Agama itu fenomena menarik sekaligus menyebalkan. Bisa mendorong lahirnya peradaban baru. Bisa juga membuat orang terpenjara dalam peradaban kuno. Bisa membuat orang semakin cerdas. Bisa juga membuat orang makin dungu. Inilah ambiguitas agama! Selalu mendua! Dalam masa pandemi Covid-19 ambiguitas itu nampak terang benderang. Saat pandemi Covid-19 beraksi, kaum agamawan mulai berefleksi. Ambiguitas itu menciptakan polarisasi! Ada agamawan ngawur penuh spekulasi, tetapi ada pula yang kritis dan rasional. Terjadi kubu-kubuan! Efeknya, energi habis. Bukan karena merespons pandemi Covid-19, tetapi gara-gara berdebat dan adu argumentasi minus manfaat.

Para agamawan spekulan yang paling ngawur menyatakan bahwa Covid-19 itu tidak ada. Bagi mereka yang sesungguhnya terjadi adalah konspirasi para kapitalis demi melipatgandakan keuntungan materi. Ada yang bilang ini upaya setan untuk memasukkan chips dengan lambang iblis 666 ke dalam tubuh agar hidup manusia bisa dikontrol. Agamawan spekulan yang sok tahu bergumam, pandemi ini terjadi  karena dosa. Oleh karena itu, ini yang menyedihkan, para korban penyakit ini dituding sebagai pendosa. Mereka dikutuk Tuhan. Sadis! Ada agamawan spekulan yang lebih nekad. Bagi mereka, pandemi Covid-19 ini merupakan tanda-tanda akhir jaman.  Entah ayat mana yang digunakan. Yang paling dungu adalah para pelaku politisasi Covid-19. “Pandemi ini terjadi karena Tuhan tidak suka dengan pemerintahan Jokowi,” teriaknya. Sinting! Celakanya, mereka semua menolak menerapkan protokol kesehatan. Bahkan di daerah tertentu, umat yang sudah terprovokasi menolak keras vaksinasi. Pendekatan medis ditampiknya. Itu buatan manusia! Dianggap bertentangan dengan kehendak Allah! Sebagai pengganti mereka gunakan pendekatan mistis yang diklaim sebagai pendekatan ilahiah. Berbagai ritual memohon pertolongan Allah dilakukan untuk melawan Covid.

Para teolog dan umat yang kritis dan rasional bersikap lebih lebih realistis. Mereka tetap percaya pada kuasa penyembuhan Tuhan. Mujizat masih ada! Tetapi, mereka juga percaya bahwa mujizat Tuhan bisa dilakukan melalui pendekatan medis yaitu melalui vaksin Covid-19. Bagi mereka, pendekatan ilmu pengetahuan yang bersandar pada kerja intelektual adalah juga cara yang diijinkan Tuhan untuk kebaikan umat manusia dan dunia. Kelompok kedua ini sering dituduh sebagai liberal! Tetapi, yang menuduh pasti tidak tahu makna liberal! Asal nyerocos aja!

Pertanyaannya adalah mengapa agamanya bisa sama tetapi responsnya sangat berbeda? Jawabnya adalah ini. Agama itu bukan sekedar WHAT we believe, but HOW we believe. Bukan sekedar apa yang anda percaya, tetapi bagaimana anda memercayainya. Yang kita percayai bisa sama, tetapi bagaimana memercayainya bisa beda total, bagaikan langit dan bumi. Soal HOW we believe ini yang membuat agama itu menjadi sangat demokratis, tetapi berpotensi meletup menjadi anarkis. Sayangnya, yang kedua ini yang sekarang lebih banyak terjadi.

Para agamawan dan umat selalu terbagi dua. Ada yang percaya bahwa yang dipercayainya itu sebagai kebenaran total yang tidak boleh diganggu gugat sedikit pun. Mereka ini bisa terjebak pada idolatry, pemujaan terhadap yang diyakininya. Sebaliknya, sebagian lain percaya bahwa apa yang dipegangnya adalah produk jaman tertentu. Ketika jaman berubah, cara pandang orang pun bisa berubah. Oleh karena itu, persepsi yang selama ini dipegangnya wajib dikritisi, dan mungkin perlu diperbarui. Kelompok ini tidak mau terjebak untuk mengidolakan atau mempertuhankan yang diyakininya. Mereka sadar bahwa dunia selalu berubah. Oleh karena itu, pemahaman manusia pun selalu berubah. Apalagi mereka percaya bahwa manusia tidak akan pernah mampu memahami segala sesuatu dengan sempurna. Itulah sebabnya pemahaman manusia selalu berada dalam proses. Obyek yang harus selalu dikritisi bahkan diragukan! Hanya dengan jalan itu orang akan mendekati ‘kebenaran’.  Situasi yang tidak firmed inilah yang membuat kelompok kedua ini dituding sebagai kompromis. Tentu saja, bagi kelompok ini tudingan itu ngawur. Kelompok ini tahu bahwa kesetiaan kepada Yesus Kristus harus tetap dipegang teguh. Itu Firmed! Yang boleh berubah adalah respons kita terhadap persoalan yang ada.

Agama memang menarik dan sekaligus menyebalkan. Mungkin dengan cara ini kita semua makin matang dan dewasa. Agama menarik agar kita selalu kepincut. Tetapi agama menyebalkan agar kita tidak terjebak mengidolakannya. Yang harus diidolakan hanya Yesus Kristus, Tuhan kita. Betul toh?

Author