Pentakosta (atau hari “Kelima puluh”) atau Shavu’ot adalah salah satu dari tiga festival atau hari raya tahunan yang dirayakan oleh orang-orang Yahudi (dua lainnya adalah Hari Raya PaskaH dan Pondok Daun). Orang Yahudi menghayati setiap festival ini sebagai “festival peziarah” (pilgrim festivals). Mengapa disebut “peziarah”? Barangkali karena sifatnya yang berziarah: setiap laki-laki Yahudi dan keluarganya dari segala penjuru dunia (Diaspora) harus berduyun-duyun berziarah ke Yerusalem.

Menurut sejarahnya, Imamat 23 mencatat bagaimana Shavu’ot ini pertama kali diperintahkan oleh TUHAN untuk dirayakan. Selain nama “Pentakosta”, nama lain dari festival ini adalah Hari Buah Sulung (Day of the Firstfruits) karena pada saat itu orang Israel mempersembahkan   gandum baru ke hadapan TUHAN (Im. 23:16). Pada saat itu, Yerusalem adalah pusat dari kehidupan religius umat Israel. Nah, di sinilah Allah tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk menyatakan Yesus, Anak-Nya, kepada orang banyak.

Pada saat umat Yahudi berkumpul di Bait Allah, bacaan “leksionari” wajib mereka adalah Yehezkiel 1, di mana salah satu ayatnya menggambarkan manifestasi kemuliaan Allah yang sangat menakjubkan:

Lalu aku melihat, sungguh, angin badai bertiup dari utara, dan  membawa segumpal awan yang besar dengan api yang berkilat-kilat dan awan itu dikelilingi oleh sinar; di dalam, di tengah-tengah api itu kelihatan seperti suasa mengkilat” (Yeh. 1:4).

Coba bandingkan dengan catatan yang dibuat Lukas:

“Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (Kis. 2:2-3).

Maka bayangkanlah bagaimana manifestasi kemuliaan Allah yang digambarkan Nabi Yehezkiel ini klop dengan manifestasi kemuliaan  Allah yang digambarkan oleh turunnya Roh Kudus! Agaknya susah untuk menolak kemungkinan bagaimana kejadian hari itu terhubung erat dengan penampakan Nabi Yehezkiel.

Allah tidak sembarangan dalam memilih momentum untuk menyatakan Diri-Nya. Dia sengaja memilih Festival Shavu’ot untuk membangkitkan “momen aha” bagi orang-orang Yahudi yang berkumpul. Pentakosta ini menjadi momentum bagi orang-orang Yahudi menyaksikan kemuliaan Allah secara langsung beserta penggenapan akan Mesias yang dijanjikan Allah melalui nubuatan para nabi.

Festival Pentakosta Tahun 2021 tentulah festival yang unik. Salah satu sebabnya adalah karena dunia masih dalam suasana muram akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Secara resmi, pemerintah Indonesia telah melakukan pelarangan bagi masyarakat untuk mudik saat lebaran beberapa hari yang lalu. Demi mencegah gelombang Covid-19, maka tidak ada kumpul-kumpul dan silahturami secara ragawi dengan keluarga tercinta. Tentu hal ini sedikit banyak menimbulkan kekecewaan di hati banyak orang. Namun kita tentu menyadari, tidak setiap kebijakan pemerintah selalu cocok dengan keinginan kita. Hal terpenting adalah kita belajar melihat persoalan secara lebih luas ketimbang keinginan pribadi.

Namun demikian, peringatan peristiwa turunnya Roh Kudus tahun 2021 ini juga menjadi momentum bagi orang-orang percaya untuk menyatakan kesaksiannya di tengah-tengah dunia. Karya dan anugerah Allah tidak terbendung dalam “kandang Yerusalem” saja. Sebab, Tuhan Yesus sendiri yang berkata, “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Meski pun peristiwa turunnya Roh Kudus ini terjadi di Yerusalem–karena pada “waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit”–namun sejak peristiwa kematian    Stefanus, gerakan Allah tidak terbendung lagi. Boleh jadi penganugerahan berbagai bahasa yang diterima oleh para murid secara simbolis juga menunjukkan gerakan ziarah Allah yang meluas dan melintasi suku-suku bangsa. Ia rindu menginjakkan kaki-Nya tidak hanya di Yerusalem dan Israel, tetapi hingga ke tempat-tempat yang baru dan asing.

Kita bersyukur bahwa GKI turut berkontribusi dalam pembangunan   Kerajaan Allah di bumi Indonesia ini. Melalui aktivitas dalam bidang  sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan, GKI telah mengambil perannya. Gerakan ke luar ini tentu sejalan dengan misi Allah agar anugerah dan Kerajaan-Nya nyata menembusi tembok-tembok gereja (dan denominasi). Kita tentu berharap bahwa gerakan membangun  Kerajaan Allah ini terus berkembang dan makin berdampak sehingga semakin banyak manusia di muka bumi ini mendapatkan dan merasakan anugerah Allah melalui sentuhan kita. Semoga derap GKI ini sejajar dengan maksud dan rencana Allah bagi dunia. Dan semoga GKI tidak terlalu cepat berpuas diri dalam kemapanan namun selalu berziarah ke tempat-tempat dan momentum-momentum baru untuk menyatakan Kerajaan Allah.

Selamat merayakan hari turunnya Roh Kudus. Ia yang berkuasa menyatakan anugerah-Nya, Ia pula yang memberikan kita kuasa untuk menjadi saksi-saksi Kristus bagi keluarga, gereja, Indonesia dan hingga ke ujung dunia.

Soli Deo Gloria!

Author