Setahun Kemudian…

Tepat setahun yang lalu, 15 Maret 2020, adalah hari Minggu terakhir di mana sebagian jemaat GKI (dan gereja-gereja lainnya) mengadakan Kebaktian Minggu secara on-site, di gedung gereja. Karena pandemi Covid19 yang mulai merebak, Minggu depannya (22 Maret 2020) ibadah sudah dilakukan secara daring / on-line. Itu juga yang terjadi di GKI Gading Indah. Telah setahun gedung gereja sepi dari kumpulan umat yang berkumpul dan bersekutu bersama. Hanya kegiatan rekaman ibadah-ibadah dalam rangka kebaktian daring / on-line; dan belakangan, kebaktian-kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan yang bisa dilangsungkan di gedung gereja GKI Gading Indah. Itupun dengan pembatasan jumlah orang yang boleh ada di dalam ruang ibadah, dan dengan syarat mengikuti tes cepat antigen. Selain mereka yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut, anggota jemaat dan simpatisan terutama jemaat usia lanjut (lansia) dan anak-anak hanya dapat mengikuti seluruh kegiatan gereja dari rumah masing-masing. Selama satu tahun gereja sepi dari riuhnya umat yang berkumpul, bersekutu, beribadah atau sekedar bertegur-sapa dan bercanda-ria.

Namun hari ini, Senin 15 Maret 2021 ada pemandangan yang berbeda dari biasanya. Sejumlah anggota jemaat usia lanjut nampak duduk manis di bangku-bangku yang disediakan, baik di lantai satu gedung gereja maupun di area perparkiran yang telah disulap menjadi ruang tunggu. Bersama mereka juga ada sejumlah anggota Komisi Lansia yang menyambut dan menghantarkan para lansia tersebut ke tempat duduk mereka. Mereka yang telah lama tak bersua secara fisik, saling bertegur sapa, mirip dengan suasana menjelang kegiatan persekutuan lansia, yang terakhir diadakan secara on-site lebih dari setahun yang lalu. Tetapi kali ini tidak ada pujian yang dinaikkan ataupun khotbah yang disampaikan. Karena kehadiran mereka, bersama dengan sejumlah dokter dan tenaga medis, bukanlah untuk “bersekutu” secara konvensional; namun kehadiran mereka semua hanya punya satu tujuan, yaitu mengikuti proses vaksinasi Covid19 yang dilaksanakan oleh Klinik Pratama Griya Kasih Indah, yang berlokasi di gedung gereja GKI Gading Indah. Mulai hari ini Klinik Pratama Griya Kasih Indah memang mendapat kepercayaan untuk menjadi “perpanjangan tangan” dari Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading dalam pelayanan vaksinasi bagi warga usia lanjut. Kesempatan pertama diberikan kepada anggota jemaat / simpatisan GKI Gading Indah yang sudah mendaftar sebelumnya. Pada hari kedua, kesempatan diberikan kepada sejumlah anggota jemaat usia lanjut dari jemaat-jemaat GKI di lingkungan Kelapa Gading dan sekitarnya. Dan sesudahnya, akan dibuka pelayanan vaksinasi untuk masyarakat sekitar gedung gereja GKI Gading Indah, dan Kelapa Gading secara umum.

Pagi itu, suasana tegang nampak di wajah panitia kecil yang terdiri dari unsur Klinik, Majelis Jemaat dan Yayasan Griya Kesehatan Indonesia (YGKI) sebagai “payung” dari Klinik Griya Kasih Indah. Sekalipun segala persiapan sudah dilakukan secara optimal, namun berbagai hal bisa saja terjadi; apalagi kepastian mengenai pelaksanaan ini baru didapat 2 hari sebelumnya. Persiapan untuk kegiatan inipun dikebut oleh tim gabungan Klinik dan Majelis Jemaat. Dan benar saja, sempat terjadi beberapa glitch atau gangguan di awal. Mulai dari jaringan internet yang sempat terganggu hingga vaksin yang terlambat datang karena antrian pengambilan di Puskesmas Kelapa Gading. Kelegaan terpancar begitu peserta pertama menjalani vaksinasi di ruang Pastoral Pendeta yang “disulap” menjadi ruang vaksinasi. Lalu satu persatu peserta menjalani proses vaksinasi yang diharapkan akan berlangsung sampai sekitar pk. 15.00.

Selain proses vaksinasi itu sendiri, terasa suasana yang berbeda di gedung gereja. Mereka yang telah lama terpisahkan oleh pandemic, kini dapat saling menyapa secara langsung tanpa perantaraan gawai, walau hanya sebentar. Saling bertanya kabar satu sama lain; saling meledek tampilan yang berubah (rambut yang makin gondrong atau makin putih, tubuh yang entah bertambah gemuk atau sebaliknya bertambah kurus); atau sekadar menatap langsung mata saudara sepersekutuan yang sudah lama tak bersua. Demikian juga buat para pendeta GKI Gading Indah yang sudah lama tidak berjumpa secara fisik dengan para lansia. Termasuk di antaranya Pdt. Em. Suatami Sutedja yang juga hadir dalam rangka mengikuti proses vaksinasi. Sudah setahun lebih Bu Suat, begitu beliau biasa disapa, “diisolasi” di rumahnya dan hanya melayankan firman dalam persekutuan atau kebaktian lewat rekaman dan belakangan lewat aplikasi Zoom. Namun untuk hari ini beliau bisa bertegur sapa dengan para lansia yang juga akan mengikuti proses vaksinasi. Termasuk protes-protes khas-nya yang mengundang gelak tawa ketika diminta untuk memberi kesan lewat rekaman video. Perjumpaan yang sekalipun tak lama tapi serasa seperti seteguk air sejuk di tengah keringnya kehidupan dari perjumpaan-perjumpaan langsung.

Hari ini, gedung gereja terasa “hidup” kembali. Memang bukan dalam rangka ibadah seperti biasanya. Tidak ada ibadah formal yang berlangsung atau firman yang diberitakan; namun perjumpaan-perjumpaan yang terjadi, sekalipun mungkin tidaklah lama, boleh menjadi wujud pengharapan bahwa persekutuan kita sebagai gereja tidak pernah mati, sekalipun umat harus mengisolir diri dari pertemuan langsung. Demikian pula dengan kegiatan yang terjadi, yaitu vaksinasi sendiri, adalah wujud dari peran gereja untuk turut menjaga kehidupan. Biarpun vaksin tidak boleh dianggap sebagai “jurus pamungkas” atau silver bullet yang dapat menyelesaikan masalah pandemi ini, namun tetap merupakan langkah yang penting. Bukan berarti pula setelah proses vaksinasi ini selesai, kegiatan peribadahan akan langsung kembali seperti sediakala. Ini barulah satu langkah yang kecil, namun penting. Maka keterlibatan gereja (baca: kita semua!) dalam proses ini, baik melaksanakan proses vaksinasi maupun mengikuti proses vaksinasi, adalah panggilan kita bersama sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Dalam keterlibatan kita ini jugalah, Firman mewujud-nyata dalam tindakan yang bisa dirasakan oleh sesama. Dan inilah semangat yang dihayati oleh setiap orang yang terlibat proses vaksinasi ini. Bahwa ini bukan sekedar menjalankan tugas (sebagai tenaga medis misalnya); bukan pula sebuah aksi sosial dan kemanusiaan, tetapi lebih dari pada itu, ini adalah sebuah laku spiritual untuk mewujudkan kasih Allah; untuk menguatkan pengharapan di tengah situasi yang tidak baik, serta untuk menyatakan persekutuan dengan sesama manusia.

Setahun pandemi telah berlangsung dan mengubah hidup kita semua; namun kasih, persekutuan dan kesaksian pelayanan di dalam Kristus akan terus menguatkan kita.

Author