PERANG 11 HARI

Tanggal 10 Mei 2021, pecah perang antara Israel dan Palestina di jalur Gaza, sebagai puncak dari rangkaian bentrokan yang terjadi sejak 6 Mei 2021. Perang berkecamuk selama 11 hari dan berlangsung sengit. Menurut laporan kantor berita Reuter, 248 warga Palestina dan 13 warga Israel menjadi korban jiwa, dan 2800 bangunan hancur serta ratusan juta dollar Amerika melayang akibat rusaknya fasilitas ekonomi (pabrik, listrik, pertanian, transportasi dll). Dunia internasional menekan dan membujuk pihak yang bertikai untuk kembali ke meja diplomasi guna menyelesaikan konflik Israel – Palestina yang telah berlangsung sejak tahun 1948.

 

PERANG DI SANA, PERANG DI SINI

Apa yang terjadi di jalur Gaza, jelas berdampak kepada bangsa-bangsa lain, tidak terkecuali Indonesia. Berbagai peristiwa, dari aksi solidaritas, demonstrasi, pengumpulan sukarelawan, hingga tindakan pelecehan negara muncul sebagai respon atas kisruh yang jauh dari negeri ini. Tidak kalah heboh, dunia maya juga dipenuhi narasi-opini-argumentasi menyikapi konflik Israel-Palestina. Umumnya, narasi yang paling kerap dan keras diserukan adalah konflik agama (islam vs zionisme), padahal dalam telaah kritis narasi tersebut tidak benar (Pdt. Darwin Darmawan menuliskan fakta-fakta yang menyanggah narasi perang agama). Penulis tidak mengajukan analisa sosio politis, sebab sudah banyak pengamat-pemerhati perdamaian menyampaikan pendapat tentang pertikaian Israel – Palestina (Pdt. Albertus Patty bahkan memperingatkan fokus penanganan konflik yang menjauhi keadilan).  Alih-alih, penulis hendak memakai momentum Pentakosta yang dirayakan 2 hari setelah gencatan senjata disetujui, sebagai refleksi atas narasi konflik Israel – Palestina.

 

BAHASA KITA?

Salah satu catatan peristiwa turunnya Roh Kudus saat Pentakosta, adalah fenomena para rasul yang berkata-kata dalam bahasa-bahasa pendengar (Kis 2:11). Teks ini bisa dipahami setidaknya dengan beberapa tafsir, yaitu Roh Kudus yang menerjemahkan apa yang para rasul katakan (dalam bahasa ibrani) sehingga bisa dipahami oleh pendengar (dalam bahasa masing-masing), atau Roh Kudus memampukan para rasul berbicara dengan berbahasa pendengar (xenolalia, dari kata xenos – asing, dan lalia – berbicara). Apapun tafsir yang dipegang, ada hal mendasar yang dijumpai, bahwa karya Roh Kudus ‘memprioritaskan’ bahasa (yang bisa dipahami oleh) pendengar, bukan menonjolkan bahasa dari pembicara. Tentu bukan artinya bahwa ada bahasa/budaya yang lebih tinggi dari bahasa/budaya lain, namun supaya pesan tersampaikan, diperlukan bahasa yang bisa dipahami bersama, dan ini bisa menuntut kesediaan pembicara merelakan tidak memakai bahasanya sendiri. Kacamata bahasa bersama, bukan bahasa-ku ini juga bisa dijelaskan melalui konsep moralitas tebal-tipis dari Michael Walzer.

 

MORALITAS TEBAL-TIPIS

Secara sederhana, konsep moralitas tebal-tipis dari Walzer dipahami sebagai seperangkat nilai yang dimiliki seseorang yang dibentuk oleh keluarga, budaya, latar belakang pendidikan, maupun pertumbuhan sosial. Moralitas ini begitu melekat pada seseorang sehingga segala sesuatu dilihat dan dinilai berdasar moralitas tersebut. Jika nilai agama tertentu sedemikian tebal tertanam pada seseorang, maka cara pandangnya terhadap sebuah peristiwa, akan sangat dipengaruhi oleh nilai agama itu. Itu sebabnya, konflik Israel – Palestina bisa dengan mudah dipahami sebagai konflik agama, bila narasi yang dibangun ataupun cara pandang yang dipakai adalah nilai agama. Moralitas tipis bukanlah lawan dari moralitas tebal, melainkan bagian dari moralitas tebal yang bersifat Universal. Dengan kata lain, moralitas tipis adalah ekses dari moralitas seseorang yang memungkinkan sebuah perjumpaan antara dua pihak yang mempunyai moralitas tebal yang berbeda. Seseorang yang memegang teguh nilai agama tertentu bisa berbicara dengan pihak lain yang mempunyai nilai agama berbeda, tentang konsep membela yang tertindas sebab hal ini dijumpai dalam agama masing-masing.

 

2 NILAI BERSAMA

Dengan memakai lensa bahasa bersama Pentakosta dan moralitas tebal-tipis dari Walzer, konflik Israel-Palestina bisa dan perlu dilihat bukan sebagai perang agama. Penulis mengusulkan 2 sudut pandang, yaitu antikolonialisme dan kemanusiaan. Kedua nilai ini merupakan kesepakatan bersama bangsa Indonesia yang dimuat dalam Pembukaan UUD 1945, alinea pertama. Nilai antikolonialisme begitu erat dengan bangsa Indonesia yang telah ditindas berabad-abad oleh penjajah Belanda, sehingga semangat ini pula yang seharusnya dipakai untuk bersolidaritas dengan masyarakat yang berhak hidup merdeka dan menentukan kehidupan mereka sendiri. Kita bisa bersimpati kepada bangsa Palestina yang terusir dan tertindas oleh tindakan semena-mena pemerintah Israel,  dan juga memahami usaha Israel untuk melindungi kehidupan warganya yang terancam serangan roket kelompok Hamas. Pula, kita menyadari bahwa korban pertama dan utama dalam perang adalah kemanusiaan itu sendiri. Siapapun yang menyerang, (kehidupan) rakyat sipil yang menjadi korban dari kepentingan idelogis – politis – ekonomis para pemimpin-pengambil keputusan masing-masing pihak yang berperang. Demi kemanusiaan, solusi konflik bukanlah intimidasi, provokasi dan agresi, melainkan diplomasi ataupun negosiasi. Pendekatan dan narasi perang-militer, perlu diganti dengan pendekatan pembangunan ekonomi rakyat miskin, pemberdayaan perempuan, pemerataan pendidikan, pembudidayaan ternak/pertanian yang meningkatkan harkat manusia dan kehidupan bersama. Jika kedua nilai ini terus digaungkan oleh kelompok masyarakat, termasuk gereja dan umat Kristen, maka urusan pelecehan negara maupun perekrutan sukarelawan perang atas nama agama bisa dihindari, setidaknya tidak diserukan oleh pihak-pihak yang kurang memahami persoalan Israel-Palestina.

 

Selamat merayakan Hari Pentakosta, sembari menemukan bahasa bersama dalam melihat fenomena sosial-politik di sekitar kita.

Author