Pengantar

Kehidupan bergereja di GKI tidak terlepaskan dari data dan penelitian. Sewaktu GKI SW Jabar pada periode yang lalu memiliki rumusan Visi 2003, maka disusunlah Data Base Anggota Jemaat (DBAJ) dan Lembar Kehidup-an dan Kinerja Jemaat (LKKJ) yang dimaksudkan untuk mengevaluasi “Core Business  Gereja” (CBG), yakni: memfasilitasi perjumpaan manusia dengan Tuhan. Sekalipun kita sudah ada di tahun 2021, pengisian DBAJ dan LKKJ ini masih terus kita kerjakan, sekalipun di masa pandemi Covid-19, formulir LKKJ dilakukan beberapa penyesuaian (disebut: LKKJ-P). Selain DBAJ & LKKJ, kita pun mengenal pengukuran Kompetensi Inti Gerejawi (KIG) bagi penatua dan evaluasi dengan instrumen K3 (Kemampuan, Karakter dan Komitmen) bagi pendeta.

Selanjutnya, guna pengembangan pelayanan, maka kita pun mengenal survei atau penelitian – baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Di masa pandemi ini, bukan tidak mungkin umat pernah menerima tautan survei elektronik tentang berbagai hal, misalnya: Kiprah warga jemaat GKI SW Jabar menghadapi Covid-19 (dilakukan 16-18 April 2020); Ketahanan warga jemaat & peluang pemberdayaan di tengah pandemi Covid-19 (dilakukan 1-4 Mei 2020); Dampak kegiatan online terhadap spiritualitas umat (dilakukan 6-20 Desember 2020) – ketiga survei ini dilaksanakan oleh PPDI GKI SW Jabar; atau lainnya.

Bagaimana data dan penelitian ini perlu kita maknai? Apakah gereja menjadi latah ketika turut melakukan survei? Jika memang data dan survei ini penting untuk menunjang pelayanan, sejauh mana? Mari kita cermati hal-hal ini selanjutnya.

Dua Dimensi Gereja

Gereja bisa dimaknai sebagai persekutuan orang-orang yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib (lih. 1 Ptr. 2:9b) atau sederhananya: persekutuan orang-orang percaya. Ini adalah dimensi pertama dari gereja, yaitu organisme; sesuatu yang sudah umum dipahami. Namun gereja pun bisa dimaknai sebagai organisasi. Pada awal keberadaan gereja, Tuhan menambahkan anggota-anggota baru ke dalam gereja (lih. Kis. 2:41; 5:14; 6:1); munculnya jabatan-jabatan gerejawi (lih. Kis. 6:1-7; 14:23; 1 Tim. 3:1-13; Tit. 1:5-16);     pengorganisasian bantuan untuk mendukung gereja di Yerusalem (lih. Kis. 24:17; 1 Kor. 16:1-4; bnd. 2 Kor. 8:1-15); dsb.. Pada masa kini, dimensi organisasi dari gereja ditampakkan oleh adanya berbagai denominasi atau “merk” gereja.

Mengingat, gereja memiliki dimensi organisasi, maka hal-hal terkait dengan organisasi pada umumnya, seperti: perencanaan, pengumpulan data, penelitian, perumusan sub-tema pelayanan, perumusan nilai-nilai organisasi, pengembangan dsb., menjadi suatu keniscayaan untuk di-lakukan. Oleh karena itu, data dan penelitian seyogianya bukanlah dipandang sebagai “benda asing” atau sesuatu yang perlu dihindari, melainkan bagian yang perlu dirangkul dan diperhatikan dalam pelaksanaan pelayanan; termasuk oleh gereja sekalipun.

Penelitian dan Pengembangan sebagai Sebentuk Mandat Budaya

Dalam Kejadian 1:28, Allah memberikan mandat kepada Adam dan Hawa: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. Bagaimana Adam dan Hawa dapat menaklukkan bumi? Bagaimana mereka dapat berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi?

Syukurlah, mereka (secara khusus) dan manusia (secara umum) diciptakan lengkap dengan akal budi oleh Allah. Dengan akal budi yang dimiliki itulah, Adam dan Hawa coba mengelola tanah. Mereka belajar dengan sistem trial and error supaya bisa berkuasa atas aneka binatang di laut, udara dan darat. Jika pada masa kini, nelayan sudah terbiasa membuat dan menggunakan perahu serta jala untuk menangkap ikan, maka bukan tidak mungkin prototype-nya sudah dimulai oleh Adam dan Hawa di masa lalu dalam bentuk yang sangat sederhana. Oleh karena akal budi yang dimiliki manusia, maka teknologi penangkapan ikan lantas berkembang dari masa ke masa. Contoh: kapal penangkap ikan tidak lagi harus didayung atau mengandalkan tiupan angin, tapi sudah menggunakan motor.

Secara sederhana, Adam dan Hawa, serta keturunannya, melakukan penelitian dalam rangka pengembangan teknologi. Jika peralatan dan metode yang satu kurang menghasilkan, maka manusia mengembangkan peralatan dan metode yang lainnya untuk lebih menopang kebutuhan manusia. Di sinilah praktik budaya berkembang, sebagai kelanjutan mandat budaya ilahi yang diterima oleh Adam dan Hawa.

Dengan kata lain, dari kisah Penciptaan, kita belajar secara tidak langsung bahwa apa yang namanya penelitian dan pengembangan merupakan konsekuensi logis dari dimilikinya akal budi oleh manusia, sebagai pemberian Allah yang berharga. Pada titik ini, kita perlu bersyukur sebab sejumlah Jemaat GKI sudah memiliki – entah disebut bidang / unit / departemen / pokja / tim – penelitian dan pengembangan (litbang) atau nama lain dengan maksud sejenis. Ini menunjukkan kesadaran tentang pentingnya penelitian dalam rangka pengembangan pelayanan agar terus relevan dengan kebutuhan jemaat dan masyarakat di mana gereja berada.

Data dan Penelitian: Pengamatan, Penyusunan Desain Penelitian, Penelitian, dan Perencanaan

Dalam Alkitab, ada satu kitab yang berisi aneka penghitungan untuk berbagai keperluan. Kitab tersebut adalah Bilangan, atau dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris disebut dengan Book of Numbers. Dalam bahasa Indonesia, kata “bilangan” merupakan kata benda yang berarti: (1) banyaknya benda dsb jumlah; (2) satuan jumlah; (3) satuan dalam sistem matematika; dan aneka arti lainnya yang tidak terlalu relevan dengan pembahasan kita. Sementara kata “bilang” merupakan kata kerja yang berarti: (1) menghitung; (2) beberapa; dan (3) perhitungan.

Jika kita membaca kitab ini, di dalamnya memang terdapat berbagai penghitungan, misalnya: Bil. 1:2-3 -> penghitungan dalam rangka antisipasi peperangan; atau Bil. 4:3 -> penghitungan dalam rangka pengorganisasian tugas pelayanan. Penghitungan sesungguhnya merupakan pengumpulan data secara sederhana. Itu berarti, Alkitab memberi penekanan yang kuat tentang pentingnya data bagi suatu karya pelayanan.

Masih dalam kitab ini, yakni dalam Bilangan 13:27-20, dikisahkan tentang pengutusan 12 pengintai oleh Musa ke Tanah Negeb (Kanaan). Dari teks ini, tampak ada 1 tugas utama dengan 3 fokus pengamatan yang perlu dilakukan oleh kedua belas pengintai. Tugas utama tersebut adalah mengamat-amati bagaimana keadaan negeri Kanaan. Sementara fokusnya ada pada 3 hal berikut ini, yakni:

  1. Mengamati apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah; apakah jumlahnya sedikit atau banyak.
  2. Mengamati apakah negeri itu baik atau buruk, apakah kota-kota yang didiaminya merupakan tempat yang terbuka atau berkubu.
  3. Mengamati bagaimana tanah itu, apakah gemuk (subur) – ditandai dengan adanya pohon-pohonan atau kurus (gersang) – ditandai dengan ketiadaan pepohonan.

Jadi, kedua belas pengintai itu melakukan tugas intelijen pada masanya; sekaligus penelitian (mengungkap fakta-fakta) di dalamnya. Mereka harus membawa data-data kepada Musa berupa sedikit hasil negeri itu.

Empat puluh hari lamanya, kedua belas pengintai itu menjelajah negeri Kanaan untuk mencari aneka fakta dan mengumpulkan data-data (lih. Bil. 13:25-29). Tugas mereka berhasil! Mereka berhasil mendapatkan aneka fakta dan membawa data-data. Fakta-fakta yang mereka sampaikan adalah:

  1. Negeri Kanaan itu berlimpah-limpah susu dan madunya.
  2. Bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu.
  3. Keturunan Enak terlihat ada di sana (mereka ini tubuhnya besar dan kuat karena keturunan raksasa; lih. Bil. 13:33; bnd. Kej. 6:4).
  4. Orang Amalek tinggal di tanah Negeb; orang Het, Yebus dan Amori diam di pegunungan; orang Kanaan bermukim di pesisir pantai dan sepanjang tepi sungai Yordan.

Adapun data yang mereka bawa, berupa hasil alam negeri itu (yakni: buah-buahan; lih. Bil. 13:23) yang diperlihatkan kepada Musa dan bangsa Israel (ay. 26b).

Hal yang menarik adalah bahwa aneka fakta dan data yang disampaikan oleh para pengintai itu lantas membuat bangsa Israel yang mendengarnya resah dan gelisah. Ini tampak ketika dikatakan “Kemudian Kaleb mencoba menentramkan hati bangsa itu di hadapan Musa” (Bil. 13:30a). Tampaknya, bangsa Israel menginterpretasi fakta dan data itu sebagai ketidakmungkinan bagi mereka untuk masuk dan menduduki tanah Kanaan.

Akan tetapi, Kaleb memiliki interpretasi yang berbeda dengan yang dipahami oleh rakyat. Ia berkata, “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bil. 13:30b). Sayangnya, interpretasi Kaleb tergolong minor. Para pengintai lainnya berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita” (Bil. 13:31).

Dari kisah tentang kedua belas pengintai, ada beberapa hal yang perlu kita garisbawahi terkait dengan penelitian, yakni:

  • Mencari dan mengumpulkan data dan fakta adalah penting sebagai landasan suatu rencana atau tindakan. Dalam Injil, ketika Yesus tengah melayani orang banyak, dan Ia berbelarasa dengan mereka yang sudah mulai kelaparan, Ia bertanya kepada para murid-Nya, “Berapa banyak roti yang ada padamu?” (Mrk. 6:38). Para murid menjawab, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan” (Mat. 14:17). Di sini, Yesus sedang mengumpulkan data dan fakta untuk menyusun rencana selanjutnya. Kita tentu tahu apa yang terjadi kemudian, bukan? Yesus berdoa dan memberkati apa yang tersedia, lalu mengorganisir orang banyak untuk duduk secara berkelompok; sekitar lima puluh orang per kelompok (lih. Luk. 9:14).
  • Data dan fakta yang telah terkumpul, menjadi berguna ketika dilakukan interpretasi.
  • Interpretasi yang diupayakan mungkin saja berbeda hasilnya, sekalipun berangkat dari data dan fakta yang sama. Di sini, kuncinya adalah perspektif apa yang mau dipakai untuk melakukan interpretasi data dan fakta.

Lebih lanjut, jika kita hendak melakukan survei, maka desain penelitian perlu dibuat secara cermat, meliputi: fenomena apa yang terjadi, data dan fakta apa saja yang hendak digali, teori yang terkait, tujuan penelitian, pertanyaan kunci dan alat ukur. Selanjutnya, mengingat data dan fakta bisa dan perlu diinterpretasi, perlu ada tim yang mengolah data, menganalisis dan menginterpretasi sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian itulah yang kemudian perlu disikapi secara kritis untuk perencanaan dan pengembangan pelayanan. Pengertian ini sejalan dengan apa yang Yesus juga ajarkan dalam Lukas 14:28, yakni: “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”

Penutup

Data dan penelitian pada gilirannya terkait erat dengan perencanaan dan pengembangan pelayanan. Dalam tradisi di GKI SW Jabar, kita memiliki DBAJ dan (kini) LKKJ-P. Juga alat evaluasi kinerja pelayanan penatua (KIG Penatua) dan pendeta (K3). Seluruhnya perlu diisi secara periodik, dianalisis, dan dijadikan acuan dalam rencana pengembangan pelayanan. Tentu setiap Jemaat dan Klasis pun bisa mengadakan survei sesuai kebutuhan untuk kepentingan pelayanannya.

Pemerintah saat ini tengah mendorong masyarakat (melalui lembaga pendidikan) untuk memiliki tradisi riset (penelitian), sehingga terjadi restrukturisasi kementerian; semula: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kini: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Alangkah indahnya jika gereja bisa turut berkontribusi optimal dalam pengembangan tradisi riset atau survei tersebut, yakni dengan menghidupi data dan penelitian dalam pelayanannya. Soli Deo Gloria.

Author