Ketika di Perjanjian Lama

Di dalam Perjanjian Lama bangsa Israel diceritakan meyakini bahwa mereka menjadi umat Allah karena kesetiaan-Nya yang membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir dan menjadi bangsa yang merdeka ke tanah yang dijanjikan. Itulah ajaran iman turun temurun mereka, mereka sangat bangga bahwa yang menjadi raja mereka adalah Allah. Itulah gagasan awal mengenai apa yang disebut dengan “Kerajaan Allah”. Hal ini disebut sebagai “teokrasi”. Kata “teokrasi” berasal dari bahasa Yunani “theokratia”. “Theos” artinya Tuhan dan “kratein” artinya  memerintah. Jadi bisa dikatakan bahwa yang memerintah atas Israel itu adalah Tuhan.

Akan tetapi dalam berjalannya waktu, bentuk pemerintahan ini minta diubah oleh bangsa Israel sendiri karena mereka melihat bahwa bangsa-bangsa di sekitar mereka mempunyai raja manusia yang memimpin. Hal ini mendukakan hati Tuhan dan tertuang dalam 1 Sam 8: 6 & 7 “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” lalu TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka”.

Disini bangsa Israel dengan sengaja menolak posisi Tuhan sebagai Raja di dalam hidup mereka. Maka berubahlah bentuk pemerintahan dari teokrasi kepada bentuk monarki. Monarki bersumber dari bahasa Yunani “monos” yang bisa diartikan sebagai satu, dan “archein” yang bisa diartikan sebagai pemerintah. Jadi jika dikaitkan pengertian kedua kata tersebut, maka monarki adalah sistem pemerintahan yang dipimpin oleh seorang raja manusia.

Dengan berjalannya waktu, bangsa Israel mengharapkan Allah berkarya kembali seperti dulu lagi yang dirasa sangat istimewa, sebab mereka tidak dapat mendapati diri mereka dirajai oleh Allah, tapi diperintah bangsa lain yang tak mengenal iman mereka.

Namun demikian, pengalaman buruk tersebut membawa mereka kepada kesadaran baru.

  1. Munculnya harapan bahwa Allah akan bertindak seperti dulu lagi. Mereka tetap percaya bahwa Allah akan menolong dan Kerajaan Allah akan terbangun kembali. Memang mereka tidak tahu kapan waktunya, tapi mereka yakin bahwa akan datang Mesias dari Allah yang akan membangun kejayaan mereka kembali seperti dulu.
  2. Seperti suara-suara para nabi bahwa umat Israel perlu bertobat, sebab malapetaka yang mereka alami itu adalah akibat dari ketidaksetiaan mereka kepada Allah. Mereka diajak untuk memeriksa diri apakah kasih setia mereka kepada Allah itu sepadan dengan kasih setia yang Allah berikan kepada hidup mereka.

 

Ketika di Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, kata Kerajaan Allah bisa kita temukan banyak sekali. Kata Kerajaan Allah tersebut berasal dari terjemahan kata Yunani, yaitu dari kata Basileia Tou Theo. Basileia bisa diartikan sebagai kerajaan atau takhta yang bisa merujuk pada sebuah pemerintahan, dan tentunya adalah pemerintahan Allah. Jika kita melihat dari pengertian tersebut, maka kita bisa mengatakan bahwa basileia tou theo adalah Tuhan Allah yang memerintah di atas takhta kerajaan-Nya sebagai Raja.

Di dalam pelayanan-Nya di dunia, Tuhan Yesus menyerukan Kerajaan Allah sebagai pemberitaan-Nya kepada manusia. Perikop dalam Injil Matius 13:44-52 Tuhan Yesus mengajarkan Kerajaan Allah dengan beberapa perumpamaan. Perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus disini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah itu ditunjukkan kepada siapa saja dan meliputi semua orang. Perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah:

  1. Perumpamaan pertama bahwa Kerajaan Allah diumpamakan harta terpendam di ladang ditujukan kepada pengalaman kehidupan para petani.
  2. Perumpamaan pembeli ladang ditujukan pada pengalaman pelaku pasar yang memperoleh pengertian tentang Kerajaan Allah dan penuh sukacita membelinya.
  3. Perumpamaan yang ketiga tentang pedagang mutiara ditujukan untuk pengalaman orang yang sedang mencari, mendapatkannya dan akhirnya mengorbankan segala sesuatu untuk memilikinya.
  4. Dan yang terakhir perumpamaan tentang pukat yang menyentuh pengertian Kerajaan Allah bagi pengalaman para nelayan.

Dengan pengajaran Kerajaan Allah yang menggunakan perumpamaan, Tuhan Yesus ingin memberikan makna mengenai Kerajaan Allah dalam pengalaman masing-masing orang seturut dengan macam-macam kehidupannya. Disini, Kerajaan Allah lebih sebagai pengalaman kuasa Tuhan yang merajai pikiran, hati dan pilihan-plihan kehidupan yang dapat dimengerti melalui macam-macam situasi. Oleh karena itu Kerajaan Allah adalah kuasa dan pemerintahan Allah yang menyelamatkan, yang nampak dan berwujud di dalam lingkungan dan suasana hidup yang di dalamnya terdapat kasih, kebenaran, keadilan, damai sejahtera, kesukacitaan, pemulihan dan pembaruan hidup (Rm 14:7; 1 Kor 4:20). Maka dari itu hal ini perlu kita maknai dengan sungguh-sungguh supaya jangan pernah mengganti posisi Tuhan sebagai Raja di dalam hidup kita.

Kerajaan Allah pada dasarnya sudah datang melalui Tuhan Yesus dan menjadi sangat nyata dalam kehidupan dunia umat manusia dan terbukti pada peristiwa penyaliban Tuhan Yesus di bukit Kalvari. Jadi Kerajaan Allah berdiri pada suatu realitas dan bukan pada suatu teori atau perkiraan manusia. Pada kematian-Nya Tuhan Yesus telah mengalahkan kuasa maut sehingga terjadi apa yang namanya penebusan dan keselamatan. Oleh sebab itu di dalam kedatangan, kematian, kebangkitan sampai kedatangan-Nya kembali terdapat sebuah kepastian kemenangan. Walaupun demikian, penyataan Allah secara penuh baru akan terjadi ketika “dalam nama Yesus bertekuk lutut, segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa” (Fil 2:10-11). Jadi karya penyelamatan yang diberikan Allah dalam Yesus Kristus kepada dunia bersifat menyeluruh. Hal ini dinyatakan dengan kehadiran Kerajaan Allah yang akan mendapatkan pemenuhannya pada langit dan bumi yang baru (2 Pet 3:13; Why 21:1).

Oleh karena itu dalam menyongsong penggenapan Kerajaan Allah ini, gereja dan orang-orang percaya      mesti secara tekun bekerja dalam menegakkan tanda Kerajaan Allah di dalam kehidupan sehari-hari. Artinya kita sebagai persekutuan orang percaya dipanggil untuk menjalankan suatu kehidupan yang baru sesuai dengan tuntutan Kerajaan Allah. Hidup baru yang berpadanan dengan tuntutan Kerajaan Allah adalah hidup yang dipimpin oleh Roh Allah yang kudus yang membuahkan kasih, sukacita, damai sejahtera, keadilan dan kebenaran.

 

Penutup

Dalam masa pandemi yang sedang terjadi saat ini, hidup yang berpadanan dengan Kerajaan Allah menjadi sebuah tantangan bagi kita. Sebagai gereja, secara khusus GKI, ditantang untuk terus tahan uji di tengah pergumulan yang sedang kita alami bersama. Kita juga ditantang untuk terus berani bersaksi dan memberitakan kedatangan Kerajaan Allah serta tetap setia menjalankan pelayanan dalam kasih, kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera terhadap semua orang. Tatanan baru yang sekarang dijalani bersama harus membuat kita semakin bertumbuh, semakin bersinergi dan berkreativitas dalam memperjumpakan umat dengan Tuhan dalam setiap lingkup. Sejarah mencatat, bahwa ketika gereja menghadapi banyak tantangan, disitulah gereja semakin kelihatan dalam hidup berdasarkan tuntutan Kerajaan Allah dan mewartakannya di tengah-tengah dunia.

Sedangkan sebagai orang percaya yang telah diselamatkan oleh Kristus dan diangkat menjadi anak-Nya, maka kita juga harus turut terlibat dengan aktif dalam merawat kehidupan sesama kita yang sudah Tuhan hadirkan. Salah satunya adalah dengan menjalani protokol kesehatan secara ketat dan benar. Ketika ada begitu banyak orang yang kehilangan pengharapan, disinilah kita sebagai pribadi yang telah mengalami hidup baru membawa Yesus Kristus yang bukan saja sebagai Raja hidup kita, tetapi juga sebagai Raja di dalam Kerajaan-Nya yang Agung kepada mereka yang membutuhkan.

 

Catatan Tambahan

Istilah “Kerajaan Sorga” ini hanya ada di Injil Matius, dan tidak ditemukan di bagian Alkitab lainnya. Bagi orang Yahudi kata “Allah” sangat sakral untuk digunakan secara sembarangan. Penggunaan istilah “Kerajaan Sorga” oleh Matius dikarenakan orang Yahudi tidak mau menyebut langsung nama Allah. Karena hal ini terkait dengan salah satu hukum mereka yang mengatakan “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan” (Kel 20:7). Itulah sebabnya Matius menggunakan lebih sering istilah “Kerajaan Sorga” karena tulisannya ia tunjukkan kepada orang Yahudi. Namun ada contoh dimana kedua istilah ini digunakan oleh Matius: Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mat 19:23-24)

Sedangkan Markus dan Lukas menggunakan istilah “Kerajaan Allah” daripada “Kerajaan Sorga” yang sebenarnya makna dari kedua istilah ini adalah sama. Alasan menggunakan istilah “Kerajaan Allah” disebabkan karena pendengar Markus dan Lukas berasal dari kalangan non-Yahudi sehingga mereka dapat lebih mudah untuk mengerti.

 

 

 

Author