Herakleitos adalah seorang Filsuf Yunani yang terkenal dengan kalimatnya:

“panta rhei kai uden menei” yang berarti, “semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap.” Perubahan yang tidak ada henti-hentinya itu seperti aliran sungai yang mengalir terus menerus. Karena terus mengalir, maka kita tidak akan pernah bisa menginjak air yang sama.

Demikianlah kita juga pahami bagaimana serangkaian perubahan terus terjadi di tengah dunia ini. Peristiwa tiap tahun, berbeda dengan tahun sebelumnya maupun berikutnya. Manusia menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang terjadi. Langkah yang diambil, disesuaikan dengan peristiwa dan tuntutan jamannya.

Sayangnya perubahan di tengah dunia, tak selalu diikuti dengan beragam perubahan pelayanan dan program yang Gereja lakukan. Pelayanan Gereja tak lepas dari ibadah, persekutuan, PA, pembinaan dan lainnya yang bersifat rutin dari waktu ke waktu. Alasannya, Gereja memang terikat dengan jadwal rutin mingguan. Belum lagi, Gereja juga memiliki waktu yang sangat terbatas, karena persentase waktu anggotanya sudah lebih banyak dilakukan di tempat kerja. Tetapi, bukankah sekalipun pola kerja kehidupan manusia cenderung stagnan, manusia masih memiliki kebutuhan yang tidak stagnan?

Oleh karena itu, rasanya Gereja perlu dengan sungguh melakukan eva-luasi terhadap program pelayanannya sepanjang tahun. Evaluasinya tidak difokuskan pada anggaran saja, melainkan kualitas program dan respon serta pendapat umat yang mengikuti program-program tersebut. Apakah Gereja sudah melakukan evaluasi program pelayanannya dengan cukup memadai? Saya rasa, belum. Mari lihat kembali program pelayanan tiga sampai lima tahun ke belakang, apakah program pelayanan akan berubah setiap tahunnya? Berapa banyak program yang dihapus? Berapa banyak program baru dihadirkan? Berapa lama pembahasan tujuan dan sasaran program yang berjalan, dengan realisasi yang terjadi, dibandingkan pembahasan realisasi anggaran?

Tetapi di tahun pelayanan 2020/2021, kita dipaksa untuk memutar haluan. Persekutuan yang menjadi porsi terbesar pelayanan Gereja, harus diubah bentuknya. Banyak jemaat bahkan mulai membuat beragam program pelayanan yang pertama kali dibuat. Jemaat-jemaat yang sebelumnya tak pernah terpikir untuk membuat ibadah online, berupaya untuk melaksanakannya. Semua itu dilakukan semata-mata karena kerinduan untuk tetap dapat menghadirkan Kristus di tengah umat, sekalipun persekutuan tak dapat dilakukan dari tempat biasanya.

Di tahun pelayanan ke depan, besar kemungkinan program pelayanan gereja masih melakukan pelayanan berbasis online. Tetapi di tengah kondisi ini, rasanya kita perlu mempertimbangkan beberapa dampak pandemi, yang dapat dijadikan bahan ketika menyusun program pelayanan:

Pertama, di setiap jemaat, selalu ada orang yang akan tidak dapat dijangkau dengan metode online. Mereka mungkin terkendala dengan berbagai persoalan, mulai dari usia, ketiadaan budget untuk membeli smartphone, hingga tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi. Lalu apa program untuk mereka?

Kedua, Gereja perlu memperhatikan realitas ketidakharmonisan di dalam keluarga. Dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR/MPR RI pada 23 November 2020, Fachrul Razi, menteri agama yang pada saat itu, menyampaikan peningkatan angka perceraian di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Penyebab perceraian yang terjadi, rata-rata karena pertengkaran dan masalah ekonomi. Intensitas pertemuan, pola komunikasi yang buruk, peningkatan pergumulan, menurunnya pendapatan, menekan kehidupan rumah tangga. Selain itu, relasi antara orangtua dan anak juga ikut terpengaruh. Tidak semua orangtua sanggup mengikuti pola belajar jarak jauh, apalagi harus mengurus keperluan sekolah, ketika sedang bekerja dari rumah.

Ketiga, rasa jenuh dengan situasi yang terjadi. Kejenuhan itu berakibat pada timbulnya ketidakpedulian dengan lingkungan, sesama, maupun kebijakan pemerintah. Anak-anak dan remaja adalah golongan yang rentan pada situasi ini. Mereka yang mobilitasnya tinggi dan sehari-hari menghabiskan waktu bersama teman di sekolah, tempat les, dan lainnya, kini hanya berkutat di rumah. Sekalipun gadget adalah teman terdekat mereka, tetapi tidak dapat hangout dengan teman, bisa menekan kondisi mereka.

Keempat, banyaknya lansia yang semakin merasa kesepian. Sudah menjadi rahasia umum, kasus Covid-19, paling berdampak pada lansia. Banyak lansia menjadi korban. Akibatnya, para lansia tentu merasakan kehilangan rekan mereka. Cukup menyedihkan, tatkala mereka tak dapat mengunjungi keluarga yang berduka. Kini mereka harus menelan pil pahit, karena mereka yang biasanya paling rajin ke gereja, tak dapat melakukannya. Kesedihan diperburuk dengan kesepian, karena banyak lansia yang terpisah dari anak-anak dan cucu-cucu dan tak dapat dikunjungi.

Kelima, kondisi masyarakat sekitar gereja yang tentu juga mengalami dampak, secara khusus di bidang ekonomi.

Di tahun pelayanan ke depan, program pelayanan gereja tentu masih didominasi dengan kegiatan online. Demi menghadirkan Persekutuan Umat Tuhan, kualitas pelayanan online harus ditingkatkan. Kualitas siaran langsung ibadah, harus ditopang dengan peningkatan kemampuan pelayan ibadah dari beragam aspek. Di waktu yang bersamaan, kesehatan dan keamanan para pelayan ibadah pun harus diperhatikan.

Selain itu, Gereja juga perlu memikirkan program pelayanan yang bisa menjangkau mereka yang selama beberapa bulan terakhir ini, tak dapat terjangkau, karena tak dapat mengkuti program online gereja. Perhatian kepada mereka perlu diperbesar. Sekalipun tak bisa berkunjung secara langsung. Seharusnya tak menyurutkan kemampuan untuk memperhatikan. Gereja bahkan perlu memikirkan program pemberdayaan dan pengembangan keterampilan, agar mereka pun tetap memiliki kegiatan dan merasa diperhatikan.

Program pelayanan gereja juga perlu memikirkan kegiatan berbasis keluarga. Gereja perlu mendukung keluarga-keluarga untuk melakukan beragam kegiatan bersama yang mempererat relasi di dalamnya. Perhatian keluarga, tidak hanya kita lakukan di bulan keluarga, tetapi justru sepanjang tahun pelayanan. Program live streaming ibadah juga perlu dikemas lebih kreatif, sehingga tercipta kebersamaan dan persekutuan keluarga. Program pengembangan ibadah intergenerasi, rasanya perlu dilakukan bersama oleh semua jemaat GKI.

Di samping memperhatikan dan mendesain program pelayanan untuk keluarga, rasanya kita juga perlu mendesain kegiatan bagi anak dan remaja. Gereja perlu menghadirkan kebersamaan dan aktivitas bagi mereka. Alat aktivitas atau alat peraga sekolah minggu, bisa dihadirkan atau dikirimkan ke rumah. Acara kebersamaan virtual perlu lebih diperbanyak.

Selain program pelayanan ke dalam, pengembangan program pelayanan ke masyarakat pun perlu tetap dilaksanakan. Program pemberdayaan masyarakat perlu dikembangkan, terlebih lagi jika masyarakat di sekitar gereja benar-benar merasakan dampak perekonomian di masa pandemi. Pembinaan keterampilan, bercocok tanam, dan lainnya, bisa dipertimbangkan. Di waktu yang bersamaan, gereja berpeluang melakukan edukasi pola hidup baru bagi masyarakat yang kerap lalai dengan protokoler kesehatan.

Rasanya ke depan, Gereja menghadapi tantangan yang semakin seru. Untuk itu, setiap pelayan jemaat, perlu kembali menekankan dalam diri, bahwa setiap program yang dijalankan Gereja, sejatinya bertujuan menghadirkan karya kasih Kristus bagi dunia. Tugas panggilan gereja harus diejawantahkan dalam program pelayanan yang terus berubah. Kasih Tuhan harus disebar dalam segala kesempatan. Biarlah pelayanan kita hanya dari dan untuk Tuhan.

Author