Buni Yani pernah menulis ‘tesis’ di media sosial “Jual agama itu paling gampang, maklum rakyatnya masih bego, gampang ditipu” (11 Mei 2014). Seperti hendak membuktikan tesisnya, Buni Yani  pun ‘menjual agama’ untuk  menggiring opini masyarakat. Ahok dibidiknya. Ucapan Ahok di Pulau Seribu dipelintirnya sehingga seolah menjadi penistaan agama. Begitu isu penistaan agama diangkat, nalar banyak orang seolah lumpuh. Jutaan orang, dari masyarakat biasa sampai intelektual dengan sederetan gelar Doktor, kehilangan daya kritis! Mereka semua larut dalam emosi. Jebakan berhasil. Lalu, terjadilah demonstrasi berjilid-jilid. Mereka menuntut pemerintah menangkap Ahok dan menyeretnya ke pengadilan. Tekanan massa berhasil. Ahok diadili. Orang tahu bahwa ucapan Ahok dipelintir oleh Buni Yani. Itu pembohongan besar. Tetapi, Ahok sudah terlanjur dibenci.  Tidak peduli pada fakta. Emosi yang berbicara. Keputusan diambil.  Ahok dinyatakan bersalah. Harus dipenjarakan. Bukan hanya itu, Ahok juga dilengserkan dari kursi Gubernur DKI Jakarta. Tesis’ Buni Yani di atas itu memang sangat tepat! Politik, agama dan kebohongan berkelindan meraih kesuksesannya.

Kasus Ahok adalah suatu pembelajaran sangat mahal. Tidak selalu agama dan moralitas berjalan beriringan. Tidak selalu apa yang terlihat sangat agamis itu pasti bermoral. Bisa saja ‘packaging’nya agamis, tetapi substansinya sampah busuk. Butuh daya kritis ekstra untuk merespons hal-hal yang kelihatan agamis. Ini nyata dalam kasus babi ngepet di Depok. Bungkusnya sangat agamis. Banyak orang terpengaruh. Orang datang berbondong-bondong. Lagi-lagi nalar orang menjadi lumpuh. Orang jadi bego, dungu; lalu, orang terkejut saat menyadari bahwa di balik ‘jubah’ agamis ada pembohongan. Banyak orang menjadi korban. Kebohongan telah menciptakan tergerusnya nilai-nilai luhur budaya, dan tragisnya kebohongan telah menyalahgunakan agama. Ujungnya keuntungan ekonomi dan politik.

Kebohongan bahkan dilakukan oleh anak-anak. Dibunuhnya guru sejarah dan bahasa Prancis, Samuel Paty oleh Abdullakh Anzorov pada tahun 2020 lalu disebabkan oleh kebohongan. Seorang siswi sekolah Perancis pembohongnya. Guru berusia 47 tahun itu dibunuh di luar sekolah SMP Bois d’Aulne dekat Paris pada 16 Oktober. Siswi berusia 13 tahun tersebut berbohong kepada ayahnya dengan mengatakan bahwa gurunya itu telah menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad di kelasnya selama pelajaran tentang kebebasan berekspresi. Kebohongan sang pelajar ditelan mentah-mentah, tanpa kritis. Orang tidak berupaya mencari fakta. Emosi langsung meledak. Beberapa orang tua, termasuk ayah dari Z, mengklaim bahwa Paty telah meminta siswa Muslim meninggalkan kelas hari itu. Berdasarkan kesaksian putrinya, ayah gadis itu meluncurkan kampanye online melawan Samuel Paty. Abdullakh Anzorov warga Rusia berdarah Chechnya terpengaruh. Emosinya meninggi. Nalarnya pun berhenti. Paty dianggap menista agama. Anzorov mengambil langkah drastis menghukum Samuel Paty dengan cara memenggal kepalanya. Paty meningggal penasaran karena tidak tahu apa dosa dan kesalahannya.

Kita memang hidup di saat banyak orang semakin sering melakukan kebohongan. Celakanya, kebohongan telah menjadi banalitas, dianggap wajar, biasa saja! Konon, seorang filsuf Yunani abad ke-4 bernama Diogenes berupaya keras mencari orang jujur. Diogenes menyusuri berbagai pelosok negeri, tetapi gagal mendapatkan orang yang jujur. Upayanya berantakan. Pada abad ke-4 saja sudah sangat susah mencari orang jujur. Apalagi pada masa kini. Sosiolog JA Barnes bahkan menyimpulkan “kebohongan itu ada di mana-mana.” Sudah jadi banalitas. Orang sering berbohong saat ditanya usianya. Orang juga berbohong untuk menghindari konflik atau agar tidak melukai perasaan orang lain. Saat orang mohon pertolongan, sebenarnya kita ‘emoh’ membantu, tetapi demi menjaga perasaannya, kita pasti mengatakan bahwa kita senang bisa membantunya. Robert Fieldman (2002), seorang psikolog Amerika Serikat, menyatakan setiap 10 menit orang bisa berbohong 2 sampai 3 kali. Itu hasil penelitiannya di Amerika Serikat. Kita tidak tahu berapa kali orang Indonesia berbohong dalam 10 menit. Mungkin lebih banyak!

Memang, orang mempraktekkan kebohongan dalam seluruh kehidupannya, baik personal maupun sosial. Orang berbohong untuk motif apa pun, baik positif maupun negatif. Tragisnya, makin banyak orang yang berbohong dengan memanipulasi dan menyalahgunakan agama. Mereka ini sudah tidak takut pada Tuhan. Efek pembohongan dengan ‘bungkus’ agama sangat dahsyat pengaruhnya. Orang yang dipengaruhi mampu menghancurkan dan membunuh sesamanya, bahkan orang bersedia mati. Semakin banyaknya praktek kebohongan yang menyalahgunakan agama adalah sebuah peringatan. Kita harus memiliki sikap ekstra kritis dan ekstra hati-hati terhadap isu atau persoalan apa pun yang ‘berjubah’ agama. Kita harus menguji kebenaran berita atau isunya. Bila gagal bersikap kritis, kita bisa mati sia-sia. Bukan mati karena membela agama, tetapi mati karena membela sebuah kebohongan.  Malaikat pencatat dosa pun bingung, mau ditaruh di mana si dungu ini!

Author