Sebuah Refleksi dari Perjalanan ke NTT bersama Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia

Apa yang ada dalam batin kita ketika apa yang kita miliki hilang karena bencana? Saya tidak dapat membayangkannya. Betapa sedih dan terpukulnya! Hal-hal yang telah diupayakan dengan kerja keras selama ini, hilang dalam sekejap. Dalam situasi kritis di tengah bencana, seringkali pilihannya hanya dua: harta atau nyawa. Tentulah, nyawa menjadi pilihan utama bagi kebanyakan orang. Sebagai resiko, mereka pun harus rela harta benda mereka rusak atau bahkan lenyap dibawa bencana.

Ketika saya mendapat kesempatan mendatangi daerah terdampak bencana badai Seroja dan banjir bandang di NTT, saya menyaksikan bagaimana masyarakat sungguh kehilangan apa yang mereka miliki. Tidak hanya harta benda di dalam rumah, mereka pun kehilangan hasil perkebunan, sawah, hewan ternak, dan hasil tambak milik mereka. Semua luluh lantah dalam sekejap. Banjir datang secara tiba-tiba saat semua orang sedang pulas tertidur. Seorang ibu yang sempat bercakap-cakap dengan saya menceritakan bahwa dirinya saat itu sedang membuat pesanan kue untuk hari raya Paskah. Pada pukul 02.00 pagi, saat ia masih membuat kue, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh. Ibu ini keluar rumah untuk memeriksa keadaan dan kaget ketika melihat air dengan arus yang deras mulai membanjiri halaman rumahnya. Dalam keadaan panik, ia pun segera berteriak dan berusaha membangunkan semua orang, termasuk para tetangganya. Situasi amat menegangkan. Ia bercerita bagaimana orang-orang yang sudah lanjut usia harus digendong supaya dapat tetap selamat. Demikian pula dengan anak-anak. Air datang dengan sangat cepat, sehingga ibu ini pun hanya sempat membawa ijazah serta patung Bunda Maria dalam dekapannya.

Walaupun bencana telah menghanyutkan  harta benda milik masyarakat, saya dan Tim GKI menerima senyuman serta keramahtamahan yang luar biasa ketika kami datang. Saya yakin bahwa sambutan itu hadir bukan sekadar karena kami datang dengan membawa sejumlah bantuan. Keramah-tamahan itu sendiri merupakan bagian dari jati diri masyarakat yang tidak hilang walaupun badai menerpa. Saya ingat, dalam sebuah kata-kata sambutan akan kedatangan kami, seorang ibu mengungkapkan,“kami tidak mengukur besarnya bantuan yang diberikan, tetapi kami bersyukur karena kepedulian dan hati nurani dari Bapak Ibu yang telah datang untuk melihat kami”. Ya, bantuan materi memang amat sangat diperlukan. Namun, perhatian yang kita sampaikan lewat kehadiran, menjadi bentuk kasih yang ternyata begitu meneguhkan. Dalam kehadiran, walau sejenak, kita menyatakan kepada saudara-saudara kita di NTT, bahwa mereka adalah subjek yang penting dan berharga. Banyak hal telah hilang akibat bencana, tetapi di tengah kehilangan itu, kita menemukan panggilan kemanusiaan serta keterhubungan kita satu sama lain. Sebagaimana Allah di dalam Yesus Kristus telah hadir untuk merengkuh pergumulan kemanusiaan kita, demikianlah kita dipanggil untuk membuka ruang hati kita bagi penderitaan dan pergumulan sesama. Saya percaya, bahwa dalam ketersalingan dan relasi kasih antar manusia, Allah, Sang Kasih, hadir dalam kuasa-Nya yang menghibur dan meneguhkan.

Saat ini, masyarakat NTT yang terdampak bencana masih dilingkupi berbagai keterbatasan. Mereka juga masih terus berjuang untuk bisa memulihkan keadaan dan melanjutkan kehidupan. Di tengah situasi tersebut, Tim GKI bekerjasama dengan para relawan lokal, masih tetap berupaya melakukan berbagai hal yang bisa menolong masyarakat untuk memiliki kondisi yang lebih baik. Walaupun segala sesuatunya membutuhkan proses, kebersamaan serta kepedulian yang telah hadir, membawa pengharapan serta semangat yang baru. Semoga Allah memberikan kekuatan dan pemulihan bagi kita semua. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

Author