bersama hakikat Gereja, bagaimana masalah dalam tubuh Gereja, bagaimana warisan-warisan dari masa lalu yang relevan dengan masa kini, dan utamanya menuju sebuah normal baru yang lebih baik.

Selain daripada itu laporan pelayanan juga mengandung makna pertanggung-jawaban. Ketika Gereja menyusun dan melaksanakan suatu kegiatan pelayanan gerejawi, setelah kegiatan tersebut berakhir dibutuhkan laporan untuk memberitahu seluruh warga Gereja kegiatan yang telah dijalankan. Laporan ini tentu tidak bisa ditulis seenaknya sebab ini adalah persoalan tanggung jawab kita kepada Tuhan dan sesama. Laporan pelayanan gerejawi yang bertanggung jawab berarti mencantumkan manfaat dan tujuan dari kegiatan yang dilakukan. Selain itu, terdapat proses berjalannya kegiatan dari awal hingga akhir, serta hambatan yang ditemui selama kegiatan berlangsung. Melalui laporan ini, seluruh warga Gereja akan mengetahui apakah suatu kegiatan telah tepat sasaran atau belum.

Perihal tanggung jawab pelayanan gerejawi kita dapat belajar dari Rasul Paulus. Kesaksiannya dalam 2 Korintus 4:5-6 mengatakan, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”. Dalam pelayanan pewartaannya Rasul Paulus mengalami fitnah. Paulus tidak gentar, bukan karena acuh tak acuh terhadap tuduhan-tuduhan yang diterimanya: bertindak akal akalan sehingga tidak layak dipercaya. Rasul Paulus memaparkan bagaimana kegiatan pewartaan berlangsung yang tidak untuk menguntungkan dirinya sendiri. Bahkan pada bagian yang lain Paulus menegaskan ia kehilangan dirinya: “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” (1 Korintus 15:9). Paulus mempersaksikan bahwa seluruh kegaiatan pelayanannya konsisten dengan tujuannya yakni pewartaan kabar baik dan keselamatan bagi orang Yahudi dan bukan Yahudi.

Laporan Pelayanan yang bertanggung jawab adalah laporan yang mengedepankan transparansi dan kejujuran. Kerincian isi laporan, bagaimana tadi sudah dijelaskan, bukan satu-satunya hal yang penting, melainkan juga transparansi isi laporan. Transparansi yang dimaksud yakni penulisan laporan harus dilakukan apa adanya sesuai dengan jalannya kegiatan termasuk perihal keuangan: pemasukan serta pengeluaran. Godaan untuk tidak melaporkan secara apa adanya adalah ego diri. Ada kalanya para pelayan merasa bahwa kegiatan pelayanan yang satu begitu menyenangkan hatinya sehingga merasa harus diulang dalam tahun pelayanan mendatang tanpa dievaluasi terlebih dahulu. Demi meng-”goal”-kannya maka ditulislah laporan yang datanya baik (padahal fiktif). Atau oleh karena sebuah kegiatan pelayanan tidak   menyenangkan hati sehingga agar tidak diprogramkan kembali di tahun pelayanan mendatang disusunnyalah laporan yang buruk (padahal fiktif). Perbuatan yang demikian sangatlah tidak terpuji. Transparansi dan kejujuran dalam pelaporan sesungguhnya menolong kita melakukan yang tepat sasaran.

Teladan kejujuran berulang ditegaskan Rasul Paulus. Kehidupan Kekristenan sejak awal diperingatkan agar dalam kehidupan berjemaat, dalam segala aktivitas pelayanannya, memberi kesan yang baik terhadap lingkungan di sekitar sehingga tidak ada sandungan yang menghalangi pewartaan Injil. Bagaimana pewartaan mereka dapat diterima dan didengar apabila pewarta tidak dipercaya? Bagaimana dapat dipercaya jika didapati perilakunya tidak jujur? Transparansi dan kejujuran sesungguhnya menolong pembaca laporan untuk terlatih menerima kenyataan. Bahwa ternyata tidak sesuai dengan harapan di situlah proses evaluasi dan pembelajaran berlangsung.

Laporan pelayanan pada akhirnya akan membuahkan masukan dan saran. Ada kalanya terasa pedas menyakitkan. Tetapi kita bisa memilah dan memilih mana masukan yang baik jika kita punya dan berpegang pada data-data yang benar. Kita tidak perlu tenggelam pada perasaan bersalah, tidak terima atau kecewa. Dalam pelayanan Gerejawi kita senantiasa diingatkan bahwa kita dipanggil-Nya dan diperlengkapi-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan hanya demi Tuhan bahkan Tuhan mencurahkan hikmatNya bagi setiap kita yang adalah rekan sekerja-Nya.

Author