Dan perlu diingat bahwa di dalam perjalanannya, Gereja selalu mengalami penyesuaian-penyesuaian dan pembaharuan-pembaharuan untuk menjadi Gereja yang relevan dengan konteks di mana Gereja hadir. Dan di masa pandemik CoViD-19 yang belum juga berakhir, beribadah secara online atau beribadah di rumah, mungkin masih menjadi alternative. Karena yang terpenting bukan di mana kita beribadah, melainkan apakah kita mengalami perjumpaan dengan Allah. Bukan di mana kita bisa menjumpai Allah, melainkan Allah menjumpai kita di mana pun kita berada, khususnya di rumah kita sendiri.

Gereja terkejut. CoViD-19 melanda dan tidak bisa dibendung lagi. Kehadirannya sangat mengganggu, bahkan korbanpun berjatuhan satu demi satu, tidak dapat diantisipasi. Ia mengubahkan, baik ke arah positif maupun ke arah negatif, hubungan dengan sesama, baik personal maupun komunal. Seakan-akan, pandemik CoViD-19 ini mengajak dan memaksa Gereja untuk terus berada dalam sebuah pergerakan yang membawa dan memberi perubahan. Pandemik CoViD-19 mengajak Gereja untuk tidak berhenti dan berjalan di tempat, bahkan menemukan dirinya yang sebenarnya. Pandemik CoViD-19 mengajak Gereja untuk rendah hati dan tidak pongah. CoViD-19 mengajak Gereja untuk bersikap hati-hati agar tidak terjebak ke dalam pemujaan dirinya sendiri dan membuatnya berdosa kepada Allahnya. Karena Gereja sudah menjadi allah lain bagi Gereja atau orang percaya dan di hadapan Allah (Kel. 20:3-5).

Disadari atau tidak disadari, sesungguhnya, Pentakosta tidak hanya sekedar tentang pencurahan Roh yang membuat orang-orang percaya “… berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Kis. 2:3), atau kesempatan bagi umat dan Gereja untuk membawa dan memberikan serta mengumpulkan persembahan syukur tahunan. Tetapi juga tentang Gereja yang adalah “… saksi dari semuanya ini.” (Luk. 24:48) dan Gereja sebagai kawan sekerja Allah yang harus dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus (Luk. 24:49; Kis. 1:8) dalam rangka mewujud-nyatakan karya keselamatan Allah secara holistik.

Sehubungan dengan hal itu, maka Gereja harus menjalankan misinya bukan dengan paradigma ekklesiosentris (yang berpusat pada gereja), melainkan theosentris (yang berpusat pada Allah Trinitas).

Misi Gereja yang dilaksanakan dengan paradigma ekklesiosentris hanya akan membuat Gereja sebagai pusat Misi Allah Trinitas, sebagai titik tolak dan tujuan misi. Semua kegiatan pelayanan Gereja, baik ke dalam maupun ke luar, dilihat dan dipahami dalam rangka memberi pertumbuhan bagi dirinya sendiri; cenderung mengutamakan kuantitas dari pada kualitas; cenderung menggunakan dualism dunia dan manusia, sehingga hanya (jiwa-jiwa) manusia yang akan diselamatkan dari dunia dan bukan penyelamatan holistik, yaitu manusia dan dunia; lebih menonjolkan simbolisme dan formalitas Gereja daripada fungsionalitas dan peran bahkan keterlibatan dan keikutsertaan Gereja di dalam konteks di mana Gereja dihadirkan. Gereja dengan misi ekklesiosentrisnya hanya akan membuat Gereja menjadi egoistis dan individualistis. Gereja akan terjebak ke dalam persaingan dan tidak memandang perbedaan sebagai cara Allah Trinitas berelasi dengan manusia dan dunia.

Sebaliknya, misi Gereja yang dilaksanakan dengan paradigma theosentris akan menjadikan Gereja sebagai salah satu, bukan satu-satunya, penerima Misi Allah Trinitas, yang diutus dengan tujuan untuk mewujudkan damai sejahtrera bagi seluruh umat manusia dan dunia. Sehingga misi Gereja ada, dan dilaksanakan oleh Gereja, bukan karena dan untuk Gereja atau dirinya sendiri, melainkan Gereja ada dan melaksanakan misinya karena dan untuk Misi Allah Trinitas. Misi Gereja ada bukan sebagai alat Gereja, melainkan Gereja ada sebagai alat Allah Trinitas. Dan Misi Allah Trinitas ini tidak hanya sebatas penginjilan atau evangelisasi, melainkan semua aktifitas Allah Trinitas yang dilakukan-Nya untuk mengkomunikasikan dan mewujudkan keselamatan Allah kepada manusia dan dunia atau keseluruhan atau keutuhan ciptaan-Nya, seperti pendamaian, pembebasan, keadilan dan kesejahteraan, dsb. Gereja yang melaksanakan misinya dengan paradigma theosentris akan selalu terpanggil atau dipanggil untuk berpartisipasi dan inkarnasi dan humanisasi Allah Trinitas. Tanpa Misi Allah Trinitas yang theosentris, Gereja akan statis bahkan mati.

Dengan melaksanakan Misi Allah Trinitas yang theosentris, pada satu sisi, Gereja diajak untuk bersikap prihatin terhadap kemajemukan karena Gereja percaya Gereja yang Esa. Namun, pada sisi lain, Gereja diajak untuk tetap di dalam harmoni persekutuan yang tinggal bersama, berada bersama dan saling meresapi dengan persahabatan dan bukan dengan persaingan tanpa kehilangan daya  kritis dan menghargai perbedaan atau kemajemukan yang ada. “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” (Ef. 4:3-6).

TETAPLAH MENJADI GEREJA YANG BERGEREJA DAN MENGGEREJA.

Author