Paskah tahun lalu sampai Paskah saat ini, kita dicekam ketakutan yang berkepanjangan. Tidak sedikit di antara kita yang mencucurkan air mata, baik oleh karena kehilangan kekasih-kekasih hati kita, ataupun kehilangan harapan hidup yang lebih baik, oleh karena pandemi Covid-19 telah memporak-porandakan kesehatan kita, menghancurkan usaha, bahkan merenggut pekerjaan kita.

Perputaran roda ekonomi menjadi melambat, banyak orang tiarap, jalanan menjadi lebih sepi dari biasanya, tempat perbelanjaan menjadi lengang, apalagi tempat-tempat rekreasi. Gedung ibadah yang biasa dipenuhi jemaat, sekarang bagaikan rumah kosong; yang ramai hanya sesekali untuk rekaman ibadah dan setelah itu sunyi kembali. Sebuah keadaan yang begitu menyesakkan untuk kita semua.

Bukan hanya jiwa yang mengalami depresi tetapi ekonomi serta seluruh sendi kehidupan berada pada tekanan yang luar biasa, membuat air mata acap kali meleleh tanpa sebab menggenangi mata, untuk menatap masa depan yang lebih cerah.

Lelehan air mata yang menggenang karena kehilangan harapan, bukan hanya ada saat ini ketika kita berada di masa pandemi yang berkepanjangan, tapi juga kita temukan ada di dalam kubur Yesus ketika Maria Magdalena mendapati kubur Yesus kosong.

Tak puas mereka menyiksa Yesus sampai mati, sekarang mencuri mayat sang Rabi yang maha suci, mungkin itu yang ada dalam hati Maria Magdalena. Kerinduan Maria Magdalena untuk menyatakan bakti terakhir sebagai seorang perempuan Yahudi untuk merempahi jasad Yesus yang penuh lukapun, pupus sudah.

Tetapi injil Yohanes mencatat, di kubur Yesus ada sapaan yang menghapus air mata; sapaan itu meneguhkan dan menguatkan, serta mengubah pandangan kosong menjadi pandangan yang penuh binar sukacita.

Sapaan itu tidak panjang lebar apalagi berbelit-belit; sapaan itu hanya satu kata, suara yang memanggil nama Maria Magdalena dengan panggilan yang akrab: Maria…..!  Membuat Maria Magdalena berpaling ke arah suara itu berasal, sambil berseru: Rabuni!

Sapaan satu kata ini yang mengubah seluruh kehidupan Maria Magdalena, dari hempasan kehidupan yang membuat ia berada di lembah kekecewaan, menjadi kehidupan yang penuh sukacita karena kematian Yesus bukan akhir dari segala-galanya.

Di masa pandemi yang berkepanjangan saat ini, Yesuspun ada bersama dengan kita, Ia menyapa kita semua. Dan setiap orang yang mendengar sapaannya, bukan saja akan dikuatkan tapi akan      diubahkan menjadi pribadi yang berkemenangan. Menang terhadap kesedihan, menang terhadap keputus-asaan, dan menang atas pelbagai kesusahan.

Sapaan itu membuat Maria Magdalena tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi memikirkan banyak orang yang mengalami kesedihan yang sama. Maka Injil Yohanes mengisahkan Maria tidak berlama-lama di kubur Yesus, ia langsung pergi dan menyampaikan perjumpaannya dengan Yesus yang bangkit, kepada murid-murid yang lain.

Apabila di masa pandemi Covid-19 kita merasakan sentuhan Tuhan betapapun hanya sesaat, atau sapaan Tuhan betapapun hanya satu kata, maka titik sentuh dengan Allah yang hidup bukan hanya akan memberi hidup bagi setiap kita, tapi akan memberi hidup kepada banyak orang.

Maka apabila di masa pandemi, kita menemukan banyak orang yang tergerak memberi daya hidup bagi dunia yang dipenuhi air mata, melalui pelbagai cara, kita yakin dan percaya bahwa mereka yang menghadirkan daya hidup bagi banyak orang adalah orang-orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, melalui persentuhan yang menggetarkan ataupun melalui sapaanNYA yang meneguhkan dan menguatkan.

Banyak warga gereja yang walaupun penghasilannya berkurang, tapi tidak kehilangan pengharapan dan tetap bergiat untuk Tuhan. Banyak Gereja yang mengalami penurunan penerimaan tapi tidak kehabisan akal untuk tetap menunaikan tugas dan panggilannya.

Di masa pandemi, Allah menyapa kita; sayangnya kita sering mengabaikannya karena kita tidak bergaul akrab dengan Tuhan, kita tidak peka ada suara yang memanggil-manggil nama kita. Kita dikuasai keputus-asaan yang dalam, tenggelam dalam kegelapan jiwa kita, dan menganggap Tuhan sudah tidak peduli dengan kita, padahal setiap hari Ia menyapa kita, sebagaimana Yesus menyapa Maria Magdalena dengan panggilan akrabnya: Maria!

Author