Beberapa hari lalu, empat anggota keluarga muslim mati seketika akibat ditabrak truk yang dikemudikan seorang pemuda berusia 20 tahun. Sang pelaku memang merencanakan aksi brutalnya itu di Ontario, Kanada. Meski tidak mengenal satu pun orang yang ditabraknya, dia tahu bahwa keluarga ini beragama Islam. Pemuda penabrak ini memang pengidap Islamofobia akut. Dia mengalami ketakutan yang tidak masuk akal terhadap umat Islam. Ketakutan itulah yang memunculkan stigma sosial bahwa umat Islam adalah the enemy, musuh yang harus dibinasakan. Selain gejala Asian fobia, terutama rasa keterancaman dan ketakutan terhadap mereka yang beretnik China, masyarakat Amerika Serikat pun dijangkiti gejala Islamofobia. Berbagai fobia ini menciptakan letupan anarkisme masyarakat. Gejala ini menandakan bahwa demokrasi di Barat mulai goyah. Masyarakat sendiri yang menggoyahkannya.

Dalam buku Islamofobia, Karen Armstrong, John L. Esposito, Imam Abdul Malik Mujahid, dkk (Mizan, 2018), menjelaskan mengapa Islamofobia mulai menjangkiti sebagian kalangan, termasuk kalangan Barat (Amerika dan Eropa). Salah satu penyebabnya, adalah kemunculan representasi Islam yang keras melalui fenomena terorisme, ISIS, dan wahabisme. Representasi ini dituding sebagai radikalisme. Islamofobia cepat menyebar karena peran yang sangat besar dari media massa dan media sosial. Dominasi media, media massa dan media sosial, memberikan dampak yang sangat besar dalam transmisi budaya. Orang menerima begitu saja. Tanpa daya kritis. Efeknya, masyarakat menciptakan stigmatisasi terhadap mereka yang dianggap berbeda. Ada pelabelan imajiner. Secara sewenang-wenang, orang lain atau kelompok lain dikenakan berbagai ciri negatif. Intinya, yang distigma itu adalah ancaman. Mereka adalah musuh yang harus diwaspadai. Lalu, terjadilah polarisasi. Orang terjebak dalam dikotomi tajam antara kami Vs mereka. Kohesi sosial hancur lebur. Masyarakat saling berhadap-hadapan. Kooperasi berubah menjadi kontestasi. Rumah demokrasi sedang dihancurkan. Masyarakatlah yang melakukannya. Kita berpartisipasi di dalamnya.

Sejak periode Orde Baru (Orba), kita dikondisikan untuk hidup dalam berbagai stigmatisasi. Memang, itulah gaya Orba yang mengakomodasikan politik devide et empera-nya kolonialis Belanda. Tujuannya satu, kita tidak boleh bersatu. Kita harus terpecah-belah. Masyarakat yang bersatu dan kuat bisa memiliki daya kritis terhadap penguasa. Masyarakat yang terpecah-belah akan disibukkan oleh ancaman para setan imajiner yang mengitarinya. Ada penciptaan setan-setan sosial dan politik. Menurut Elaine Pagels dalam The Origin of Satan, pada dasarnya kata ‘setan’ berarti to oppose. Artinya, siapa pun yang bertentangan dengan penguasa atau dengan kelompok dominan akan distigma sebagai setan.  Dan pada masa Orba itulah dimunculkan berbagai ‘setan’:  PKI, SARA, China, dan kelompok Kebatinan. Para ‘setan’ jadian ini yang akan digunakan untuk mengadu domba masyarakat guna memperlemah kekuatan masyarakat sipil (Civil society).

Pada Orde Reformasi ini, ‘setan-setan’ itu mengalami metamorfosa. Muncul istilah Cebong dan Kampret. Menurut Ismail Fahmi, pendiri lembaga survey Drone Emprit, kedua istilah itu muncul bersamaan pada tahun 2018 dalam rangka kontestasi Pemilu Presiden tahun 2019. Cebong adalah label untuk pendukung Jokowi. Kampret adalah label pendukung Prabowo. Pada tahun 2019 muncul lagi istilah baru yaitu Kadrun, singkatan dari kadal gurun. Ini pun labelisasi terhadap kelompok yang dianggap anti Jokowi, sektarian, berbusana ke-arab-araban, plus pendukung khilafah. Munculnya labelisasi dan stigmatisasi ini adalah tanda kesuksesan media massa dan media sosial. Labelisasi dan stigmatisasi di atas telah menciptakan kadrun fobia. Terjadilah polarisasi yang serius. Bahkan setelah Prabowo bergabung dengan pemerintahan Jokowi polarisasi itu tetap menajam. Masyarakat terpecah. Kita semua diadu: kami Vs mereka! Saat rakyat terpecah, demokrasi goyah. Kontrol sosial melemah!

Kini istilah kadrun dimunculkan kembali. Gagalnya 75 orang pegawai KPK dalam test wawasan kebangsaan (TWK) menjadi awal timbulnya. Kadrun fobia dihembuskan, dan berhasil. Masyarakat menyambutnya. Polarisasi masyarakat kambuh lagi! Kedua pihak sama-sama yakin sedang membela kebenaran. Relativisme moral! Lalu, persoalan bergeser: dari profesionalitas menjadi soal ideologi, dari soal korupsi menjadi upaya mempertahankan demokrasi. Kita tidak tahu lagi apa yang sedang kita ributkan. Demokrasi menjadi absolut! Kita mengidap kadrun fobia yang berjuang agar siapa pun yang distigma ‘kadrun’ segera dilenyapkan. Perbedaan diharamkan. Semua pihak ingin saling mengalahkan! Kesatuan kita sangat rapuh. Demokrasi diguncang dari dalam. Dan kita sedang mengguncangnya!

Author