“True faith is a constant dialogue with doubt, for God is incomparably greater that all our preconceptions about him; our mental concepts are idols that need to be shattered. So as to be fully alive, our faith needs continually to die.”

(Kallistos Ware)

 

Koran New York Times (25 Sept. 2014) pernah mengangkat satu artikel menarik. Dalam artikel itu disebutkan ucapan Pendeta Justin Welby, Arbishop Canterbury dari gereja Anglikan yang cukup menggoncangkan. Pendeta Justin Welby mengatakan bahwa ada saat dan ada situasi di mana dia mempertanyakan apakah Allah sungguh-sungguh ada. Tentu saja, ucapan seorang pemimpin gereja Anglikan, Inggris dengan 80 juta anggota jemaat yang tersebar di seluruh dunia menjadi perbincangan hangat banyak orang. Sebagian yang nyinyir mengatakan bahwa ucapannya ini menandakan bahwa kemungkinan sedikit waktu lagi ia akan meninggalkan imannya. Ada yang berkomentar bahwa atheisme mulai mempengaruhi pemimpin gereja. Tetapi, sebagian lainnya justru mendukung Pendeta Welby. Mereka mengatakan bahwa ucapannya ini menunjukkan bahwa meski Welby pemimpin gereja tetapi ia adalah manusia yang sama seperti kita. Welby adalah orang yang mengalami kesedihan, kemarahan, dan juga ketidak-mengertian saat diperhadapkan dengan berbagai persoalan dan masalah. Pendeta Welby pernah terpukul saat anaknya yang baru berusia 7 bulan meninggal dalam kecelakaan mobil di tahun 1983. Saat masih remaja, dia juga pernah mengalami situasi kelam kerena memiliki ayah yang pemabuk. Jadi, wajar saja sebagai manusia biasa Pendeta Welby kadang meragukan keberadaan Allah.

Ketika orang bertanya langsung kepadanya, Pendeta Welby menunjuk pada Mazmur 88 di mana pemazmur berada dalam keadaan kehilangan harapan karena kehilangan semua sahabatnya. Pemazmur yang frustrasi berat berkata:” Mengapa, Tuhan, Kau tolak aku dan menyembunyikan wajahmu dariku?” Pemazmur bahkan katakan “kegelapan adalah sahabatku.” Iman tidak menghalangi kegelapan atau keragu-raguan. Saat di salib, Yesus justru berteriak:”Ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Para muridNya pun diliputi oleh keragu-raguan.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan keragu-raguan Pendeta Justin Welby. Kita semua pun kadang memiliki keragu-raguan. Dan ini sehat. Terlalu menekankan kepastian itu  justru sangat berbahaya karena menghilangkan daya kritis. Sama seperti keberanian tetap bertahan di tengah ketakutan, iman pun tetap sintas di hadapan keraguan. Iman menjadi sebuah komitmen dan tindakan yang dipertahankan oleh iman. Keraguan jangan hanya dilihat sebagai tanda adanya gejolak atau rapuhnya iman, tetapi juga harus dilihat sebagai suatu kekuatan. Justru adanya keraguan itulah yang mengingatkan pada keterbatasan kita sendiri. Keraguan itu berfungsi untuk menantang dan mengkritisi  keyakinan yang kita pegang teguh. Itulah sebabnya, keraguan bukanlah pengganggu iman, sebaliknya keraguan adalah bagian dari iman itu sendiri. Keraguan menciptakan kehati-hatian, tetapi juga mendorong kita untuk terus mengeksplorasi dan memperdalam apa yang kita yakini. Jauh lebih baik memahami sungguh-sungguh yang kita imani daripada memiliki iman yang buta karena kurangnya pengetahuan. Pada dasarnya orang lebih menyukai suatu kepastian. Oleh karena itu, betapa pun keragu-raguan membuat seseorang ‘menderita,’ tetapi keragu-raguan adalah awal dari suatu proses di mana iman justru mengalami pendalaman.

Dalam cerita Alkitab, Thomas adalah salah satu murid Tuhan yang meragukan kebangkitan Yesus. Tidak ada yang salah dalam keragu-raguannya. Sebaliknya karena keraguannya itulah Yesus memberinya kesempatan untuk melihat dan meraba bekas luka di tangan dan di lambungNya. Iman diperdalam oleh keragu-raguan. Dalam buku catatan hariannya, Suster Teresa pun pernah mengalami keragu-raguan. Suster Teresa tersiksa oleh kesuraman dan rasa sakit yang terus menerus untuk melihat, atau merasakan kehadiran Tuhan. Dalam catatan hariannya pada tahun 1953, dia menulis, “Tolong doakan saya secara khusus agar saya tidak merusak pekerjaanNya dan agar Tuhan kita menunjukkan diriNya – karena ada kegelapan yang begitu mengerikan di dalam diri saya, seolah-olah semuanya telah mati. Situasi seperti ini sudah saya rasakan sejak saya memulai pelayanan saya.” Meski imannya berada dalam keragu-raguan, Suster Teresa tetap bekerja keras untuk melayani dan menjadi berkat bagi ribuan orang miskin. Memang, kadang iman dan keragu-raguan berjalan berdampingan. Mengapa? Karena orang bukan saja membutuhkan kepastian, orang juga membutuhkan iman yang masuk akal, yang memberi kita pengaruh yang positif di tengah dunia yang rapuh ini.

Kita harus bisa menerima keragu-raguan sebagai sesuatu yang positif dan konstruktif karena tanpa adanya faktor keraguan kita menutup ruang terhadap kesalahan dan kealpaan. Keragu-raguan menolong kita mengkritisi apapun. Terlalu mempertahankan kepastian terhadap yang kita percayai bisa menjebak kita pada kekakuan, intoleransi dan perasaan merasa benar sendiri, bahkan idolatry. Sebaliknya, keraguan mendorong kita memperdalam dan memperjelas yang kita yakini. Filsuf Bertrand Russel pernah mengatakan:”Seluruh persoalan dunia ini berakar pada banyaknya orang bodoh yang sok tahu dan sombong dengan keyakinannya, sementara orang pandai justru penuh dengan keraguan.”  Jadi, hidup dalam keragu-raguan bukanlah suatu kelemahan dan bukan juga suatu dosa. Sebaliknya, dalam keragu-raguan iman kita butuh terus-menerus diperdalam.


Dikutip dari Albertus M. Patty, “Ngopi Bareng Allah.” Grafika Kreasindo (2021) H. 68-71

Author