“Pak Pendeta, boleh gak saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri pada tetangga saya? Sejak dulu saya selalu mengucapkannya. Bahkan tidak hanya itu, saya dan suami datang untuk bersilahturahmi. Mereka senang! Kedatangan kami disambut sumringah dan biasanya kami disuguhi ketupat Lebaran dan kue-kue. Kami ngobrol layaknya saudara! Hal ini juga terjadi ketika kami merayakan Hari Natal, mereka datang dan kami senang menyambut mereka.”

“Lalu, memang sekarang kenapa?”

“Ya, sejak beberapa tahun belakangan, setelah suami teman saya itu rajin ikut pengajian dengan teman kantornya, ia melarang istri dan anak-anaknya untuk mengucapkan Selamat Hari Natal. Haram hukumnya, begitu katanya! Jadi, sekarang apakah sebaiknya juga saya tidak usah mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri? Kan mereka juga menganggap kita berbeda dan haram. Namun, bagaimana yah? Rasanya ada yang hilang. Iya, sukacita dan persaudaraan itu yang kini makin jauh.”

“Ibu, kalau Ibu dan keluarga merayakan Natal, kemudian oleh teman atau tetangga yang berbeda keyakinan atau agama, dengan tulus mereka mengucapkan, Selamat Hari Natal! Perasaan Ibu bagaimana?”

“Ya, jelas senang Pak Pendeta. Senang banget!”

“Saya mau mengingatkan saja ajaran Tuhan Yesus yang sering kita dengar, ‘Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.’ (Matius 7:12)”

Begitulah kira-kira pertanyaan yang berulang ditujukan kepada saya menjelang perayaan Idul Fitri atau Lebaran. Persahabatan yang nyaris seperti saudara menjadi pudar justru pada hari-hari raya keagamaan yang seharusnya semakin mempererat persaudaraan dan sikap         solidaritas. Doktrin atau pemahaman yang mereduksi makna perayaan agamawi antara lain sering dituding menjadi penyebab. Terlebih belakangan ini kasus-kasus penodaan atau penistaan agama kembali mencuat. Dari Desak Made Darmawati sampai Jozeph Paul Zhang yang videonya tersebar luas di dunia maya. Seakan tidak ada lagi batasan untuk berbicara: yang lain sesat, pasti masuk neraka dan yang benar tentu agama atau tepatnya ajaran yang dianut oleh dirinya sendiri!

Haruskah kita meneruskan cara pandang dan hidup beragama seperti itu?

“Rasanya ada yang hilang!” Ya, tepat. Ada yang hilang ketika makna luhur agama dipahami secara sempal, legalitas, dan primordial. Di sinilah mestinya salah satu buah kematangan dari pemahaman iman menampakkan diri. Toleransi! Tidak ada yang salah, tidak ada nilai luhur agama yang dilanggar kalau kita turut bersukacita dengan orang yang bersukacita. Tidak ada yang salah ketika kita mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Kita turut bersukacita oleh karena mereka merayakan kemenangan. Kemenangan bukan menaklukkan musuh yang berbeda agama, melainkan menang mengalahkan diri sendiri, yakni menaklukkan hawa nafsunya sehingga kembali ke fitrahnya.

“Min – al – ‘A’idin wa-‘l-Fa’izin!” Inilah salam atau ucapan selamat yang biasa kita ucapkan ketika kawan, sahabat dan kerabat kita merayakan-nya. Biasanya, disambung dengan, “Mohon maaf lahir dan batin.” Seolah-olah mohon maaf lahir dan batin itu merupakan terjemahan dari “Min – al – ‘A’idin wa-‘l-Fa’izin!” Bukan, bukan itu artinya!

Meminjam catatan Nurcolish Madjid dalam tulisannya “Penghayatan Makna Ibadah Puasa” yang disunting oleh Budhy Munawar-Rachman (Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah), ia menerjemahkan “Min – al – ‘A’idin wa-‘l-Fa’izin!” sebagai : “Semoga kita semua tergolong mereka yang kembali ke fitrah kita – dan yang menang atas nafsu egoisme kita!” Kembali ke fitrah, itulah hakikat Idul Fitri. Bukankah sesuatu yang luhur?

Kembali ke fitrah, berarti kembali ke asal mula dan tujuan manusia itu diciptakan. Ini mirip dengan kelahiran kembali. Namun, cara mereka melakukannya adalah dengan amal ibadah. Utamanya dalam hal ini adalah puasa. Ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan diakhiri dengan Hari Raya Lebaran. Lebaran berasal dari bahasa Jawa (lebar) yang artinya “sesudah” atau “setelah”. Jadi Lebaran dipahami sebagai perayaan yang dilakukan sesudah mereka menjalani ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Lebaran atau Idul Fitri (Id – al – fithr:  Siklus Fitrah) adalah perayaan yang menggambarkan saat kembalinya fitrah atau kesucian asal manusia setelah hilang karena dosa selama setahun dengan jalan penyucian diri melalui puasa. Dalam praktiknya, untuk menyempurnakan ibadah puasa itu mereka yang mampu akan memberikan zakat fitrah. Inilah konsep bahwa ibadah kepada Allah harus juga diwujudkan dengan tanggung jawab sosial, yakni berbagi dengan mereka yang duafa agar pada hari yang berbahagia itu, mereka yang miskin pun akan turut bergembira. Kehidupan iman tidak dapat dipisahkan dari amal saleh, tali hubungan dengan Allah (habl min Allah – “hablum minallah”) yang tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan sesama manusia (habl min al-nas- “hablum minanas”).

Lebaran menggambarkan dengan jelas aspek sosial dari ibadah puasa. Umat Muslim meyakini bahwa perayaan Idul Fitri adalah ungkapan   kegembiraan dan kemenangan atas hawa nafsu dan egoisme, oleh karena itu pada saat Lebaran mestinya tidak ada seorang pun yang tertinggal   dalam kegembiraan dan kebahagiaan, tanpa berlebihan atau melewati batas. Karena itu hakikat zakat fitrah sebenarnya lebih banyak merupakan peringatan simbolik tentang kewajiban atas anggota masyarakat untuk berbagi kebahagiaan dengan kaum yang kurang beruntung, yang terdiri dari para fakir miskin. Tak pelak lagi, zakat fitrah merupakan bentuk solidaritas dengan mereka yang papa.

Jelaslah perayaan Lebaran atau Idul Fitri tidak bisa dilepaskan dari ibadah Puasa di bulan Ramadhan, yang intinya adalah pengendalian diri, penguasaan nafsu dan egoisme, serta semangat solidaritas. Sebuah perayaan yang mengembalikan manusia pada sejatinya manusia (fitrah) yakni makhluk mulia yang beribadah kepada Allah dan peduli pada sesamanya.

Bukankah sesuatu yang indah ketika kita mengucapkan pada teman dan kerabat kita, “Selamat, engkau telah berjuang untuk mengalahkan nafsu egois dan kini menjadi sosok orang yang peduli dengan penderitaan sesama!” Malah lebih lanjut, kita bisa belajar dari kehidupan iman kita. Saya sendiri belajar dari perayaan ini, mengaitkannya dengan perayaan Natal. Sebelum, Natal ada minggu-minggu penantian yang kita sebut Adven.  Banyak di antara kita justru merayakan Natal di tengah-tengah masa penantian. Sambil kelakar saya menjawab, “Adakah orang Islam merayakan Lebaran sebelum selesai Puasa?” ketika ada yang tanya, “Pak, boleh gak Natalan kali ini kita rayakan tanggal 17 Desember?”

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah, “Min – al – ‘A’idin wa-‘l-Fa’izin!”, Mohon maaf lahir dan batin!”

Author