Kapan Pandemi Covid-19 akan berakhir? Ini pertanyaan semua orang. Jawabnya: tidak seorang pun  tahu! Kecuali Tuhan! Kita belum dapat mengalahkan virus Covid-19. Celakanya, varian baru yang lebih mematikan sudah muncul. Sudah 160 juta penduduk dunia terpapar virus ini. Lebih dari 3 juta meninggal. Beberapa waktu lalu virus ini memang sempat mereda. Tetapi, koran New York Times menyatakan bahwa varian baru virus itu mengamuk membabi-buta. Rakyat India dibantainya. Dan masih menurut New York Times, gelombang varian baru virus ini mulai menerjang Asia Tenggara. Akankah tragedi neraka Covid di India terjadi lagi di Asia Tenggara?

Korban Covid di Kamboja dan Thailand mulai meningkat drastis. Singapore mengarah ke lockdown. Pemerintah Malaysia sudah menetapkan  kebijakan keras: Lockdown! Mudik dalam rangka perayaan Lebaranpun, dilarang. Ulama Malaysia mendukung total kebijakan ini. Tanpa ragu, mereka mengharamkan mudik. Ini semua demi mencegah penyebaran Covid. Cerdas! Para ulama Malaysia tahu bahwa iman harus diiringi kecerdasan. Dalam situasi normal, iman tanpa kecerdasan menghasilkan fanatisme buta. Tetapi dalam era mengganasnya Covid-19, iman tanpa kecerdasan menghasilkan kematian massal yang sia-sia. Memang benar, betapa pun berhati-hati, setiap orang berpotensi terpapar Covid. Mungkin itu takdirnya! Tetapi, sangat konyol bila orang terpapar karena kedunguannya. Dan, ini yang banyak terjadi!

Bagaimana dengan  Indonesia? Untuk mencegah berulangnya ‘neraka Covid’ seperti di India, pemerintah menyatakan larangan mudik. Maksud pemerintah jelas, kebijakan ini diambil demi menjamin kesehatan rakyatnya. Sayangnya, para ulama dan rohaniawan agama tidak bersuara bulat. Pendapat mereka malah terbelah. Ada rohaniawan yang apatis. Sabodo teuing! Diam saja! Ada yang rasional dan cerdas. Mereka mendukung dan mensosialisasikan kebijakan pemerintah. Sayangnya, ada juga yang dengan berbagai alasan, menentang larangan pemerintah.  Mereka justru mentoring umat meneruskan tradisi mudik massal. Seolah tidak ada apa-apa! Pernyataan tokoh agama, apa pun isinya, selalu dianggap sakral.  Celakanya, sering pernyataan sebagian rohaniawan tidak didukung pengetahuan yang luas. Mentah secara intelektual! Umat yang ‘lugu’ menaatinya. Tragedi India mulai membayang?

Para politisi pandir melihat celah. Mereka seperti drakula haus darah. Nyawa rakyat pun mereka korbankan. Larangan mudik dari pemerintah pun ‘digoreng.’ Berbagai mitos dibuat untuk menolaknya. Segala macam cara dan cerita digunakan untuk menyesatkan massa. Medsos menjadi senjata utama. Tujuannya, larangan mudik harus dikutuki. Muncul provokasi lebih dahsyat.  Larangan mudik itu bahkan dituding sebagai upaya pemerintah memarjinalkan agama tertentu. Mereka  sedang menciptakan realitas imajiner. Musuh riil masyarakat diubah. Musuh itu bukan lagi pandemi Covid-19, tetapi pemerintah yang dilabel zalim.  Celakanya, sangat banyak orang minus daya kritis; mereka termakan hoax dan provokasi sesat ini. Masyarakat pun terpecah. Semua saling tidak percaya. Situasi makin complicated. Kedunguan makin merajalela!

Ada banyak mitos lain yang beredar. Dan mitos-mitos itu memprovokasi massa.  Ada mitos vaksin babi. Ada lagi mitos bahwa minyak kayu putih bisa menyembuhkan Covid. Bahkan ada institusi pemerintah, tanpa penelitian ilmiah yang jelas, langsung membuat kalung minyak kayu putih penangkal Covid.  Ada mitos tentang Covid yang bakal musnah saat musim panas. Ternyata, cuaca panas tidak menghentikannya. Belakangan ini, saat di negara-negara Barat Covid sedang mereda, di Asia yang cuacanya lebih panas justru makin menggila; Iran, India, Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Amerika Latin dibabatnya. Nyatalah, mitos-mitos yang ada lebih sering menyesatkan kita semua.  Bukan virus saja yang kita hadapi, tetapi juga mitos-mitos yang menumpulkan nurani  dan akal kita.

Para epidemiolog dan ahli statistik terlalu yakin pada kapasitas mereka menaklukkan virus ini. Mereka meramalkan tamatnya Corona.  Mereka terlalu optimis! Semuanya salah besar. Virus terus menerjang. Tidak tertahankan. Tidak seorang pun tahu kapan pandemi berakhir. Tidak seorang pun mengerti berapa banyak lagi orang yang akan jadi korban dan berapa banyak yang akan mati. Lebih dari 200 negara dihajarnya. Absurditas! Benar-benar tidak masuk akal! Akankah situasi di India atau situasi masa lalu saat pandemi Sampar The Black Death yang membunuh ratusan juta orang akan terulang lagi?

Pandemi ini memaksa kita untuk hidup secara cerdas. Pandemi ini menempatkan kita dalam situasi, mengutip pemazmur, ‘berjalan dalam lembah kekelaman.’  Kita tidak tahu ke arah mana kita sedang melangkah. Kita panik kolektif.  Semua serba salah! Kita tidak tahu siapa yang bisa kita percayai. Saat seperti ini kita butuh iman dan pengharapan, tetapi yang terutama butuh kecerdasan!

Author